Dolar AS Mulai Loyo, Trader 'Kabur' ke Euro & Loonie? Apa yang Ditunggu The Fed?

Dolar AS Mulai Loyo, Trader 'Kabur' ke Euro & Loonie? Apa yang Ditunggu The Fed?

Dolar AS Mulai Loyo, Trader 'Kabur' ke Euro & Loonie? Apa yang Ditunggu The Fed?

Para trader di pasar berjangka (futures) sedang melakukan rotasi posisi secara masif. Laporan Commitment of Traders (COT) terbaru membocorkan sebuah tren menarik: sentimen terhadap Dolar AS semakin negatif, mencapai level terburuk sejak Juli lalu. Trader terlihat mempercepat aksi jual Dolar, sambil secara selektif menumpuk posisi di Euro dan Dolar Kanada. Fenomena ini tentu saja memicu pertanyaan penting: ada apa dengan Dolar AS, dan bagaimana dampaknya ke portofolio kita?

Apa yang Terjadi?

Jadi gini, laporan COT itu kayak buku catatan raksasa yang mencatat posisi para pelaku pasar besar di bursa berjangka. Mulai dari spekulan (hedge fund, trader institusi) sampai komoditas hedger (perusahaan yang lindungi nilai). Nah, yang jadi sorotan adalah bagaimana para spekulan ini memposisikan diri terhadap mata uang-mata uang utama.

Dalam beberapa minggu terakhir, kita melihat pergeseran yang cukup signifikan. Dolar AS, yang tadinya jadi primadona tempat berlindung yang aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global, kini mulai ditinggalkan. Para spekulan ini bukan cuma mengurangi posisi beli Dolar, tapi malah agresif membuka posisi jual (bearish bets). Artinya, mereka bertaruh Dolar akan melemah. Kenapa? Ada beberapa kemungkinan.

Salah satunya adalah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed. Dengan inflasi yang mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi (meski masih belum sepenuhnya terkendali), spekulasi bahwa The Fed akan segera menghentikan kenaikan suku bunga, atau bahkan mulai memotongnya di tahun depan, semakin menguat. Jika The Fed melunak, imbal hasil obligasi AS yang selama ini menarik investor ke Dolar, bisa jadi tidak semenarik dulu.

Selain itu, ada juga faktor global yang mungkin mempengaruhi. Gejolak di beberapa negara berkembang, ditambah ketegangan geopolitik yang masih membayangi, biasanya membuat Dolar menguat karena statusnya sebagai safe haven. Tapi kali ini, pasar sepertinya lebih fokus pada prospek ekonomi AS yang mungkin melambat akibat kebijakan moneter ketat selama ini.

Menariknya lagi, spekulan tidak hanya meninggalkan Dolar, tapi juga mulai melirik aset lain. Euro (EUR) dan Dolar Kanada (CAD) jadi beberapa 'pilihan'. Khusus Euro, laporan COT menunjukkan peningkatan signifikan pada posisi beli spekulatif, seolah pasar melihat peluang pemulihan pasca perlambatan ekonomi di zona Euro. Dolar Kanada juga mendapatkan perhatian, yang seringkali berkorelasi dengan harga minyak. Jika pasar optimis terhadap ekonomi global, permintaan energi (dan harga minyak) bisa naik, yang biasanya menguntungkan CAD.

Dampak ke Market

Pergeseran sentimen spekulan ini punya implikasi luas ke berbagai currency pairs dan aset lainnya.

Pertama, untuk EUR/USD. Ketika spekulan ramai-ramai meninggalkan Dolar AS dan malah membeli Euro, ini memberikan dorongan kuat untuk pasangan mata uang ini. Secara teknikal, EUR/USD bisa saja bergerak naik, menguji level-level resistance penting. Jika tren ini berlanjut, kita bisa melihat EUR/USD beranjak dari rentang konsolidasi sebelumnya dan menuju target yang lebih tinggi.

Selanjutnya, GBP/USD. Sentimen negatif terhadap Dolar AS biasanya juga berdampak positif bagi Sterling. Namun, untuk GBP/USD, sentimen terhadap Pound sendiri juga berperan. Jika data ekonomi Inggris mulai membaik dan inflasi bisa dikendalikan oleh Bank of England (BoE), maka pelemahan Dolar AS bisa menjadi angin segar yang mendorong GBP/USD naik lebih signifikan.

Lalu ada USD/JPY. Dolar AS yang melemah terhadap Euro dan Dolar Kanada juga berpotensi melemah terhadap Yen, yang juga dianggap sebagai safe haven. Jika Dolar AS melemah, maka USD/JPY akan cenderung turun. Ini bisa jadi kesempatan bagi trader yang memprediksi tren penurunan Dolar AS.

