Dolar AS 'Ngeyel' di Tengah Sentimen Negatif, Trader Retail Wajib Tahu!

Dolar AS 'Ngeyel' di Tengah Sentimen Negatif, Trader Retail Wajib Tahu!

Dolar AS 'Ngeyel' di Tengah Sentimen Negatif, Trader Retail Wajib Tahu!

Para trader di pasar keuangan global lagi-lagi dibuat pusing sama tingkah laku Dolar AS. Di saat data ekonomi Amerika Serikat kurang memuaskan dan ada keputusan hukum yang berpotensi memicu ketegangan dagang, mata uang 'Paman Sam' ini justru menunjukkan daya tahan yang lumayan. Tapi, jangan keburu senang atau panik dulu. Ada cerita di balik ketahanan ini yang wajib kita pahami sebagai trader retail, terutama yang aktif di pasar forex.

Apa yang Terjadi?

Jadi begini ceritanya. Beberapa waktu lalu, Amerika Serikat merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal keempat (Q4) yang ternyata sedikit meleset dari ekspektasi para analis. Angka yang lebih lemah dari perkiraan ini biasanya jadi sinyal buruk buat sebuah negara, dan dampaknya ke mata uangnya seringkali adalah pelemahan. Ibaratnya, kalau nilai jual suatu barang turun, orang jadi kurang tertarik buat beli, kan? Nah, Dolar AS juga begitu.

Belum selesai urusan PDB, ada lagi isu yang bisa bikin pasar gemetar: keputusan Mahkamah Agung terkait tarif impor. Meskipun detail keputusannya tidak disebutkan secara eksplisit dalam excerpt yang kita punya, keputusan terkait tarif seringkali punya implikasi besar terhadap hubungan dagang antarnegara. Jika ada kebijakan yang bisa memicu perang dagang atau ketegangan ekonomi, investor biasanya akan mulai waspada dan menarik dananya dari aset berisiko, termasuk mata uang negara yang terlibat. Dolar AS pun berpotensi merasakan dampaknya.

Nah, secara teori, kombinasi data ekonomi yang kurang bagus dan potensi ketegangan dagang seharusnya membuat Dolar AS limbung. Tapi, faktanya tidak begitu. Awalnya, Dolar AS memang sempat sedikit tertekan. Terutama saat sesi Asia Pasifik, di mana pasar Tokyo lagi libur nasional, jadi volume perdagangan sedikit berkurang dan pergerakan bisa lebih volatil. Di momen inilah Dolar AS sempat "terlihat" kesulitan.

Tapi, yang menarik adalah, begitu pasar Eropa mulai bergerak, Dolar AS berhasil merangkak naik dan kembali menguat tipis. Hasil akhirnya, di penutupan sesi Eropa, Dolar AS bergerak campur aduk, alias ada penguatan terhadap beberapa mata uang, tapi juga pelemahan terhadap yang lain. Ini menunjukkan bahwa ada kekuatan lain yang sedang menahan Dolar AS agar tidak jatuh terlalu dalam.

Kalau kita coba tarik garis besar, situasi ini seperti balapan lari. Dolar AS sempat "tersandung" karena lintasan yang kurang mulus (data PDB) dan ada "rintangan" tak terduga di depan (keputusan Mahkamah Agung). Seharusnya dia melambat drastis. Tapi, entah bagaimana, dia punya "kekuatan kaki" ekstra atau "dukungan" dari pihak lain, sehingga bisa bangkit dan kembali bersaing, meskipun belum bisa jadi juara sepenuhnya.

Dampak ke Market

Pergerakan Dolar AS yang "ngotot" ini tentu punya efek domino ke berbagai pasangan mata uang (currency pairs) dan juga komoditas.

