**Fed's Waller Ngajak Dovish, Pasar Siap-siap Bergoyang?**

**Fed's Waller Ngajak Dovish, Pasar Siap-siap Bergoyang?**

Fed's Waller Ngajak Dovish, Pasar Siap-siap Bergoyang?

Nah, para trader retail Indonesia, ada berita yang lagi bikin deg-degan pasar finansial dunia nih. Gubernur Federal Reserve (The Fed), Christopher J. Waller, tiba-tiba ngomongin soal potong suku bunga. Bukan sekadar wacana, dia bahkan bilang sempat nggak setuju sama keputusan FOMC terbaru yang nggak jadi memotong suku bunga. Aduh, apa sih maksudnya? Dan yang lebih penting, ini bakal ngaruh ke dompet kita nggak ya?

Apa yang Terjadi?

Jadi gini ceritanya, di rapat FOMC terakhir, sebagian besar anggota memutuskan untuk menahan suku bunga di level yang sekarang. Tapi, Pak Waller ini beda sendiri. Beliau punya pandangan bahwa mestinya ada pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin. Kenapa beliau seberani itu? Jawabannya ada dua poin utama yang dia sampaikan.

Pertama, soal pasar tenaga kerja. Pak Waller melihat ada "kelemahan" di sana, padahal aktivitas ekonomi secara umum masih kuat. Angka pengangguran, meskipun sempat turun sedikit di data terakhir, sebenarnya sudah naik sejak pertengahan tahun lalu. Yang lebih bikin kaget, beliau menyoroti pertumbuhan payroll (jumlah lapangan kerja) di tahun 2025 yang sangat minim, "hampir nol". Kalau dibandingkan dengan rata-rata 10 tahun sebelumnya yang bisa menciptakan sekitar 1,9 juta lapangan kerja per tahun, angka 600 ribu tahun lalu itu jauh banget. Bahkan, Pak Waller yakin data itu nanti bakal direvisi turun lagi jadi "nol, zipp, nada". Bayangin deh, pertumbuhan lapangan kerja nol di tahun 2025, sementara sebelum-sebelumnya rata-rata hampir 2 juta setahun. Ini jelas bukan gambaran pasar tenaga kerja yang sehat. Beliau ngasih analogi simpel, "perusahaan itu enggan memecat karyawan, tapi juga sangat enggan merekrut karyawan baru." Ini indikasi kuat adanya keraguan terhadap pertumbuhan lapangan kerja di masa depan, yang berpotensi menyebabkan penurunan signifikan di pasar tenaga kerja.

Kedua, soal inflasi. Pak Waller mengakui memang ada efek tarif yang bikin inflasi sedikit naik. Tapi, menurut beliau, ini seharusnya "dilihat saja" selama ekspektasi inflasi tetap stabil dan berada di jalur yang tepat menuju target The Fed sebesar 2%. Inflasi inti (yang tidak termasuk tarif) itu sudah mendekati target 2%. Nah, dengan kondisi inflasi yang oke dan pasar tenaga kerja yang lemah, Pak Waller berpendapat suku bunga semestinya sudah lebih dekat ke level netral. Beliau memperkirakan angka netral ini mungkin di kisaran 3%, sementara rentang suku bunga saat ini masih 3,50% - 3,75%. Jadi, ada jeda sekitar 0,25% hingga 0,75% yang menurut beliau bisa diisi dengan pemotongan suku bunga.

Dampak ke Market

Oke, sekarang pertanyaan krusialnya, apa dampaknya buat kita para trader?

Pernyataan Pak Waller ini bagaikan bensin yang disiram ke api pasar, terutama buat currency pairs yang sensitif sama kebijakan The Fed. EUR/USD misalnya. Kalau The Fed mulai mengisyaratkan pelonggaran moneter (pemotongan suku bunga), ini biasanya bikin Dolar AS melemah. Kenapa? Simpelnya, suku bunga yang lebih rendah bikin aset berdenominasi Dolar AS jadi kurang menarik buat investor asing karena imbal hasilnya turun. Mereka bakal cari instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, dan otomatis ini bikin permintaan Dolar AS berkurang. Jadi, EUR/USD punya potensi menguat.

Hal yang sama bisa terjadi pada GBP/USD. Dolar AS yang melemah akan mengangkat nilai Pound Sterling. Jadi, GBP/USD juga berpotensi naik.

