Ancaman 'Overcapacity' Tiongkok: Eropa Meradang, Investor Waspada!

Ancaman 'Overcapacity' Tiongkok: Eropa Meradang, Investor Waspada!

Ancaman 'Overcapacity' Tiongkok: Eropa Meradang, Investor Waspada!

Para trader di Indonesia, pernahkah kalian merasa pasar sedang bergerak liar tanpa arah yang jelas? Nah, belakangan ini ada satu isu yang mulai memanas dan berpotensi menggoncang pasar keuangan global, terutama yang berkaitan dengan mata uang dan komoditas. Isu ini datang dari Eropa, tepatnya dari Jerman, negara dengan ekonomi terbesar di benua biru itu. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, baru-baru ini menyuarakan kekhawatirannya mengenai "overcapacity" atau kelebihan kapasitas produksi di Tiongkok. Pernyataan ini bukan sekadar omongan biasa, tapi bisa jadi sinyal bahwa Eropa sedang mempersiapkan langkah taktis yang mungkin berdampak luas pada perdagangan internasional, dan tentu saja, pergerakan aset yang kita pantau setiap hari.

Apa yang Terjadi?

Jadi begini, ceritanya Merz, pemimpin partai CDU dan punya posisi strategis di Jerman, baru saja melakukan pertemuan dengan petinggi Tiongkok. Dalam pertemuannya, ia secara gamblang menyampaikan bahwa kelebihan kapasitas produksi barang-barang Tiongkok saat ini menjadi masalah serius bagi Eropa. Bayangkan saja, Tiongkok memproduksi barang dalam jumlah masif dengan harga yang sangat kompetitif. Nah, ketika barang-barang ini membanjiri pasar Eropa, produk-produk lokal Eropa jadi sulit bersaing. Ini seperti ada pemain sepak bola yang punya stok sepatu olahraga segudang dengan harga miring, otomatis toko sepatu lokal jadi sepi pembeli dong? Begitulah kira-kira analoginya.

Yang menarik, Merz tidak hanya mengeluh. Ia juga menekankan pentingnya Jerman dan Tiongkok untuk bekerja sama dalam mengatasi masalah ini. Ini menunjukkan ada upaya diplomasi di balik kekhawatiran tersebut. Ia bahkan membuka kemungkinan adanya pembicaraan tingkat pemerintahan Jerman-Tiongkok di akhir tahun ini. Harapannya, tentu saja, agar ada solusi yang bisa menguntungkan kedua belah pihak, atau setidaknya meredakan ketegangan ekonomi yang mulai muncul.

Selain isu overcapacity, Merz juga rupanya memanfaatkan kesempatan ini untuk mengingatkan Xi Jinping tentang urgensi mengakhiri perang di Ukraina. Ini menunjukkan betapa kompleksnya hubungan diplomatik dan ekonomi antara negara-negara besar saat ini. Konflik di Ukraina sendiri sudah menjadi momok tersendiri bagi stabilitas ekonomi global, dan kini muncul isu lain yang menambah daftar panjang tantangan.

Latar belakang dari isu overcapacity ini sebenarnya sudah cukup lama dibicarakan. Setelah pandemi COVID-19, Tiongkok berusaha bangkit dan mendorong kembali sektor manufakturnya. Dengan dukungan pemerintah dan investasi besar-besaran, kapasitas produksi mereka melesat tajam, terutama di sektor-sektor strategis seperti energi terbarukan (panel surya, kendaraan listrik) dan industri baja. Nah, surplus produksi ini mau tidak mau harus dijual ke pasar global. Sayangnya, pasar domestik Tiongkok mungkin tidak cukup kuat menyerap seluruh produksi tersebut, sehingga ekspor menjadi pilihan utama.

Dampak ke Market

Lantas, apa dampaknya buat kita, para trader? Pernyataan Merz ini bisa memicu sentimen negatif terhadap aset-aset yang memiliki korelasi erat dengan perdagangan internasional dan ekonomi Eropa.

Pertama, tentu saja Euro (EUR). Jika Eropa merasa terancam oleh banjir barang Tiongkok, mereka mungkin akan mengambil langkah proteksionis. Ini bisa berupa tarif impor yang lebih tinggi atau pembatasan lainnya. Kebijakan semacam ini bisa menekan laju pertumbuhan ekonomi di Zona Euro, yang pada gilirannya bisa membebani EUR terhadap mata uang safe-haven seperti Dolar AS. Jadi, EUR/USD bisa saja mengalami tekanan jual.

Kedua, Dolar AS (USD). Dalam ketidakpastian global seperti ini, Dolar AS seringkali menjadi pilihan utama investor sebagai aset aman. Jika tensi perdagangan antara Eropa dan Tiongkok meningkat, aliran dana ke AS sebagai pelabuhan aman bisa semakin deras, memperkuat USD terhadap mata uang lain, termasuk EUR, GBP, dan JPY. Jadi, USD/JPY bisa menguat, sementara EUR/USD dan GBP/USD berpotensi melemah.

