Fed Bakal ‘Panas-panasan’ Lagi? Target Inflasi Baru Jadi Sorotan Trader!

Fed Bakal ‘Panas-panasan’ Lagi? Target Inflasi Baru Jadi Sorotan Trader!

Fed Bakal ‘Panas-panasan’ Lagi? Target Inflasi Baru Jadi Sorotan Trader!

Trader sekalian, coba deh perhatikan kabar terbaru yang lagi bikin deg-degan pasar finansial global. Ada obrolan seru nih soal potensi perubahan target inflasi Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Bukan cuma sekadar wacana, tapi datang dari salah satu petinggi The Fed sendiri, yaitu Gubernur Michelle Bowman, yang sering disapa ‘Warsh’ di kalangan trader. Kalau ini beneran kejadian, siap-siap aja mata uang dan komoditas bakal joget mengikuti iramanya. Kenapa penting? Karena ini menyangkut kebijakan moneter yang paling didengar seluruh dunia!

Apa yang Terjadi?

Jadi ceritanya begini, Pak Bowman baru-baru ini ngasih sinyal yang cukup mengejutkan. Beliau bilang, mungkin sudah saatnya The Fed mempertimbangkan untuk mengerek target inflasi mereka. Sekarang kan targetnya 2%, nah beliau ngusulin bisa dinaikin ke kisaran 2.5% sampai 3.5%. Wah, agak radikal ya?

Latar belakangnya apa? Ternyata, Pak Bowman melihat ada sinyal positif yang kuat di pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya sejak pandemi COVID-19 merajalela, pasar tenaga kerja AS kabarnya sudah mencapai titik keseimbangan yang sempurna. Maksudnya gimana nih? Simpelnya, jumlah orang yang mau kerja (penawaran tenaga kerja) itu sudah sama persis dengan jumlah pekerjaan yang tersedia (permintaan tenaga kerja). Angkanya kalau dihitung total ada 172 juta pekerja.

Ini angka penting banget. Penawaran tenaga kerja itu kan mencakup semua orang yang punya pekerjaan, ditambah yang nganggur tapi lagi nyari kerja. Nah, permintaan tenaga kerja itu isinya orang yang udah kerja, ditambah lowongan kerja yang masih kosong, plus pekerja yang lagi cuti atau lagi dipinjamkan ke perusahaan lain. Kalau dua angka ini sama, secara teori ini artinya pasar tenaga kerja itu sehat banget, nggak ada yang nganggur karena kurang kerjaan, dan perusahaan juga nggak kesulitan cari karyawan.

Nah, kondisi pasar tenaga kerja yang lagi ‘adem ayem’ ini jadi pertimbangan kuat Pak Bowman. Kalau orang-orang makin banyak yang kerja dan perusahaan nggak pusing cari karyawan, otomatis daya beli masyarakat bisa meningkat. Kalau daya beli naik, permintaan barang dan jasa juga ikut naik dong. Dan ini yang jadi PR buat The Fed, kalau permintaan barang dan jasa naik terlalu kencang sementara pasokan nggak bisa ngimbangi, inflasi bisa meroket lagi. Makanya, beliau berpikir, mungkin target inflasi 2% yang sekarang ini terlalu ketat buat dicapai dan dipertahankan dalam kondisi ekonomi yang seperti sekarang.

Bisa dibilang, ini adalah momen krusial buat ekonomi AS. The Fed selama ini kan punya misi ganda: menjaga harga stabil (mengendalikan inflasi) sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja maksimal. Nah, kalau pasar tenaga kerja sudah stabil, fokus The Fed bisa jadi bergeser lebih banyak ke isu inflasi. Dengan mengusulkan kenaikan target inflasi, Pak Bowman seolah bilang, "Oke, inflasi mungkin memang akan sedikit lebih tinggi dari 2% dalam jangka menengah, dan itu nggak masalah selama ekonomi tetap tumbuh dan pasar kerja solid." Ini argumen yang cukup kuat, mengingat The Fed juga sudah berjuang keras menekan inflasi yang sempat membumbung tinggi.

Dampak ke Market

Lalu, apa dampaknya buat kita para trader? Ini yang seru!

Pertama, tentu saja ke mata uang Dolar AS (USD). Kalau The Fed melunak dengan target inflasi, itu bisa jadi sinyal bahwa suku bunga kemungkinan nggak akan naik lagi, atau bahkan bisa turun lebih cepat dari perkiraan. Kenapa? Karena narasi perang melawan inflasi mereka sedikit berubah. Pasar yang tadinya siap-siap dengan nada hawkish The Fed, sekarang malah bisa jadi berpikir ke arah dovish.

