AUD/NZD Menguat Saat USD Loyo? Cek Yield Spread dan Simak Peluangnya!
AUD/NZD Menguat Saat USD Loyo? Cek Yield Spread dan Simak Peluangnya!
Pasar keuangan global selalu menarik untuk diikuti, apalagi buat kita para trader yang cari cuan. Nah, baru-baru ini ada pergerakan menarik yang melibatkan Dolar Australia (AUD) dan Dolar Selandia Baru (NZD) yang ternyata lagi-lagi bikin senyum para pemegang kedua mata uang tersebut. Keduanya dilaporkan menguat, bahkan AUD sanggup nangkring di level tertinggi 35 tahun terhadap Yen Jepang (JPY). Apa sih yang bikin mereka perkasa di tengah ketidakpastian global? Yuk, kita bedah bareng!
Apa yang Terjadi?
Jadi begini ceritanya, Dolar Australia dan Dolar Selandia Baru dilaporkan stabil di hari Kamis kemarin terhadap Dolar Amerika Serikat (USD). Tapi jangan salah, stabil di sini bukan berarti datar aja, melainkan ada dukungan kuat dari selisih imbal hasil (yield differential) yang melebar. Ini artinya, aset-aset yang diterbitkan oleh Australia dan Selandia, seperti obligasi pemerintah mereka, menawarkan imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan aset negara lain, terutama Amerika Serikat.
Menariknya lagi, Dolar Australia (AUD) berhasil menorehkan sejarah baru dengan mencapai puncak 35 tahun terhadap Yen Jepang (JPY). Ini pencapaian luar biasa yang menunjukkan betapa kuatnya permintaan terhadap mata uang "land Down Under" ini di pasar internasional. Meskipun sempat mengalami sedikit pelemahan semalam sebesar 0,3% dan menjauh dari puncak tiga tahun di level $0.7094, level $0.7000 yang dipertahankan menunjukkan ketahanan yang patut diwaspadai. Support teknikal terdekat ada di $0.6908 dan $0.6835, yang bisa menjadi acuan bagi pergerakan selanjutnya.
Pergerakan ini tentu bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor fundamental yang berperan di baliknya. Pertama, kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral Australia (RBA) dan Selandia Baru (RBNZ) kemungkinan besar lebih hawkish atau cenderung menaikkan suku bunga lebih agresif dibandingkan negara lain. Ketika suku bunga suatu negara naik, investor cenderung memindahkan dananya ke negara tersebut untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga mendorong permintaan mata uangnya.
Kedua, data ekonomi dari kedua negara ini juga mungkin menunjukkan kinerja yang lebih baik. Misalnya, data inflasi yang terkendali namun tetap menunjukkan pertumbuhan, atau data pertumbuhan ekonomi yang solid. Kondisi ini membuat para pelaku pasar lebih optimis terhadap prospek ekonomi Australia dan Selandia, yang otomatis berdampak positif pada mata uang mereka.
Ketiga, sentimen pasar secara global juga berperan. Ketika ada kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global atau ketidakpastian geopolitik, investor seringkali mencari aset yang dianggap lebih aman atau memiliki imbal hasil yang stabil. Dalam konteks ini, meskipun Australia dan Selandia bukan termasuk negara "safe haven" klasik seperti Swiss atau Jepang, perbedaan yield yang menguntungkan bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Dampak ke Market
Nah, pergerakan mata uang ini tentu punya imbas ke berbagai lini pasar. Mari kita lihat beberapa pasangan mata uang utama:
- EUR/USD: Pelemahan USD secara umum akan cenderung mendorong EUR/USD naik. Jika sentimen terhadap AUD dan NZD terus positif karena yield yang menarik, ini bisa menambah tekanan pada USD. Trader mungkin akan mencari peluang beli di EUR/USD selama USD terus melemah. Level resistance penting yang perlu diperhatikan adalah di kisaran 1.0750-1.0800, sementara support bisa berada di 1.0650.
- GBP/USD: Mirip dengan EUR/USD, GBP/USD juga akan diuntungkan dari pelemahan USD. Namun, pergerakan GBP/USD juga sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi Inggris dan kebijakan Bank of England (BoE). Jika data ekonomi Inggris masih volatil, pergerakan GBP/USD mungkin tidak sedinamis EUR/USD. Support kuat bisa ditemukan di sekitar 1.2000, sementara resistance di 1.2200.
