Bank of England Mulai Ngaku Salah Langkah? Ini Dampaknya ke Duit Kita di Pasar!

Bank of England Mulai Ngaku Salah Langkah? Ini Dampaknya ke Duit Kita di Pasar!

Bank of England Mulai Ngaku Salah Langkah? Ini Dampaknya ke Duit Kita di Pasar!

Bro, pernah nggak sih lu ngerasa udah ngejalanin sesuatu kayak autopilot, eh tiba-tiba sadar kok kayaknya ada yang keliru? Nah, kayaknya Bank of England (BOE) lagi ngalamin hal itu. Baru-baru ini, Huw Pill, sang Kepala Ekonom BOE, ngakuin kalau mungkin selama ini mereka terlalu fokus sama angka inflasi doang, sampai lupa ngelihat "gunung es" risiko ekonomi yang lebih gede di depan mata. Pernyataan ini, yang muncul dalam laporan ke Treasury Select Committee, langsung bikin pasar keuangan global bergoyang. Kenapa? Karena kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral sebesar BOE itu ibarat setir mobil ekonomi dunia. Salah belok dikit, efeknya bisa ke mana-mana.

Apa yang Terjadi?

Jadi gini ceritanya. Sejak Agustus 2024, BOE ini keliatannya lagi jalanin jurus "lepas rem pelan-pelan". Mereka ngelakuin serangkaian pemotongan suku bunga (Bank Rate) dari puncaknya pasca-pandemi, dan juga mulai ngurangin kepemilikan surat utang negara (gilts) di neraca mereka. Langkah ini diambil karena inflasi headline di Inggris, yang sempat meroket sampai 11% di Oktober 2022, sekarang udah turun drastis mendekati target 2% di musim gugur 2024.

Awalnya, penurunan inflasi ini banyak disangkain karena faktor eksternal. Ibaratnya, harga bensin dan makanan yang mahal gara-gara perang di luar negeri, terus pas perangnya kelar, harganya ya turun lagi. Nah, BOE sendiri ngaku kalau memang faktor eksternal itu berperan besar. Tapi, mereka juga bilang, kebijakan moneter yang ketat yang mereka terapkan sebelumnya, itu juga punya andil penting dalam nahan "efek turunan" inflasi (kayak kenaikan gaji yang bikin harga makin mahal) dan bikin ekspektasi inflasi jangka panjang jadi stabil.

Namun, "kejutan" datang dari Huw Pill. Dalam pernyataannya, dia nyindir halus kalau BOE mungkin terlalu ngejar target inflasi itu sampai kebablasan. Ia mengakui bahwa ada kemungkinan mereka terlalu fokus pada pencapaian target inflasi, namun secara implisit, ini bisa berarti mereka "mengabaikan" atau "kurang mempertimbangkan" risiko-risiko ekonomi lain yang bisa muncul di masa depan. Ini poin krusialnya, guys. Ibarat dokter yang sibuk ngobatin demam tinggi, tapi lupa meriksa denyut nadi pasien yang ternyata udah lemah.

Pill juga ngasih sinyal kalau proses disinflasi (penurunan laju inflasi) itu memang masih berjalan, tapi belum selesai. Dia bilang, inflasi inti (underlying inflation) itu masih di kisaran 2.5% sampai 3%. Artinya, masih ada "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan. Yang paling bikin deg-degan, dia juga ngakuin ada risiko inflasi naik lagi, jadi kehati-hatian itu sangat dibutuhkan. Pernyataan ini jadi semacam pengakuan bahwa BOE mungkin salah menafsirkan sinyal ekonomi, atau setidaknya, terlalu optimis dengan kemudahan yang didapat dari turunnya inflasi.

Dampak ke Market

Nah, kalau bank sentral sebesar BOE udah ngomongin kemungkinan salah langkah, pasar langsung bereaksi, apalagi kalau ini bisa jadi indikator awal pergeseran kebijakan di negara-negara maju lainnya.