Nah, kalau USD cenderung melemah, ini bisa jadi kabar baik buat currency pairs seperti EUR/USD dan GBP/USD. Simpelnya, kalau Dolar Amerika melemah, mata uang lain seperti Euro dan Poundsterling jadi relatif lebih kuat. Jadi, kita bisa lihat EUR/USD berpotensi naik, begitu juga GBP/USD. Pergerakannya mungkin nggak instan, tapi sentimennya bisa berubah.

Bagaimana dengan USD/JPY? Kalau USD melemah, USD/JPY bisa aja turun. Tapi perlu dicatat, pasar Jepang punya cerita sendiri. Bank Sentral Jepang (BOJ) masih sangat dovish. Jadi, melemahnya USD bisa jadi ada efeknya ke USD/JPY, tapi mungkin nggak sedramatis pair lainnya.

Sekarang kita beralih ke komoditas yang paling banyak diburu: Emas (XAU/USD). Biasanya, pelemahan Dolar AS itu jadi angin segar buat emas. Kenapa? Emas itu kan harganya seringkali berbanding terbalik dengan Dolar. Kalau Dolar melemah, emas jadi lebih murah buat pemegang mata uang lain, sehingga permintaannya bisa naik. Ditambah lagi, emas sering dianggap sebagai safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi. Kalau ada sinyal The Fed mulai sedikit melonggarkan kebijakan, ini bisa memicu optimisme yang justru bisa membuat emas naik, karena investor bisa aja mulai cari aset yang lebih berisiko tapi berpotensi cuan. Namun, di sisi lain, jika kenaikan target inflasi ini membuat ekonomi AS terlihat lebih solid dan inflasi tetap terkendali, ini bisa mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi. Jadi, XAU/USD perlu dipantau dengan seksama.

Selain itu, pergerakan suku bunga AS juga punya dampak luas ke pasar negara berkembang. Kalau Dolar AS menguat karena suku bunga naik, modal biasanya akan lari dari negara berkembang ke AS. Sebaliknya, kalau Dolar melemah, arus modal bisa kembali mengalir ke negara berkembang, yang bisa berdampak positif ke mata uang negara tersebut, termasuk Rupiah.

Peluang untuk Trader

Dengan adanya potensi perubahan narasi inflasi The Fed, banyak peluang menarik nih buat kita.

Pertama, pantau terus pasangan mata uang EUR/USD dan GBP/USD. Kalau sentimen dovish The Fed makin kental, kedua pair ini bisa jadi kandidat utama untuk pergerakan naik. Perhatikan level-level teknikal penting seperti area support dan resistance yang sudah terbentuk. Apakah ada pola bullish yang mulai muncul?

Kedua, XAU/USD juga patut dilirik. Jika Dolar AS terus menunjukkan pelemahan dan pasar merespons positif terhadap argumen inflasi yang lebih tinggi namun ekonomi stabil, emas bisa saja melanjutkan tren naiknya. Cari konfirmasi dari indikator teknikal lain seperti RSI atau MACD untuk mengkonfirmasi potensi entry point.

Yang perlu dicatat adalah volatilitas. Perubahan target inflasi The Fed ini bukan berita receh. Ini bisa memicu pergerakan harga yang cukup signifikan. Oleh karena itu, manajemen risiko jadi kunci utama. Gunakan stop loss yang ketat, jangan pernah memasukkan semua dana Anda ke dalam satu transaksi, dan selalu lakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan.

Mungkin ini juga saatnya untuk melihat pair-pair yang berhubungan dengan komoditas, misalnya AUD/USD atau NZD/USD. Keduanya cenderung sensitif terhadap harga komoditas dan sentimen global. Jika narasi ekonomi yang membaik dan inflasi yang terkendali terus berlanjut, komoditas bisa jadi bintangnya, yang tentunya akan menguntungkan mata uang negara pengekspor komoditas.

Kesimpulan

Jadi, secara keseluruhan, usulan Gubernur Bowman ini bisa dibilang sebagai titik balik penting dalam percakapan tentang inflasi dan kebijakan moneter AS. Ini bukan sekadar perubahan angka, tapi bisa jadi perubahan filosofi dalam menghadapi ekonomi pasca-pandemi yang unik.

Jika The Fed benar-benar mengadopsi target inflasi yang lebih tinggi, ini bisa menandakan era baru di mana bank sentral mungkin lebih toleran terhadap inflasi yang sedikit di atas target 2% demi menjaga pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pasar tenaga kerja. Ini adalah tantangan bagi The Fed untuk menyeimbangkan ekspektasi publik dan menjaga kredibilitasnya.

Bagi kita para trader, ini adalah saatnya untuk tetap waspada, adaptif, dan strategis. Perhatikan baik-baik bagaimana pasar merespons setiap pernyataan The Fed, pelajari level-level teknikal, dan yang terpenting, kelola risiko Anda dengan bijak. Perjalanan pasar finansial memang penuh kejutan, dan kabar dari The Fed ini adalah salah satu yang paling menarik untuk kita amati dalam beberapa waktu ke depan.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`