  • EUR/USD: Pasangan ini biasanya bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS. Jika Dolar AS menguat, EUR/USD cenderung turun. Sebaliknya, jika Dolar AS melemah, EUR/USD akan menguat. Dalam kasus ini, ketahanan Dolar AS berarti potensi EUR/USD tertahan di level bawah atau bahkan sedikit terkoreksi turun, meskipun mungkin tidak sekuat yang diperkirakan jika data ekonomi AS benar-benar buruk.
  • GBP/USD: Sama seperti EUR/USD, GBP/USD juga punya korelasi negatif dengan Dolar AS. Penguatan Dolar AS bisa menekan GBP/USD. Namun, pergerakan GBP/USD juga sangat dipengaruhi oleh sentimen terhadap Poundsterling itu sendiri, seperti isu Brexit yang masih membayangi. Jadi, meskipun Dolar AS kuat, Poundsterling bisa saja punya faktor pendukung lain yang menahan pelemahannya.
  • USD/JPY: Pasangan ini biasanya bergerak searah dengan Dolar AS. Jika Dolar AS menguat, USD/JPY cenderung naik. Sebaliknya, jika Dolar AS melemah, USD/JPY turun. Ketahanan Dolar AS dalam excerpt ini berarti potensi USD/JPY tetap stabil atau bahkan sedikit naik, meskipun Tokyo sempat libur dan mengurangi volume perdagangan di sesi Asia.
  • XAU/USD (Emas): Dolar AS dan emas seringkali punya hubungan terbalik. Saat Dolar AS menguat, emas cenderung melemah karena emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Sebaliknya, saat Dolar AS lemah, emas bisa jadi aset yang menarik dan harganya naik. Ketahanan Dolar AS bisa jadi sentimen negatif bagi emas, menahan kenaikannya atau bahkan memicu koreksi.

Secara umum, sentimen pasar menjadi campur aduk. Ada kekhawatiran dari data ekonomi dan isu dagang, tapi di sisi lain, ada keyakinan bahwa ekonomi AS punya fondasi yang kuat atau ada kebijakan moneter yang sedang menopang Dolar AS. Ini menciptakan kondisi yang tidak pasti, yang seringkali membuat trader lebih berhati-hati.

Peluang untuk Trader

Nah, situasi yang ambigu seperti ini justru bisa membuka peluang bagi trader yang jeli.

Pertama, perhatikan pasangan mata uang yang punya korelasi kuat dengan Dolar AS tapi juga dipengaruhi oleh faktor lokal yang jelas. Misalnya, jika Anda melihat ada berita spesifik yang menguatkan Euro atau Poundsterling di Eropa, Anda bisa coba cari kesempatan long EUR/USD atau long GBP/USD jika Dolar AS mulai menunjukkan tanda-tanda kelemahan yang lebih signifikan.

Kedua, USD/JPY bisa menjadi pasangan yang menarik untuk diamati. Jika data AS berikutnya menunjukkan perbaikan atau bank sentral AS memberikan sinyal hawkish (cenderung menaikkan suku bunga), USD/JPY berpotensi naik. Tapi, jangan lupa perhatikan juga sentimen global secara umum. Jika ketegangan dagang memuncak, Yen Jepang sebagai aset safe-haven bisa saja menguat, menahan kenaikan USD/JPY.

Ketiga, untuk emas (XAU/USD), ketahanan Dolar AS memberikan tantangan. Jika Anda ingin short XAU/USD, carilah konfirmasi pelemahan Dolar AS yang lebih kuat atau data inflasi AS yang naik, yang bisa memicu Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga lebih cepat. Sebaliknya, jika ada indikasi ketidakpastian ekonomi global yang meningkat, emas bisa jadi pilihan, tapi perlu waspada terhadap penguatan Dolar AS yang bisa membendung kenaikannya.

Yang perlu dicatat, dengan adanya ketidakpastian ini, sangat penting untuk menerapkan manajemen risiko yang ketat. Gunakan stop-loss yang sesuai, jangan melakukan overtrading, dan selalu ikuti berita fundamental yang bisa mempengaruhi pergerakan pasar. Ingat, pasar seperti lautan; kadang tenang, kadang bergelombang besar. Kita harus siap dengan keduanya.

Kesimpulan

Pergerakan Dolar AS yang resilien di tengah data ekonomi yang kurang baik dan potensi ketegangan dagang ini memang cukup membingungkan. Ini menunjukkan bahwa pasar tidak selalu bergerak sesuai ekspektasi teoritis semata. Ada banyak faktor yang saling tarik-menarik, termasuk sentimen investor, kebijakan moneter bank sentral, dan faktor geopolitik.

Untuk trader retail Indonesia, situasi ini adalah pengingat penting bahwa kita harus terus belajar dan beradaptasi. Jangan terpaku pada satu jenis analisis saja. Kombinasikan analisis teknikal dengan pemahaman fundamental yang kuat. Terus pantau data-data ekonomi penting, baik dari AS maupun negara-negara lain yang berpengaruh di pasar forex, serta berita-berita global yang bisa memicu volatilitas. Dengan pemahaman yang komprehensif, kita bisa lebih siap menghadapi segala kondisi pasar dan mengambil keputusan trading yang lebih bijak.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`