  • EUR/USD: Pernyataan BOE yang mengindikasikan kehati-hatian dan kemungkinan risiko inflasi naik bisa memicu volatilitas di pasangan mata uang ini. Jika pasar menginterpretasikan ini sebagai sinyal bahwa BOE mungkin akan menahan laju penurunan suku bunga atau bahkan bisa saja menaikkannya lagi di masa depan (meskipun kecil kemungkinannya), ini bisa menopang Poundsterling. Akibatnya, EUR/USD berpotensi tertekan, terutama jika European Central Bank (ECB) tetap pada jalur pelonggaran kebijakan yang lebih agresif.
  • GBP/USD: Ini jelas yang paling terpengaruh. Kalau Poundsterling bisa menguat karena ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi atau setidaknya lebih stabil dari perkiraan sebelumnya, maka GBP/USD bisa bergerak naik. Namun, perlu dicatat juga, kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi akibat kebijakan yang terlalu ketat di masa lalu juga bisa jadi "rem" bagi penguatan GBP. Jadi, volatilitas tinggi sangat mungkin terjadi di sini.
  • USD/JPY: Di sisi lain, jika pasar melihat pernyataan BOE ini sebagai tanda bahwa bank sentral global secara umum mungkin akan lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya, ini bisa mengurangi selera risiko secara global. Dalam skenario ini, Dolar AS yang dianggap sebagai safe-haven bisa saja menguat terhadap Yen Jepang. Namun, pergerakan USD/JPY juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan Bank of Japan (BOJ) yang masih sangat longgar.
  • XAU/USD (Emas): Emas, sebagai aset safe-haven, biasanya bergerak berbanding terbalik dengan kekhawatiran tentang risiko ekonomi. Jika pernyataan BOE ini meningkatkan ketidakpastian dan kekhawatiran tentang prospek ekonomi global, ini bisa menjadi katalis positif bagi harga emas. Investor mungkin akan mencari perlindungan di aset fisik seperti emas.

Secara umum, sentimen pasar akan menjadi lebih hati-hati. Investor akan lebih waspada terhadap data-data ekonomi baru dan pernyataan dari bank sentral lainnya. Ini bisa berarti periode "wait and see" sebelum ada tren yang lebih jelas.

Peluang untuk Trader

Situasi seperti ini, yang penuh dengan ketidakpastian, sebenarnya membuka banyak peluang bagi trader yang jeli dan punya strategi manajemen risiko yang baik.

Pertama, pasangan mata uang yang melibatkan GBP seperti GBP/USD dan GBP/JPY patut jadi perhatian utama. Pergerakan di pasangan ini kemungkinan akan sangat volatil. Kita bisa mencari setup trading berdasarkan breakout dari level-level support/resistance kunci, atau memanfaatkan momentum ketika pasar sudah lebih yakin dengan arah kebijakan BOE. Misalnya, jika data inflasi Inggris berikutnya lebih panas dari perkiraan, itu bisa jadi sinyal buy untuk GBP. Sebaliknya, jika ada data ekonomi yang menunjukkan perlambatan tajam, itu bisa jadi sinyal sell.

Kedua, perhatikan pasangan mata uang mayor lainnya seperti EUR/USD. Pergeseran sentimen BOE bisa memicu koreksi atau penguatan yang signifikan jika pasar mulai membandingkan kebijakan BOE dengan bank sentral lain seperti ECB. Ingat, mata uang tidak bergerak sendiri. Mereka selalu bergerak dalam kaitannya dengan mata uang lain.

Ketiga, jangan lupakan komoditas seperti emas. Seperti yang dibahas sebelumnya, peningkatan ketidakpastian global seringkali menguntungkan emas. Trader bisa mencari peluang buy emas jika sentimen risk-off menguat, dengan memanfaatkan level-level teknikal support yang kuat.

Yang perlu dicatat adalah, di tengah ketidakpastian seperti ini, manajemen risiko jadi kunci utama. Pasang stop-loss yang ketat, jangan memaksakan posisi jika tidak yakin, dan selalu sesuaikan ukuran posisi dengan toleransi risiko Anda. Simpelnya, jangan greedy.

Kesimpulan

Pengakuan Huw Pill dari Bank of England ini bukan sekadar "statement" biasa. Ini adalah pengakuan bahwa bank sentral sebesar BOE pun bisa saja salah dalam menafsirkan sinyal ekonomi, terutama ketika mereka terjebak dalam fokus yang sempit pada satu target. Ini jadi pengingat penting buat kita para trader: pasar itu dinamis, dan bank sentral pun manusia yang bisa salah langkah.

Ke depan, kita perlu mencermati dengan seksama data-data ekonomi Inggris, terutama inflasi dan data pertumbuhan. Selain itu, perhatikan juga bagaimana bank sentral lain menanggapi situasi ini. Apakah ini hanya kasus BOE, ataukah ini sinyal bahwa bank sentral di seluruh dunia mulai menghadapi dilema yang sama? Jawaban dari pertanyaan ini akan sangat menentukan arah pasar di bulan-bulan mendatang. Tetap waspada, tetap belajar, dan semoga cuan selalu menyertai langkah trading Anda!


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`