Drama BOJ dan Takaichi Bikin Yen Ngos-ngosan, USD/JPY Bakal Terbang ke Mana?
Drama BOJ dan Takaichi Bikin Yen Ngos-ngosan, USD/JPY Bakal Terbang ke Mana?
Siap-siap pegangan! Dalam beberapa waktu terakhir, pasar finansial kembali diramaikan oleh manuver kebijakan moneter di negara-negara besar. Kali ini, sorotan tertuju pada Jepang, di mana yen tergelincir cukup dalam terhadap mata uang utama lainnya. Penurunan hampir 1% ini bukan tanpa sebab, melainkan dipicu oleh manuver politik yang menyentuh jantung kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ). Pertanyaannya, apa artinya ini bagi kita, para trader retail Indonesia, terutama yang memantau ketat pergerakan USD/JPY?
Apa yang Terjadi? Drama Yen di Bawah Bayang-bayang Takaichi
Latar belakang ceritanya begini: Jepang, seperti banyak negara lain, sedang berjuang menavigasi gelombang inflasi global. Namun, BOJ selama ini dikenal sebagai salah satu bank sentral yang paling "dovish" atau cenderung longgar dalam kebijakan moneternya. Kebijakan ini dipertahankan demi mendukung pertumbuhan ekonomi pasca-pandemi dan mengatasi deflasi yang sempat menghantui.
Nah, di tengah situasi ini, muncul sosok Sanae Takaichi, yang kini menduduki posisi penting sebagai Perdana Menteri Jepang. Takaichi dikenal memiliki pandangan yang tidak selaras dengan nada "hawkish" yang mulai terdengar dari bank sentral-bank sentral lain di dunia. Bukannya mendorong BOJ untuk segera mengetatkan kebijakan moneter, Takaichi justru dikabarkan mendesak BOJ untuk menunda kenaikan suku bunga.
Yang membuat pasar makin was-was adalah indikasi kuat bahwa Takaichi berencana menunjuk para gubernur BOJ yang memiliki pandangan serupa dengannya, yaitu para "dovish". Ini menciptakan paralel yang cukup mengerikan dengan situasi kebijakan moneter di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Di AS, Federal Reserve (The Fed) justru agresif menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi, sementara Jepang seperti mengambil jalur yang berbeda.
Bisa dibayangkan, ketika seorang pemimpin negara secara terbuka memberikan tekanan kepada bank sentralnya untuk mempertahankan kebijakan longgar, sementara inflasi sudah mulai terasa, ini seperti menyalakan lampu kuning bagi mata uang negara tersebut. Investor mulai mempertanyakan arah kebijakan moneter Jepang ke depan. Jika BOJ terus berada di jalur yang sangat longgar, sementara negara lain mulai mengetatkan ikat pinggang, perbedaan imbal hasil (yield) akan semakin melebar. Ini secara natural akan membuat mata uang negara yang kebijakannya lebih longgar menjadi kurang menarik.
Dampak ke Market: Dari Yen ke Sepuluh Arah
Penurunan yen ini tentu saja tidak hanya berhenti pada mata uang itu sendiri. Dampaknya menjalar ke berbagai aset dan pasangan mata uang (currency pairs).
-
USD/JPY: Ini adalah pasangan mata uang yang paling jelas terpengaruh. Ketika yen melemah, dolar AS menguat. Jadi, USD/JPY berpotensi naik. Investor akan mencermati seberapa jauh pelemahan yen ini akan berlanjut. Jika tekanan Takaichi terhadap BOJ terus menguat dan BOJ benar-benar menunda kenaikan suku bunga, kita bisa melihat kenaikan signifikan pada USD/JPY. Level teknikal penting di sini adalah level resistance di sekitar 135.00 dan 137.00 yang perlu diwaspadai. Jika berhasil ditembus, potensi kenaikan lebih lanjut terbuka lebar.
