Emas vs Bitcoin: Perang Aset Safe Haven di Tengah Ketidakpastian Global, Siapa yang Unggul?

Emas vs Bitcoin: Perang Aset Safe Haven di Tengah Ketidakpastian Global, Siapa yang Unggul?

Emas vs Bitcoin: Perang Aset Safe Haven di Tengah Ketidakpastian Global, Siapa yang Unggul?

Pernahkah kamu merasa bingung ketika pasar saham bergejolak, inflasi meroket, dan ketegangan geopolitik memuncak? Di saat-saat seperti inilah para trader dan investor sering kali beralih ke aset yang dianggap "aman", alias safe haven. Nah, dua nama yang paling sering muncul dalam diskusi ini adalah emas dan Bitcoin. Keduanya sering dibandingkan, namun apakah keduanya benar-benar sama sebagai pelindung nilai? Mari kita bedah lebih dalam.

Apa yang Terjadi?

Cerita ini bermula dari sebuah pandangan menarik dari Gresham Law, yang membandingkan perilaku emas dan Bitcoin sebagai aset safe haven. Ia menceritakan pengalamannya tumbuh di Lebanon pada tahun 1970-an dan awal 1980-an, era perang saudara. Uniknya, Lira Lebanon saat itu justru menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Meskipun negara porak-poranda dan otoritas terfragmentasi, nilai tukar Lira tidak jatuh drastis, melainkan mengalami depresiasi yang sangat lambat dan teratur. Transaksi harian tetap berjalan lancar, menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap mata uang lokal, meskipun lemah, masih bertahan.

Poin krusial di sini adalah bagaimana mata uang, atau aset yang berfungsi sebagai penyimpan nilai, berperilaku ketika sistem yang mendukungnya mulai retak. Di masa krisis, orang akan cenderung menimbun aset yang mereka anggap paling stabil dan memiliki nilai intrinsik yang diakui secara luas. Secara historis, emas selalu menjadi pilihan utama. Emas telah digunakan sebagai alat tukar dan penyimpan nilai selama ribuan tahun, memiliki kelangkaan alami, dan tidak bergantung pada keputusan kebijakan moneter pemerintah.

Namun, era digital melahirkan pesaing baru: Bitcoin. Diciptakan sebagai mata uang digital terdesentralisasi, Bitcoin menawarkan janji transaksi tanpa perantara dan pasokan yang terbatas (maksimal 21 juta koin). Para pendukungnya sering kali menyamakannya dengan "emas digital", dengan harapan dapat memberikan perlindungan terhadap inflasi dan kontrol pemerintah yang berlebihan. Perdebatan ini semakin relevan ketika kita melihat kondisi ekonomi global saat ini yang penuh ketidakpastian, mulai dari lonjakan inflasi pasca-pandemi, kenaikan suku bunga oleh bank sentral utama, hingga perang di Eropa Timur yang tak kunjung usai.

Dampak ke Market

Perbandingan emas dan Bitcoin ini bukan sekadar teori, melainkan punya dampak nyata di pasar finansial. Ketika sentimen risiko meningkat, kita biasanya melihat beberapa pergerakan yang bisa diprediksi:

  • Emas (XAU/USD): Secara tradisional, emas akan bergerak naik. Investor akan menjual aset berisiko seperti saham dan mengalihkan dananya ke emas untuk melindungi kekayaan. Pasangan mata uang seperti EUR/USD dan GBP/USD cenderung melemah terhadap Dolar AS karena dolar sering dianggap sebagai safe haven sekunder dalam krisis global. Jika ketakutan meluas, bahkan mata uang yang biasanya kuat seperti Euro atau Pound bisa tertekan. USD/JPY juga bisa menunjukkan volatilitas; terkadang yen Jepang juga dianggap safe haven, namun dalam skenario global yang penuh ketidakpastian, kekuatan dolar seringkali mengalahkan yen.
  • Bitcoin (BTC/USD): Nah, di sinilah perbandingannya menjadi menarik. Bitcoin, sebagai aset yang relatif baru, memiliki rekam jejak yang lebih pendek dalam menguji ketahanannya di tengah krisis besar. Terkadang, Bitcoin bergerak sejalan dengan aset berisiko seperti saham teknologi (seringkali berkorelasi negatif dengan emas). Ketika ada ketidakpastian, Bitcoin bisa saja dijual bersamaan dengan saham. Namun, di lain waktu, ketika inflasi menjadi perhatian utama dan orang mencari aset yang tak terikat inflasi, Bitcoin bisa mengalami lonjakan minat. Ini menunjukkan bahwa "narasi" Bitcoin sebagai safe haven masih dalam tahap pembuktian dan bisa dipengaruhi oleh sentimen pasar yang lebih luas, bukan hanya logika safe haven murni.

