Dolar AS Memang Tak Pernah Mati? Analisa Mendalam "Never Bet Against America"

Dolar AS Memang Tak Pernah Mati? Analisa Mendalam "Never Bet Against America"

Dolar AS Memang Tak Pernah Mati? Analisa Mendalam "Never Bet Against America"

Siapa yang masih ingat riuh rendah empat tahun lalu? Telinga kita pasti sudah tak asing lagi mendengar prediksi sumbang: Amerika Serikat akan tamat, Dolar AS bakal runtuh, dan China akan mendominasi masa depan. Namun, di tengah hiruk pikuk pesimisme itu, ada suara berbeda yang berani menentang arus. Seorang penulis, dengan keyakinan penuh, menuangkan pandangannya dalam sebuah buku setebal 250 halaman, "The Rise of America". Ia tak hanya menyajikan data, tapi juga membuat prediksi berani, dan yang terpenting, berani menandatangani setiap kata yang tertulis. Pertanyaannya kini, seberapa akurat prediksi-prediksi tersebut bertahan di terpaan badai waktu?

Mari kita kupas tuntas fenomena ini, tidak hanya dari sisi narasi sang penulis, tetapi juga bagaimana ini membentuk lanskap pasar finansial global, terutama bagi kita para trader retail di Indonesia.

Apa yang Terjadi?

Inti dari pernyataan "Never Bet Against America" ini adalah sebuah tesis kuat yang menolak narasi dominan tentang kemunduran Amerika Serikat dan kebangkitan eksponensial kekuatan lain, khususnya China. Penulis buku tersebut, dengan latar belakang keilmuannya, membedah data-data fundamental ekonomi, geopolitik, hingga inovasi teknologi untuk membangun argumen bahwa Amerika Serikat masih memiliki fondasi yang sangat kokoh untuk kembali memimpin.

Konteks empat tahun lalu memang sedang panas-panasnya. Perang dagang antara AS dan China semakin memanas, menimbulkan ketidakpastian global. Pandemi COVID-19 yang merebak kemudian justru semakin memperparah kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global. Di saat banyak negara, termasuk beberapa "so-called expert" di dunia finansial, memprediksi Dolar AS akan kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan dunia, penulis ini justru mengambil sikap sebaliknya.

Ia mungkin melihat beberapa hal krusial yang terlewatkan oleh banyak pengamat lain. Misalnya, peran sentral pasar modal Amerika yang masih sulit digantikan oleh negara manapun. Fleksibilitas tenaga kerja dan kemampuan berinovasi yang terus menerus diperlihatkan oleh perusahaan-perusahaan AS. Ditambah lagi, stabilitas institusi politik dan hukum yang, meskipun terkadang disorot, tetap memberikan jaring pengaman yang lebih kuat dibandingkan banyak negara berkembang.

Jadi, ketika penulis itu bilang "America is done," ia secara implisit menyoroti adanya tren narasi yang didorong oleh sentimen negatif sesaat, bukan oleh analisis fundamental jangka panjang yang mendalam. Buku "The Rise of America" itu sendiri adalah sebuah upaya untuk menyajikan bukti nyata dan argumen yang terstruktur untuk melawan sentimen tersebut. Ia mungkin membedah data pertumbuhan PDB, defisit perdagangan, neraca perdagangan, hingga kemampuan AS dalam menarik investasi asing langsung (FDI) dan arus modal dari seluruh dunia.

Dampak ke Market

Nah, jika kita bicara soal dampak ke pasar, narasi "Never Bet Against America" ini punya implikasi yang cukup luas, terutama bagi pergerakan mata uang dan aset safe-haven.

EUR/USD: Jika AS terus menunjukkan ketahanan ekonomi, ini cenderung memberikan tekanan pada pasangan EUR/USD. Artinya, Euro mungkin akan kesulitan menguat secara signifikan terhadap Dolar AS. Kekuatan ekonomi Amerika berarti permintaan Dolar tetap tinggi, sementara jika ekonomi Zona Euro dirasa kurang bertumbuh, maka selisihnya akan semakin lebar, mendorong EUR/USD turun.

GBP/USD: Sama halnya dengan EUR/USD, GBP/USD juga akan terpengaruh. Ketidakpastian Brexit yang masih membayangi dan dinamika ekonomi Inggris yang mungkin tidak sekuat AS akan membuat Dolar Sterling rentan. Jika narasi "The Rise of America" terbukti benar, maka Dolar AS berpotensi terus menguat terhadap Poundsterling.

