Dolar AS Sangat Tangguh, Bagaimana Nasib Euro Selanjutnya?

Dolar AS Sangat Tangguh, Bagaimana Nasib Euro Selanjutnya?

Dolar AS Sangat Tangguh, Bagaimana Nasib Euro Selanjutnya?

Para trader di pasar valuta asing baru-baru ini dikejutkan oleh ketangguhan dolar AS yang tak terduga, terutama di tengah spekulasi pelonggaran kebijakan moneter dari bank sentral utama lainnya. EUR/USD, pasangan mata uang yang menjadi barometer sentimen global, terus menjadi sorotan. Dalam berita singkat yang beredar, terlihat jelas bahwa mata uang Euro sedang berjuang melawan arus, sementara dolar AS justru makin perkasa berkat stabilnya pasar tenaga kerja Amerika. Apa sebenarnya yang terjadi, dan bagaimana dampaknya terhadap portofolio trading kita? Mari kita bedah lebih dalam.

Apa yang Terjadi?

Kisah utama di balik pergerakan pasar saat ini adalah adanya perbedaan arah kebijakan moneter antara Bank Sentral Eropa (ECB) dan Federal Reserve AS (The Fed). Secara sederhana, ini seperti dua kapal yang berlayar dengan tujuan berbeda di lautan yang sama.

The Fed, yang biasanya menjadi pusat perhatian pasar, kini diperkirakan oleh sebagian besar pelaku pasar akan mulai menurunkan suku bunga acuannya. Prediksi terbaru bahkan menyebutkan ada potensi tiga kali pemangkasan suku bunga di tahun 2026, kemungkinan dimulai sekitar bulan Mei atau Juni. Ini adalah sinyal pelonggaran kebijakan yang biasanya membuat dolar AS melemah karena biaya pinjaman menjadi lebih murah, sehingga menarik investasi keluar dari negara tersebut.

Namun, ironisnya, dolar AS justru menunjukkan ketangguhan yang mengejutkan. Salah satu faktor utamanya adalah data pasar tenaga kerja Amerika yang terus menunjukkan stabilitas. Tingkat pengangguran yang rendah dan pertumbuhan gaji yang sehat memberikan kepercayaan kepada The Fed bahwa perekonomian AS masih kuat dan tidak perlu buru-buru melakukan pelonggaran kebijakan secara agresif. Ibaratnya, meskipun ada rencana untuk mengurangi kecepatan, mesin utama perekonomian AS masih bekerja dengan baik.

Di sisi lain, ECB justru memberikan angin segar yang tak terduga bagi Euro. Berbeda dengan The Fed, ECB saat ini justru memberi sinyal akan mempertahankan suku bunga acuannya untuk sementara waktu. Ini berarti biaya pinjaman di Eropa tidak akan turun secepat di Amerika. Tindakan ini bisa jadi merupakan respons terhadap inflasi yang mungkin masih menjadi perhatian di zona Euro, atau strategi untuk menjaga daya saing mata uang mereka. Namun, ini juga menciptakan "divergensi kebijakan", yaitu perbedaan arah kebijakan yang membuat Euro menjadi kurang menarik dibandingkan dolar AS bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi.

Divergensi kebijakan ini adalah inti dari mengapa EUR/USD terus dipertanyakan. Ketika The Fed siap untuk menurunkan suku bunga dan ECB menahan, arus modal cenderung mengalir ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, dan saat ini dolar AS lah yang diuntungkan.

Dampak ke Market

Perbedaan kebijakan moneter ini tentu saja memiliki dampak yang signifikan ke berbagai pasangan mata uang.

Untuk EUR/USD, ini adalah skenario yang jelas membebani Euro. Seperti yang sudah dibahas, ketika biaya pinjaman di AS diperkirakan turun lebih cepat daripada di Eropa, investor cenderung menjual Euro dan membeli Dolar AS. Hal ini mendorong EUR/USD turun. Kita bisa melihat grafik harga EUR/USD belakangan ini, ada kecenderungan menekan ke bawah. Level support penting di sekitar 1.0700 menjadi krusial untuk dipantau. Jika level ini jebol, potensi penurunan lebih lanjut ke area 1.0650 atau bahkan 1.0600 terbuka lebar.

Beralih ke GBP/USD, pengaruhnya mungkin tidak seagresif EUR/USD, namun tetap relevan. Sterling (GBP) juga mendapat tekanan dari kekuatan dolar AS yang merata. Meskipun Bank of England (BoE) memiliki kebijakannya sendiri, sentimen umum penguatan dolar AS cenderung menyeret pasangan mata uang mayor lainnya untuk turun. Support terdekat yang perlu diperhatikan adalah di kisaran 1.2500.