- USD/JPY: Ini adalah pasangan yang paling menarik perhatian dari berita ini. Mengingat AUD/JPY mencapai rekor baru, ini mengindikasikan pelemahan signifikan pada JPY. Bank of Japan (BoJ) masih memegang teguh kebijakan moneternya yang sangat longgar, sementara bank sentral negara lain (termasuk Australia) mulai menaikkan suku bunga. Perbedaan ini menciptakan tekanan jual yang besar pada JPY. USD/JPY kemungkinan akan terus bergerak fluktuatif, namun pelemahan JPY bisa menjadi tema dominan, meskipun USD juga tidak terlalu kuat. Level support USD/JPY yang penting adalah di 135.00, dan jika tembus, bisa mengarah ke 130.00. Resistance di 140.00 menjadi target berikutnya jika ada penguatan USD yang kuat.
- XAU/USD (Emas): Emas seringkali memiliki korelasi terbalik dengan USD. Ketika USD melemah, emas cenderung menguat karena menjadi aset alternatif yang menarik, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun, pergerakan emas juga dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi dan suku bunga global. Jika pasar melihat kenaikan suku bunga di Australia dan Selandia sebagai sinyal bahwa inflasi di sana terkendali, ini bisa membatasi kenaikan emas. Support emas saat ini berada di sekitar $1850 per ons, dengan resistance di $1900 dan $1950.
Peluang untuk Trader
Situasi seperti ini membuka berbagai peluang bagi kita para trader.
Pertama, mari kita fokus pada AUD/JPY. Pencapaian rekor AUD/JPY ini menawarkan potensi untuk trade baik dengan cara buy AUD/JPY atau sell USD/JPY jika kita melihat potensi penguatan AUD terus berlanjut dan JPY semakin tertekan. Namun, perlu diingat bahwa rekor baru seringkali diikuti oleh volatilitas tinggi. Trader konservatif mungkin akan menunggu konsolidasi atau retracement sebelum membuka posisi. Perhatikan level support penting seperti 100.00 di AUD/JPY.
Kedua, pasangan mata uang komoditas lainnya seperti AUD/USD dan NZD/USD juga menarik untuk diperhatikan. Jika USD terus menunjukkan kelemahan, pasangan ini berpotensi untuk melanjutkan tren naik. Kita bisa mencari setup buy di kedua pasangan ini, dengan manajemen risiko yang ketat. Perhatikan level resistance AUD/USD di $0.7094 dan NZD/USD di sekitar $0.6500.
Ketiga, analisis makroekonomi menjadi kunci. Kita perlu terus memantau data inflasi, kebijakan suku bunga dari bank sentral utama (The Fed, ECB, BoE, BoJ, RBA, RBNZ), serta perkembangan geopolitik global. Jika ada perubahan mendadak dalam kebijakan suku bunga RBA atau RBNZ, atau jika data ekonomi AS membaik drastis, sentimen ini bisa berbalik dengan cepat.
Yang perlu dicatat adalah, pergerakan yield spread ini merupakan indikator yang sangat penting dalam beberapa waktu terakhir. Ini seperti "bahan bakar" bagi mata uang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Selama perbedaan imbal hasil ini terus melebar atau terjaga, AUD dan NZD punya peluang untuk tetap kuat.
Kesimpulan
Singkatnya, Dolar Australia dan Dolar Selandia Baru saat ini sedang dalam tren penguatan yang didorong oleh selisih imbal hasil yang menguntungkan terhadap negara lain, terutama Amerika Serikat dan Jepang. Pencapaian AUD/JPY di level 35 tahun menunjukkan kekuatan yang signifikan.
Bagi kita para trader, ini adalah momen untuk cermat membaca pasar. Peluang trading bisa ditemukan di pasangan mata uang seperti AUD/JPY, AUD/USD, dan NZD/USD. Namun, jangan lupa untuk selalu memantau perkembangan makroekonomi global, data ekonomi, dan pernyataan dari bank sentral. Ingat, pasar selalu dinamis. Apa yang terlihat kuat hari ini, bisa saja berbalik esok hari. Selalu gunakan analisis teknikal dan fundamental yang kuat, serta manajemen risiko yang disiplin.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.