Dolar AS Terancam Lemah di Februari 2026? Federal Reserve di Persimpangan Jalan, Siapkah Anda?
Dolar AS Terancam Lemah di Februari 2026? Federal Reserve di Persimpangan Jalan, Siapkah Anda?
Bulan Februari 2026 sudah di depan mata, dan para trader forex di Indonesia pasti sudah siap-siap membedah pergerakan pasar. Terutama, perhatian tertuju pada sang raja, Dolar AS. Sepanjang Januari 2026, ada bayangan Dollar weakness yang terus membayangi, dan sepertinya tren ini bakal berlanjut. Kenapa? Ada dua alasan utama yang lagi jadi omongan hangat: jurang pemisah kebijakan bank sentral dan sinyal teknikal yang mulai jelas. Khusus untuk Federal Reserve (The Fed), mereka lagi di persimpangan jalan yang krusial setelah memangkas suku bunga sebanyak 175 basis poin sejak September 2024. Nah, ini yang bikin menarik, karena bank sentral lain seperti European Central Bank (ECB) justru sudah selesai dengan siklus pelonggarannya.
Apa yang Terjadi?
Jadi gini ceritanya, para trader. Kita tahu kalau The Fed itu punya peran sentral di pasar global. Kebijakan moneternya itu ibarat "siraman air" bagi ekonomi dunia. Nah, sejak September 2024, The Fed ini sudah agresif banget menurunkan suku bunga. Totalnya, ada 175 basis poin yang dipangkas. Ini ibarat dokter yang terus-terusan ngasih obat penurun panas, tujuannya biar ekonomi "demam"-nya reda. Tapi, di balik aksi agresif ini, ada pertanyaan besar: apakah The Fed sudah menemukan dosis yang tepat, atau malah kebanyakan?
Masalahnya, kalau kita lihat di sisi lain samudra Atlantik, European Central Bank (ECB) malah sudah mengambil langkah yang berbeda. ECB ini udah bilang, "Oke, kami rasa siklus pelonggaran kami sudah cukup sampai di sini." Ini berarti, ECB nggak akan lagi menurunkan suku bunga, bahkan mungkin akan mulai menahan atau bahkan menaikkan suku bunga di masa depan jika kondisi ekonomi mereka membaik. Perbedaan langkah kebijakan ini, atau yang biasa kita sebut "policy divergence," ini adalah bensin yang bisa memicu pergerakan besar di pasar mata uang.
Ketika The Fed terus memotong suku bunga sementara bank sentral lain (seperti ECB) sudah selesai melonggarkan ikat pinggangnya, Dolar AS cenderung kehilangan daya tariknya. Kenapa? Simpelnya, investor akan mencari aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Kalau suku bunga di Amerika Serikat terus turun, keuntungan dari memegang aset dalam Dolar AS jadi kurang menarik dibandingkan aset dalam mata uang lain yang suku bunganya stabil atau bahkan mulai naik. Ini bisa membuat arus modal keluar dari Dolar AS dan masuk ke mata uang lain, sehingga Dolar AS pun melemah.
Selain itu, yang juga perlu kita perhatikan adalah "technical developments." Ini adalah bahasa pasar yang mengacu pada pola-pola dan level-level penting yang terlihat di grafik harga. Para analis teknikal biasanya memantau indikator-indikator seperti support dan resistance, trenline, serta formasi candlestick untuk memprediksi arah pergerakan harga selanjutnya. Kalau sinyal teknikal juga menunjukkan potensi pelemahan Dolar AS, ini semakin memperkuat pandangan bahwa Dolar AS bisa terus tertekan di bulan Februari.
Dampak ke Market
Nah, kalau Dolar AS mulai goyah, siapa saja yang bakal kecipratan? Tentu saja, pasangan mata uang utama (major currency pairs) akan jadi yang paling pertama merasakan getarannya.
Pertama, EUR/USD. Ini pasangan yang paling sering dilihat para trader karena melibatkan dua kekuatan ekonomi besar. Kalau Dolar AS melemah, secara teori, EUR/USD akan naik. Kenapa? Karena Euro (EUR) jadi relatif lebih menarik dibandingkan Dolar AS yang terus didiskon suku bunganya. Bayangkan saja, kalau Anda punya dua pilihan produk, satu harganya makin murah terus, satu lagi harganya stabil. Mana yang bakal lebih banyak dibeli? Tentu yang harganya makin murah, tapi dalam kasus mata uang, kalau satu terus "di-diskon" (suku bunga turun), mata uang lain yang nggak ikut-ikutan "diskon" akan jadi lebih mahal dan dicari.