USD/JPY: Pasangan ini seringkali menjadi barometer risiko global. Jika Amerika Serikat kuat, Dolar cenderung menguat terhadap Yen yang sering dianggap sebagai safe-haven. Namun, perlu dicatat, Yen juga bisa menguat jika ada kekhawatiran global yang ekstrim, meskipun pada kasus ini, argumen penulis cenderung mengarah pada sentimen positif AS.

XAU/USD (Emas): Ini yang menarik. Emas biasanya bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS, terutama saat kekhawatiran inflasi atau ketidakpastian geopolitik tinggi. Jika AS terbukti kuat dan stabil, ini bisa mengurangi daya tarik emas sebagai safe-haven. Namun, Dolar yang kuat juga bisa berarti imbal hasil obligasi AS naik, yang secara teori bisa menekan harga emas. Tapi, bisa juga jadi sebaliknya jika pelaku pasar melihat ketahanan AS justru menopang dolar, sementara inflasi global tetap jadi ancaman yang membuat emas dilirik kembali. Jadi, XAU/USD akan sangat dinamis tergantung pada faktor inflasi dan suku bunga The Fed di samping kekuatan Dolar itu sendiri.

Secara umum, jika tesis ini benar, kita akan melihat sentimen "risk-on" yang lebih dominan, di mana investor lebih percaya diri menaruh dana di aset-aset berisiko yang berasal dari AS atau yang didukung oleh kekuatan ekonominya, ketimbang aset safe-haven murni.

Peluang untuk Trader

Jadi, apa artinya ini buat kita, para trader retail di Indonesia? Tentu saja, ini bukan sekadar teori. Ada peluang yang bisa kita tangkap dari dinamika ini.

Pertama, perhatikan pair-pair mata uang yang melibatkan Dolar AS. Pasangan seperti EUR/USD, GBP/USD, AUD/USD, USD/CAD bisa menjadi fokus. Jika tren penguatan Dolar AS terus berlanjut, maka setup trading short EUR/USD, GBP/USD, AUD/USD, dan long USD/CAD akan lebih sering muncul. Tentu, ini bukan berarti buy the dip atau sell the rip tanpa analisis. Kita tetap harus melihat konfirmasi teknikal dan fundamental.

Kedua, analisa korelasi antar aset. Memahami bagaimana pergerakan Dolar AS mempengaruhi komoditas seperti emas atau bahkan indeks saham global bisa memberikan keuntungan. Misalnya, jika Dolar AS menguat, apakah ini selalu berarti emas melemah? Tidak selalu. Terkadang, kekhawatiran inflasi yang membuat Dolar AS kuat juga bisa menopang harga emas. Kita perlu membaca sentimen pasar secara keseluruhan.

Ketiga, jangan lupa pelaku pasar besar. Narasi "Never Bet Against America" mungkin dipopulerkan oleh analis atau penulis, namun dampaknya juga dipengaruhi oleh bagaimana institusi besar dan bank sentral menafsirkan kondisi ini. Jika The Fed terus menunjukkan sikap hawkish untuk mengendalikan inflasi, ini akan memperkuat Dolar AS. Sebaliknya, jika ada sinyal pelunakan, maka Dolar bisa tertekan.

Yang perlu dicatat adalah bahwa pasar selalu dinamis. Prediksi penulis buku tersebut adalah pandangannya empat tahun lalu. Kondisi global bisa berubah. Kejadian tak terduga seperti krisis geopolitik baru atau perubahan kebijakan ekonomi mendadak bisa mengubah arah pasar. Oleh karena itu, penting untuk selalu melakukan riset independen dan tidak terpaku pada satu pandangan saja.

Kesimpulan

Intinya, pernyataan "Never Bet Against America" adalah sebuah pengingat penting bagi para trader bahwa kekuatan ekonomi dan fundamental suatu negara, terutama negara adidaya seperti Amerika Serikat, tidak bisa diremehkan. Terkadang, narasi negatif yang beredar di media bisa jadi sekadar riak kecil di lautan pasang yang lebih besar.

Jika tesis buku tersebut terbukti ampuh, ini berarti Dolar AS akan terus memegang peranan sentral dalam sistem keuangan global dalam jangka menengah. Bagi kita, ini berarti kita harus selalu memiliki Dolar AS dalam radar trading kita, memahami katalis yang menggerakkannya, dan bersiap untuk memanfaatkan peluang yang muncul dari pergerakan nilainya.

Masa depan memang tidak bisa diprediksi dengan pasti 100%. Namun, dengan analisis yang mendalam, pemahaman konteks ekonomi global, dan kemampuan membaca grafik teknikal, kita bisa memposisikan diri untuk merespons perubahan pasar dengan lebih baik. Jadi, siapkah Anda untuk terus mengamati bagaimana "The Rise of America" ini bergulir di pasar finansial?


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`