Terakhir, yang seringkali jadi perhatian banyak trader, XAU/USD (Emas). Emas dan Dolar AS seringkali bergerak berlawanan arah. Ketika Dolar AS melemah, emas biasanya menjadi aset yang lebih menarik karena nilainya tidak tergerus inflasi dan dianggap sebagai penyimpan nilai alternatif. Jadi, pelemahan Dolar AS ini bisa menjadi katalis positif bagi kenaikan harga emas, apalagi jika ketidakpastian global masih membayangi dan suku bunga mulai turun.

Hubungan pergerakan ini juga terkait erat dengan kondisi ekonomi global. Jika pasar global mulai optimis dengan prospek pertumbuhan ekonomi, maka aset-aset yang lebih berisiko seperti saham dan komoditas bisa membaik, sementara aset safe haven seperti Dolar AS bisa kehilangan daya tariknya. Namun, sebaliknya, jika ada sentimen negatif yang tiba-tiba muncul, Dolar AS bisa kembali menguat karena statusnya sebagai pelindung nilai.

Peluang untuk Trader

Nah, dengan adanya pergeseran sentimen ini, ada beberapa peluang yang bisa kita pantau.

Pertama, perhatikan pergerakan EUR/USD. Jika level support terdekat bertahan dan terjadi pantulan, ini bisa menjadi setup beli dengan target level resistance selanjutnya. Trader yang lebih agresif mungkin akan mencari konfirmasi dari indikator teknikal lain sebelum masuk posisi. Namun, perlu diingat, Euro masih punya tantangan internalnya sendiri, jadi kenaikan mungkin tidak mulus.

Kedua, Dolar Kanada (USD/CAD). Seperti yang disebutkan, Dolar Kanada seringkali berkolerasi dengan harga minyak. Jika harga minyak menunjukkan tanda-tanda kenaikan karena optimisme ekonomi global, ini bisa menjadi peluang untuk mencari setup jual pada USD/CAD, yang berarti CAD menguat terhadap Dolar AS. Level support kuat USD/CAD yang berhasil ditembus ke bawah bisa menjadi sinyal awal.

Ketiga, jangan lupakan XAU/USD (Emas). Jika pelemahan Dolar AS berlanjut dan data ekonomi AS menunjukkan perlambatan, ini bisa menjadi kesempatan emas untuk mencari posisi beli pada emas. Targetnya bisa jadi level-level psikologis yang penting, atau bahkan re-test terhadap level tertinggi sebelumnya jika momentumnya kuat. Namun, selalu waspadai potensi koreksi mendadak, terutama jika ada komentar dari The Fed yang mengindikasikan mereka masih punya ruang untuk menaikkan suku bunga lagi.

Yang perlu dicatat, pergeseran sentimen ini bisa saja bersifat sementara. The Fed akan merilis data inflasi dan notulen rapat FOMC mereka dalam waktu dekat. Komentar atau indikasi dari The Fed bisa dengan cepat mengubah arah pasar. Jadi, selalu siapkan rencana trading Anda dengan manajemen risiko yang ketat. Jangan pernah mengambil posisi tanpa tahu di mana Anda akan keluar jika pasar bergerak melawan Anda.

Kesimpulan

Pergeseran posisi spekulan di pasar berjangka, yang terlihat dari laporan COT, memberikan gambaran menarik tentang sentimen pasar saat ini. Dolar AS yang mulai kehilangan kilaunya, digantikan oleh Euro dan Dolar Kanada, menandakan adanya optimisme baru atau setidaknya harapan terhadap prospek ekonomi di luar Amerika Serikat.

Hal ini bukan berarti Dolar AS akan terus menerus melemah. Pasar finansial selalu dinamis. Keberlanjutan tren ini akan sangat bergantung pada data ekonomi yang keluar dan pernyataan para pembuat kebijakan moneter, terutama The Fed. Jika The Fed memberikan sinyal yang lebih dovish dari perkiraan, pelemahan Dolar AS bisa semakin dalam. Sebaliknya, jika inflasi kembali memanas atau ada kejutan ekonomi lain, Dolar AS bisa kembali menguat sebagai aset safe haven.

Para trader perlu cermat memantau pergerakan mata uang utama, komoditas seperti emas, dan juga data ekonomi global. Perhatikan level-level teknikal penting sebagai panduan masuk dan keluar posisi. Ingat, konsistensi dalam menjalankan rencana trading dan manajemen risiko yang baik adalah kunci sukses di pasar yang selalu berubah ini.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`