Kedua, GBP/USD. Mirip dengan EUR/USD, pelemahan Dolar AS biasanya berbanding lurus dengan penguatan Pound Sterling (GBP). Ini juga didorong oleh kebijakan Bank of England (BoE) yang mungkin tidak se-agresif The Fed dalam memotong suku bunga. Sentimen pasar global yang positif karena pelonggaran moneter di AS juga bisa sedikit membantu Pound.
Lalu, USD/JPY. Ini pasangan yang sedikit berbeda. Ketika Dolar AS melemah terhadap mata uang lain, USD/JPY biasanya akan turun. Kenapa? Karena Dolar AS menjadi lebih murah terhadap Yen Jepang (JPY). Investor mungkin juga melihat Yen sebagai safe-haven currency, dan ketika ada ketidakpastian global (meskipun Dolar AS melemah, tapi bisa jadi ada sebab lain), investor cenderung lari ke JPY. Namun, perlu diingat, kebijakan Bank of Japan (BoJ) juga punya peran penting di sini.
Tak ketinggalan, XAU/USD (Emas). Ini menarik. Emas seringkali bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS. Ketika Dolar AS melemah, harga emas cenderung naik. Kenapa? Simpelnya, emas itu dianggap sebagai penyimpan nilai atau aset safe-haven. Ketika nilai Dolar AS (mata uang yang jadi acuan global) tergerus, aset lain yang bukan mata uang, seperti emas, jadi lebih menarik. Ditambah lagi, dengan kebijakan moneter yang longgar, inflasi bisa menjadi ancaman, dan emas seringkali dilihat sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Jadi, pelemahan Dolar AS ditambah ekspektasi inflasi bisa jadi resep jitu buat harga emas meroket.
Peluang untuk Trader
Dengan adanya potensi pelemahan Dolar AS ini, ada beberapa peluang yang bisa kita cermati.
Pertama, perhatikan pasangan mata uang yang berlawanan dengan Dolar AS. Seperti yang sudah dibahas, EUR/USD dan GBP/USD adalah kandidat utama. Jika kita melihat konfirmasi dari indikator teknikal atau berita fundamental yang mendukung, kita bisa mencari setup buy di kedua pasangan ini. Level support yang kuat di grafik EUR/USD bisa menjadi titik masuk yang menarik untuk posisi beli, dengan target di level resistance terdekat. Begitu juga dengan GBP/USD.
Kedua, jangan lupakan XAU/USD (Emas). Potensi kenaikan harga emas patut diwaspadai. Jika Dolar AS terus menunjukkan kelemahan dan sentimen global mendukung aset safe-haven, emas bisa menjadi pilihan instrumen yang menguntungkan. Trader bisa mencari setup buy di emas, terutama jika harga mampu menembus dan bertahan di atas level resistance penting.
Yang perlu dicatat adalah bahwa pasar mata uang itu dinamis. Kebijakan bank sentral bisa berubah, dan kejadian tak terduga (seperti krisis geopolitik atau data ekonomi yang mengejutkan) bisa mengubah sentimen pasar dalam sekejap. Jadi, selalu gunakan manajemen risiko yang baik. Pasang stop-loss di setiap posisi yang dibuka. Jangan pernah bertaruh terlalu besar pada satu pergerakan.
Kesimpulan
Jadi, di awal Februari 2026 ini, Dolar AS memang sedang dalam sorotan. Kombinasi dari kebijakan suku bunga Federal Reserve yang masih dalam fase pelonggaran dan perbedaan langkah dengan bank sentral lain seperti ECB menciptakan narasi pelemahan Dolar AS. Sinyal teknikal yang mulai mengarah ke sana semakin memperkuat pandangan ini.
Bagi kita para trader retail di Indonesia, ini adalah momen untuk tetap waspada namun juga mencari peluang. Pasangan mata uang seperti EUR/USD, GBP/USD, dan aset seperti Emas (XAU/USD) bisa menjadi instrumen yang menarik untuk diperhatikan. Ingat, selalu kombinasikan analisis fundamental dengan analisis teknikal, dan yang terpenting, patuhi manajemen risiko. Pasar ini seperti lautan luas, kadang tenang, kadang bergelora. Persiapan dan strategi yang matang adalah jangkar kita.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.