Untuk pasangan mata uang yang melibatkan dolar AS tetapi di sisi lain bukan Euro atau Sterling, seperti USD/JPY, situasinya bisa sedikit berbeda tergantung sentimen pasar secara keseluruhan dan kebijakan Bank of Japan (BoJ). Namun, kekuatan dolar AS yang fundamental akibat data ekonomi yang kuat cenderung memberikan dukungan pada USD/JPY. Jika pasar global cenderung menghindari risiko, USD/JPY bisa naik.

Kemudian, mari kita bicara tentang XAU/USD (Emas). Emas, sebagai aset safe-haven, seringkali memiliki hubungan terbalik dengan dolar AS. Ketika dolar AS menguat, harga emas cenderung turun karena emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Sebaliknya, jika dolar AS melemah, emas biasanya naik. Saat ini, ketangguhan dolar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed yang mulai turun (meskipun perlahan) menciptakan tekanan jual pada emas. Level support penting untuk emas ada di sekitar USD 2300 per ons. Pergerakan di bawah level ini bisa mengindikasikan kelanjutan tren turun jangka pendek.

Secara keseluruhan, sentimen pasar saat ini didominasi oleh keyakinan pada kekuatan ekonomi AS dan ketidakpastian kebijakan moneter global lainnya. Ini menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi dolar AS.

Peluang untuk Trader

Dengan kondisi pasar seperti ini, para trader tentu mencari celah untuk mendapatkan keuntungan.

Untuk pasangan EUR/USD, tren penurunan tampaknya lebih dominan. Trader yang berani bisa mempertimbangkan posisi short (jual) EUR/USD, terutama jika ada pantulan singkat ke atas yang tidak berhasil menembus level resistance penting seperti 1.0750 atau 1.0800. Namun, perlu diingat bahwa volatilitas selalu ada, dan fundamental ECB yang mempertahankan suku bunga bisa memberikan kejutan sewaktu-waktu. Strategi range trading di sekitar level support dan resistance yang jelas juga bisa menjadi alternatif.

Perhatikan juga GBP/USD. Jika level support 1.2500 ditembus dengan volume yang signifikan, ini bisa menjadi sinyal untuk posisi short dengan target ke level berikutnya. Namun, jika level tersebut bertahan, dan ada konfirmasi sinyal pembalikan arah dari indikator teknikal, posisi long (beli) dengan stop loss ketat juga patut dipertimbangkan.

Pasangan USD/JPY menarik untuk diperhatikan. Jika sentimen global memburuk dan investor mencari aset safe-haven, USD/JPY bisa naik lebih lanjut. Posisi long bisa dipertimbangkan dengan target area 155.00-156.00. Namun, penting untuk memantau berita terkait kebijakan BoJ, karena intervensi pasar dari Jepang masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

Bagi para penggemar komoditas, XAU/USD saat ini menawarkan tantangan. Tren penurunan perlu diperhatikan, namun potensi kenaikan tiba-tiba akibat ketidakpastian geopolitik selalu ada. Trader bisa mencari peluang short ketika harga mendekati level resistance seperti USD 2350, dengan stop loss yang jelas di atasnya. Atau, tunggu konfirmasi sinyal pembalikan arah yang kuat sebelum mengambil posisi long.

Yang terpenting, di tengah dinamika ini, manajemen risiko adalah kunci. Selalu gunakan stop loss yang sesuai dengan toleransi risiko Anda dan jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap untuk kehilangan.

Kesimpulan

Perbedaan arah kebijakan moneter antara ECB dan The Fed, diperparah oleh ketangguhan pasar tenaga kerja AS, telah menciptakan angin kencang bagi dolar AS. Ini berdampak langsung pada pelemahan Euro dan memberikan tekanan pada aset-aset lain yang berlawanan dengan dolar.

Ke depan, pasar akan terus mencermati setiap data ekonomi dan pernyataan dari bank sentral utama. Jika data ekonomi AS terus solid, dolar AS berpotensi tetap kuat. Namun, jika inflasi di Eropa menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang signifikan, ECB mungkin akan mulai mengubah kebijakannya, yang bisa memberikan momentum baru bagi Euro. Sebagai trader, penting untuk tetap waspada, fleksibel, dan selalu berbasis pada analisis fundamental dan teknikal.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`