Emas "Ngamuk", Siapa Dalangnya? Scott Bessent Sebut Trader China, Benarkah?
Emas "Ngamuk", Siapa Dalangnya? Scott Bessent Sebut Trader China, Benarkah?
Dengar-dengar kabar dari pasar emas nih, guys. Belakangan ini harganya gerak liar banget, bikin deg-degan banyak trader. Nah, menariknya, ada seorang tokoh penting, namanya Scott Bessent, yang angkat bicara. Dia ini bukan sembarang orang, lho, tapi Treasury Secretary Amerika Serikat. Dan tebak siapa yang disebutnya sebagai biang kerok di balik "kegilaan" harga emas ini? Ternyata, trader-trader asal China! Wah, ada apa sebenarnya di Negeri Tirai Bambu sana yang sampai bisa bikin emas berguncang hebat?
Apa yang Terjadi?
Jadi gini, ceritanya bermula dari pernyataan Scott Bessent di salah satu stasiun televisi Amerika, Fox News. Beliau dengan gamblang menyebut bahwa gejolak harga emas yang kita lihat belakangan ini ada kaitannya dengan aktivitas "agak tidak terkendali" (unruly) dari para trader di China. Bessent melihat bahwa pemerintah China terpaksa melakukan pengetatan persyaratan margin (margin requirements) untuk para trader emas.
Apa sih maksudnya "ketat margin"? Simpelnya begini: kalau mau bertransaksi pakai uang pinjaman (margin), aturan mainnya jadi lebih ketat. Mungkin deposit yang disetor harus lebih besar, atau batas maksimal pinjaman dikurangi. Tujuannya biasanya untuk mengurangi risiko spekulasi yang berlebihan. Nah, menurut Bessent, pengetatan ini justru bikin para trader China bereaksi, dan karena volume transaksi mereka besar, efeknya sampai terasa global ke harga emas. Ia bahkan menyebut pergerakan emas ini mirip dengan sebuah "spekulatif blowoff" klasik, yang artinya ada lonjakan spekulatif yang diikuti oleh koreksi tajam.
Kenapa China jadi sorotan? Ingat nggak sih, belakangan ini China memang lagi menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Ada isu properti yang belum sepenuhnya pulih, kemudian data ekonomi yang kadang naik-turun, dan tentu saja, kebijakan moneter yang juga perlu diwaspadai. Di sisi lain, emas sering dianggap sebagai aset safe haven atau pelindung nilai, apalagi saat ketidakpastian global meningkat. Jadi, ketika ada sentimen yang mendorong orang untuk beli emas di China, apalagi dengan dukungan leverage, efeknya bisa sangat besar.
Mungkin kita bisa lihat ke belakang sedikit. Sejarah mencatat, pasar komoditas, termasuk emas, memang sensitif terhadap kebijakan dan sentimen di negara-negara besar seperti China. Dulu, kalau ada berita tentang permintaan industri yang besar dari China, harga komoditas bisa langsung meroket. Sebaliknya, kalau ada kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi di sana, dampaknya bisa sebaliknya. Kali ini, tampaknya skenarionya sedikit berbeda, di mana pengetatan aturan spekulasi di China malah jadi pemicu gejolak harga emas, bukan permintaan fisik semata.
Dampak ke Market
Nah, kalau emas sudah "berulah", otomatis ini akan merembet ke aset lain. Kenapa? Karena emas itu punya korelasi yang menarik dengan banyak currency pairs dan aset lain.
Pertama, kita lihat EUR/USD. Saat emas menguat, biasanya ini menandakan adanya sentimen risk-off atau ketidakpastian di pasar. Dalam situasi seperti ini, dolar AS cenderung menguat karena dianggap sebagai aset safe haven yang lebih aman. Jadi, kalau emas rally, jangan heran kalau EUR/USD malah bergerak turun. Trader akan cenderung melepas Euro yang dianggap lebih berisiko dibandingkan Dolar.
Lalu, bagaimana dengan GBP/USD? Mirip-mirip dengan EUR/USD, Sterling (GBP) juga cenderung lebih volatil dibandingkan Dolar. Jadi, kalau emas menunjukkan kegaduhan, kemungkinan besar GBP/USD akan tertekan. Sentimen risk-off global akan membuat investor mencari aman ke Dolar, yang berarti pelemahan GBP/USD.