-
EUR/JPY dan GBP/JPY: Sama seperti USD/JPY, pasangan mata uang ini juga akan cenderung menguat seiring pelemahan yen. Trader yang memantau pasangan mata uang yang melibatkan yen perlu berhati-hati dan siap dengan volatilitas.
-
XAU/USD (Emas): Menariknya, pelemahan yen bisa berdampak positif bagi emas. Mengapa? Karena yen sering dianggap sebagai aset safe-haven di Asia, sama seperti emas. Ketika ada ketidakpastian atau pelemahan pada mata uang safe-haven seperti yen, investor mungkin akan beralih mencari aset safe-haven lain yang lebih solid, salah satunya emas. Jadi, potensi emas untuk menguat bisa terpicu oleh drama yen ini, terutama jika kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi Jepang meningkat.
-
Dolar AS (USDX): Di tengah kekhawatiran terhadap kebijakan moneter Jepang yang tertinggal, dolar AS bisa mendapatkan momentum penguatan tambahan. Ini karena perbedaan suku bunga yang semakin melebar dengan Jepang, membuat dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi.
Peluang untuk Trader: Siap-siap di Pinggir Lapangan
Situasi seperti ini membuka berbagai peluang sekaligus risiko bagi para trader.
Pertama, pasangan mata uang USD/JPY jelas menjadi fokus utama. Bagi trader yang memiliki pandangan bahwa yen akan terus melemah, mengambil posisi long (beli) pada USD/JPY bisa menjadi pilihan. Namun, perlu diingat, volatilitas bisa sangat tinggi. Penting untuk menggunakan stop-loss yang ketat dan tidak memaksakan ukuran posisi yang terlalu besar.
Kedua, perhatikan juga pasangan mata uang lain yang melibatkan yen. Misalnya, jika Anda melihat EUR/JPY berpotensi naik, ini bisa menjadi setup yang menarik. Namun, pastikan Anda memahami korelasi antar aset. Pelemahan yen secara umum akan menekan semua pasangan mata uang yang berakhir dengan JPY.
Ketiga, perhatikan aset safe-haven lain seperti emas. Jika sentimen risiko global meningkat akibat kekhawatiran kebijakan moneter Jepang, emas bisa menjadi salah satu aset yang diburu. Anda bisa mencari setup buy pada XAU/USD jika melihat tren kenaikan yang mulai terbentuk.
Yang perlu dicatat, keputusan politik seperti ini bisa sangat dinamis. Pernyataan-pernyataan dari Takaichi atau pejabat BOJ selanjutnya akan sangat krusial. Jadi, jangan hanya bergantung pada satu berita. Pantau terus perkembangan terbaru.
Kesimpulan: Yen Terlalu Dovish untuk Jangka Panjang?
Drama BOJ dan Takaichi ini menyoroti jurang pemisah kebijakan moneter antara Jepang dan mayoritas negara maju lainnya. Ketika inflasi global menjadi perhatian utama, kebijakan moneter yang sangat longgar seperti yang dipertahankan BOJ bisa menjadi bom waktu.
Secara historis, mata uang sebuah negara yang kebijakannya terus menerus tertinggal dari kebijakan bank sentral negara maju lainnya cenderung mengalami pelemahan struktural. Ingat kembali era ketika dolar AS sangat kuat karena The Fed menaikkan suku bunga lebih dulu? Jepang kini berada di persimpangan jalan yang bisa membawa yen ke arah yang sama jika kebijakan moneter tidak segera beradaptasi.
Para trader perlu memantau dengan seksama arah kebijakan BOJ ke depan. Apakah Takaichi akan berhasil mempengaruhi BOJ untuk tetap dovish, ataukah tekanan inflasi akan memaksa BOJ untuk mulai bergeser ke arah yang lebih normal? Jawaban dari pertanyaan ini akan sangat menentukan nasib yen dan pasangan mata uang yang melibatkan yen dalam beberapa bulan mendatang.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.