Nah, untuk USD/JPY, ceritanya sedikit berbeda. Dolar AS yang melemah seharusnya bikin USD/JPY turun. Tapi, kita juga perlu ingat bahwa Bank of Japan (BoJ) punya kebijakan moneternya sendiri. Kalau BoJ masih cenderung hawkish (misalnya mulai berencana menaikkan suku bunga atau menghentikan kebijakan ultra-longgar), ini bisa menahan pelemahan USD/JPY atau bahkan mendorongnya naik. Jadi, di pair ini, kita perlu lihat juga sentimen dari sisi JPY.

Terus, bagaimana dengan XAU/USD alias Emas? Emas seringkali jadi "safe haven" atau aset pelarian saat ekonomi global nggak pasti atau saat nilai mata uang utama melemah. Kalau Dolar AS diprediksi melemah karena potensi pemotongan suku bunga, ini bisa jadi angin segar buat Emas. Kenapa? Karena Emas itu nggak punya imbal hasil. Ketika imbal hasil aset lain (seperti obligasi pemerintah AS) turun karena suku bunga rendah, biaya oportunitas memegang Emas jadi lebih kecil. Jadi, XAU/USD punya potensi menguat.

Secara umum, pernyataan ini menciptakan sentimen "risk-on" di pasar, di mana investor cenderung mencari aset yang lebih berisiko tapi berpotensi memberikan imbal hasil tinggi, sementara aset yang dianggap "aman" seperti Dolar AS bisa tertekan.

Peluang untuk Trader

Mendengar statement seperti Pak Waller ini, para trader perlu siap-siap pasang mata.

Pertama, perhatikan EUR/USD dan GBP/USD. Dengan potensi pelemahan Dolar AS, kedua pair ini bisa jadi primadona untuk dicermati. Jika ada konfirmasi lebih lanjut dari data ekonomi AS berikutnya yang mendukung argumen Pak Waller (misalnya data inflasi yang terus turun atau data tenaga kerja yang semakin lemah), potensi kenaikan di EUR/USD dan GBP/USD bisa lebih besar. Level teknikal penting yang perlu dicatat adalah area resistance terdekat dan terdekatnya. Jika level-level ini berhasil ditembus dengan volume yang kuat, bisa jadi sinyal awal tren naik.

Kedua, XAU/USD patut dilirik. Jika Dolar AS terus melemah dan kekhawatiran resesi global kembali muncul (yang mungkin dipicu oleh data ekonomi AS yang lemah), Emas bisa melesat. Trader bisa mencari setup buy di area support yang kuat, terutama jika ada pola bullish reversal di grafik harga. Tetap waspada terhadap level resistance penting yang bisa menghambat kenaikan.

Yang perlu dicatat, volatilitas pasar kemungkinan akan meningkat. Pernyataan dari pejabat bank sentral, apalagi yang beda pendapat dengan mayoritas, punya bobot besar. Jadi, manajemen risiko jadi kunci utama. Siapkan stop-loss yang ketat untuk membatasi kerugian kalau pasar bergerak berlawanan dengan prediksi. Jangan lupa, pasar itu dinamis, satu pernyataan belum tentu jadi akhir cerita. Data-data ekonomi berikutnya akan menjadi penentu arah selanjutnya.

Kesimpulan

Statement Gubernur The Fed, Christopher J. Waller, yang menyerukan pemotongan suku bunga ini jelas menjadi sorotan utama di pasar finansial. Dengan argumen kuat berdasarkan data pasar tenaga kerja yang melemah dan inflasi yang terkendali, Pak Waller memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter The Fed saat ini mungkin terlalu ketat.

Jika The Fed benar-benar mengikuti pandangan ini dan mulai memotong suku bunga, ini bisa memicu pergeseran signifikan di pasar mata uang, menguntungkan pasangan seperti EUR/USD dan GBP/USD, serta mengangkat harga Emas. Namun, sebagai trader, kita harus tetap waspada terhadap data ekonomi berikutnya dan berbagai pernyataan dari pejabat The Fed lainnya. Volatilitas adalah teman kita sekaligus musuh kita, jadi strategi manajemen risiko yang solid adalah kunci untuk bertahan dan meraih peluang di tengah dinamika pasar yang terus berubah ini.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`