Sekarang, mari kita lirik USD/JPY. Ini agak menarik. Di satu sisi, Dolar AS akan menguat saat risk-off, yang seharusnya menekan USD/JPY. Tapi, Yen Jepang (JPY) juga sering dianggap sebagai aset safe haven oleh sebagian investor. Jadi, ada semacam tarik-menarik. Namun, jika sentimen global benar-benar menakutkan, kekuatan Dolar biasanya akan lebih dominan. Jadi, kemungkinan besar USD/JPY akan bergerak naik saat emas bergejolak karena spekulasi China ini.
Dan tentu saja, XAU/USD (Emas terhadap Dolar AS). Inilah aset utamanya. Kalau Bessent benar, berarti ada gelombang beli spekulatif dari China yang kemudian direspons oleh otoritas dengan pengetatan margin. Ini bisa berarti dua hal: pertama, lonjakan harga akibat pembelian besar, kedua, potensi koreksi tajam jika para spekulan terpaksa keluar dari posisi mereka karena aturan margin yang lebih ketat. Ini yang disebut blowoff tadi, ada lonjakan emosional di pasar yang mungkin tidak didukung fundamental kuat dalam jangka panjang.
Peluang untuk Trader
Dengan situasi yang "agak ngamuk" ini, tentu saja ada peluang, tapi juga risiko yang perlu diwaspadai.
Untuk pair yang berhubungan dengan Dolar, seperti EUR/USD dan GBP/USD, jika sentimen risk-off terus berlanjut akibat isu China ini, kita bisa mengamati potensi peluang sell (jual) pada kedua pair ini. Perhatikan level-level support penting yang mungkin akan dites. Misalnya, jika EUR/USD menembus di bawah level 1.0650, ini bisa menjadi sinyal untuk melanjutkan penurunan. Begitu juga dengan GBP/USD, jika gagal bertahan di atas 1.2500, potensi pelemahan bisa terbuka.
Untuk USD/JPY, jika sentimen yang mendorong penguatan Dolar berlanjut, kita bisa melihat peluang buy (beli). Namun, hati-hati, karena pasar Jepang memiliki jam perdagangan yang berbeda dan bisa ada faktor domestik yang memengaruhinya. Level resistensi penting yang perlu diperhatikan adalah sekitar 155.00. Jika tembus, penguatan bisa berlanjut.
Yang paling menantang tentu saja di pasar emas (XAU/USD). Jika memang ada speculative blowoff, ini berarti harga bisa bergerak sangat liar, naik atau turun dengan cepat. Bagi trader yang lebih agresif, mungkin bisa mencari setup scalping untuk memanfaatkan volatilitas. Namun, bagi kebanyakan trader, mungkin lebih bijak untuk menunggu kejelasan arah atau fokus pada manajemen risiko yang ketat jika memang memutuskan untuk terlibat. Level support krusial yang perlu diperhatikan di emas adalah sekitar $2300 per ounce. Jika level ini jebol, koreksi bisa makin dalam. Sebaliknya, jika mampu bertahan dan kembali menguat, bisa jadi ini hanya jeda sebelum melanjutkan tren naik.
Yang perlu dicatat adalah, dalam kondisi seperti ini, berita dan sentimen bisa berubah sangat cepat. Penting untuk tetap memantau data ekonomi penting dari Amerika Serikat, China, dan negara-negara besar lainnya, serta pernyataan dari pejabat bank sentral. Jangan hanya terpaku pada satu berita saja.
Kesimpulan
Jadi, intinya, pernyataan Scott Bessent ini memberikan sebuah narasi baru mengapa harga emas belakangan ini bergeraknya tidak biasa. Tuduhannya pada aktivitas trader China yang "tidak terkendali" dan pengetatan margin oleh otoritas di sana bisa jadi memang memiliki dasar. Ini menunjukkan bahwa pasar emas, yang sering dianggap sebagai aset klasik yang cenderung aman, ternyata masih sangat dipengaruhi oleh dinamika spekulatif, terutama dari pemain-pemain besar di pasar global.
Ke depan, kita perlu melihat apakah sentimen ini akan berlanjut. Jika pengetatan margin di China memang signifikan, ini bisa mengurangi tekanan beli spekulatif pada emas dan memicu koreksi lebih lanjut. Namun, jika ada faktor lain yang mendorong permintaan emas, seperti ketegangan geopolitik atau inflasi yang kembali meningkat, emas masih punya potensi untuk bangkit. Bagi kita sebagai trader retail, yang terpenting adalah tetap waspada, manfaatkan informasi yang ada untuk membuat keputusan yang terinformasi, dan yang paling utama, selalu utamakan manajemen risiko agar kita tidak tersapu oleh "ombak" liar di pasar.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.