Korelasi antar aset ini penting untuk dipahami. Emas cenderung memiliki korelasi negatif dengan dolar AS saat kondisi normal, tetapi dalam krisis, dolar bisa menguat bersamaan dengan emas sebagai pelindung nilai utama. Bitcoin, di sisi lain, masih mencari identitasnya yang jelas di pasar, terkadang bertindak seperti aset pertumbuhan, terkadang seperti safe haven, dan terkadang seperti aset yang mengikuti sentimen risiko secara umum.

Peluang untuk Trader

Dengan dinamika ini, ada beberapa peluang dan hal yang perlu diperhatikan oleh para trader:

  1. Perhatikan EUR/USD & GBP/USD saat Emas Naik: Jika kamu melihat emas menguat tajam, itu bisa menjadi sinyal awal bahwa sentimen risiko global sedang meningkat. Dalam skenario seperti itu, pasangan mata uang seperti EUR/USD dan GBP/USD cenderung melemah. Kamu bisa mencari peluang short (jual) pada pasangan ini, terutama jika ada level teknikal penting yang tertembus ke bawah. Misalnya, jika EUR/USD menembus level support kunci, itu bisa menjadi konfirmasi tren pelemahan lebih lanjut.
  2. USD/JPY: Pergerakan yang Kompleks: USD/JPY bisa menjadi "pembawa berita" yang menarik. Jika Dolar AS menguat karena permintaan safe haven global yang kuat, sementara yen Jepang juga menguat sebagai mata uang aman, pasangan ini bisa bergerak sideways atau bahkan turun. Namun, jika sentimen risk-off global membuat investor keluar dari aset berisiko dan masuk ke dolar AS, USD/JPY bisa menguat. Ini membutuhkan analisis yang lebih cermat terhadap sentimen global secara keseluruhan.
  3. XAU/USD & BTC/USD: Strategi Terpisah: Emas dan Bitcoin seringkali memerlukan strategi yang berbeda. Untuk emas, pantau level support dan resistance klasik. Level-level seperti $1800, $1900, atau $2000 per ons memiliki makna psikologis dan teknikal yang penting. Untuk Bitcoin, karena volatilitasnya yang lebih tinggi, manfaatkan support dan resistance yang lebih pendek atau gunakan indikator momentum. Simpelnya, emas lebih sering merespons perlambatan ekonomi dan inflasi, sementara Bitcoin bisa juga dipengaruhi oleh berita regulasi, adopsi institusional, dan sentimen teknologi.
  4. Perhatikan Korelasi yang Berubah: Yang perlu dicatat adalah korelasi antar aset bisa berubah. Dulu, emas selalu bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terkadang keduanya menguat bersamaan saat krisis global. Begitu pula dengan Bitcoin. Fleksibilitas dalam strategi trading, kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan korelasi, adalah kunci.

Kesimpulan

Pengalaman di Lebanon pada masa lalu menunjukkan betapa pentingnya aset yang bisa mempertahankan nilainya di tengah kehancuran. Emas, dengan sejarah ribuan tahun, telah membuktikan ketahanannya. Ia berfungsi sebagai jangkar stabilitas ketika mata uang fiat terancam oleh inflasi atau ketidakpastian politik. Di sisi lain, Bitcoin masih merupakan pemain baru dalam permainan safe haven. Ia menawarkan potensi perlindungan terhadap inflasi dan sentralisasi, namun volatilitasnya dan sifatnya yang baru membuat perannya di pasar masih menjadi subjek perdebatan dan pengujian.

Untuk trader retail di Indonesia, memahami pergerakan emas dan Bitcoin, serta korelasinya dengan mata uang utama seperti EUR/USD, GBP/USD, dan USD/JPY, sangat krusial. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berlanjut, aset-aset ini akan terus menjadi sorotan. Apakah Bitcoin akan benar-benar menjadi "emas digital" yang sejajar dengan emas? Atau akankah ia tetap menjadi aset spekulatif yang bergerak liar? Waktu dan data pasar akan memberikannya. Yang terpenting adalah kita siap menganalisis, beradaptasi, dan mengelola risiko dengan bijak.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`