Ketiga, Pound Sterling (GBP). Inggris juga memiliki hubungan dagang yang signifikan dengan Tiongkok dan pasar Eropa. Sentimen negatif terhadap perdagangan global bisa juga membebani GBP. GBP/USD bisa bergerak searah dengan EUR/USD, yaitu cenderung melemah jika sentimen pasar memburuk.

Keempat, Emas (XAU/USD). Emas, sebagai aset safe-haven klasik, akan diuntungkan jika ketidakpastian ekonomi global meningkat. Jika isu overcapacity Tiongkok ini berkembang menjadi perang dagang yang lebih luas, atau jika situasi geopolitik (termasuk perang Ukraina) memburuk, emas berpotensi melonjak. Level-level teknikal penting seperti area support 1800-1820 USD per ons, dan jika mampu ditembus ke atas, potensi menuju 1900 USD per ons bisa terbuka.

Menariknya, isu overcapacity Tiongkok ini juga bisa mempengaruhi pasar komoditas lain, seperti minyak mentah dan logam industri. Jika ekonomi Tiongkok melambat karena ketegangan perdagangan, permintaan komoditas bisa menurun. Namun, di sisi lain, jika Eropa melakukan proteksionisme dan membatasi impor, hal itu mungkin tidak serta merta menghentikan ekspor Tiongkok ke pasar lain, yang bisa menjaga keseimbangan pasokan. Ini membuat pergerakan komoditas menjadi lebih kompleks dan perlu analisis lebih mendalam.

Hubungan dengan kondisi ekonomi global saat ini sangat erat. Kita sedang berada di tengah-tengah kondisi inflasi yang mulai terkendali tapi masih membayangi, kebijakan pengetatan moneter dari bank sentral di berbagai negara, serta ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi akibat perang di Ukraina dan ketegangan di kawasan lain. Munculnya isu overcapacity Tiongkok ini menambah daftar panjang faktor risiko yang bisa memicu volatilitas di pasar keuangan.

Peluang untuk Trader

Nah, buat kita yang aktif di pasar, situasi seperti ini justru bisa membuka peluang. Yang perlu dicatat adalah, pernyataan seperti ini biasanya tidak langsung memicu pergerakan harga yang masif, melainkan membangun sentimen secara bertahap.

Pertama, perhatikan pair EUR/USD. Jika pasar mulai merespons negatif terhadap isu ini dan muncul tanda-tanda kebijakan proteksionis dari Eropa, trader bisa mencari peluang untuk short EUR/USD. Perhatikan level support teknikal di sekitar 1.0700 dan 1.0650 sebagai target potensial jika tren bearish terbentuk. Stop loss yang ketat sangat penting untuk membatasi risiko.

Kedua, USD/JPY. Jika sentimen risk-off menguat akibat isu ini dan ketegangan geopolitik, USD/JPY bisa menjadi pilihan untuk diperhatikan. Tren penguatan USD bisa terus berlanjut, terutama jika Federal Reserve AS masih cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diperkirakan. Target penguatan bisa menguji level 150 atau bahkan lebih tinggi jika sentimennya kuat.

Ketiga, XAU/USD. Seperti yang disebutkan sebelumnya, emas adalah penerima manfaat utama dari ketidakpastian. Jika perkembangan isu overcapacity Tiongkok ini terus memburuk, atau jika ada berita negatif lain dari front geopolitik, emas bisa jadi pilihan menarik untuk long. Perhatikan area resistance di 1950-1960 USD per ons sebagai target awal jika harga berhasil menembus ke atas.

Penting untuk diingat, ancaman overcapacity Tiongkok ini adalah isu jangka menengah hingga panjang. Pasar mungkin akan mencerna berita ini secara bertahap. Peluang trading terbaik akan muncul ketika pasar bereaksi secara signifikan terhadap perkembangan lebih lanjut, misalnya ketika Uni Eropa mengumumkan kebijakan konkret, atau ketika negosiasi antara Jerman dan Tiongkok menemui jalan buntu. Selalu lakukan analisis teknikal dan fundamental yang mendalam sebelum mengambil posisi.

Kesimpulan

Jadi, intinya, pernyataan Kanselir Jerman Merz mengenai "overcapacity" Tiongkok ini bukan sekadar berita sampingan. Ini adalah sinyal kuat bahwa Eropa mulai merasakan dampak langsung dari kebijakan ekonomi Tiongkok dan sedang mempertimbangkan langkah balasan. Situasi ini bisa memicu perubahan sentimen di pasar keuangan global, terutama terkait mata uang utama seperti EUR, USD, dan GBP, serta aset safe-haven seperti emas.

Kita sebagai trader perlu tetap waspada dan terus memantau perkembangan isu ini. Jangan sampai terkejut jika pergerakan harga mulai volatil. Perhatikan berita-berita terkait kebijakan dagang Uni Eropa, perkembangan negosiasi Tiongkok-Jerman, serta data-data ekonomi dari kedua wilayah. Dengan persiapan yang matang dan strategi yang tepat, volatilitas pasar justru bisa menjadi ladang peluang. Tetap disiplin dengan manajemen risiko, dan semoga cuan menyertai perjalanan trading kita.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`