GBP/EUR Mau Ke Mana Arahnya di 2026? MUFG Pasang Target 1.11, Apa Kata Analis Lain?
GBP/EUR Mau Ke Mana Arahnya di 2026? MUFG Pasang Target 1.11, Apa Kata Analis Lain?
Pasangan mata uang GBP/EUR memang lagi adem ayem beberapa minggu terakhir, bergerak di rentang yang sempit. Tapi tahu-tahu, Pound Sterling (GBP) sempat meroket sampai ke level tertinggi dalam 5 bulan, nyaris menyentuh 1.1590. Ini terjadi barengan dengan Euro (EUR) yang lagi tertekan di pasar global. Nah, pertanyaan besarnya, ini cuma sentimen sesaat atau ada sesuatu yang lebih dalam? Apalagi, bank raksasa MUFG punya pandangan yang agak skeptis soal prospek Sterling dalam jangka menengah. Mereka memprediksi Bank of England (BoE) bakal melakukan pemotongan suku bunga lagi, ditambah lagi potensi gejolak politik yang bisa bikin Sterling makin tertekan. Gimana nasib GBP/EUR di tahun 2026 nanti? MUFG sendiri memperkirakan angkanya bisa menyentuh 1.11 di awal 2027. Yuk, kita bedah lebih dalam!
Apa yang Terjadi?
Jadi gini, teman-teman trader. Pergerakan GBP/EUR belakangan ini emang kelihatan minim drama. Tapi, ada beberapa faktor fundamental dan sentimen yang lagi berperan di balik layar. Pertama, kita lihat dulu kondisi Euro. Euro lagi menghadapi tantangan dari sisi ekonomi internal Zona Euro. Inflasi yang mungkin melandai, tapi pertumbuhan ekonomi masih agak lesu. Ditambah lagi, Bank Sentral Eropa (ECB) juga udah nunjukkin sinyal perlunya pelonggaran kebijakan moneter, walau kapan tepatnya masih jadi teka-teki. Nah, pelonggaran ini biasanya bikin mata uang suatu negara atau kawasan jadi kurang menarik buat investor, karena imbal hasil investasinya jadi lebih rendah.
Di sisi lain, Pound Sterling juga punya ceritanya sendiri. Meskipun sempat menguat, para analis di MUFG punya pandangan yang cukup hati-hati. Kenapa? Ada dua alasan utama yang mereka sorot. Pertama, ekspektasi pemotongan suku bunga oleh Bank of England (BoE). Kalau BoE memotong suku bunga, ini bisa bikin Sterling kurang menarik bagi investor asing yang mencari imbal hasil lebih tinggi. Ibaratnya, bunga bank di Inggris lagi mau turun, jadi orang males nabung atau investasi di sana, mending cari yang bunganya lebih gede. Kedua, potensi gejolak politik. Inggris kan abis Brexit, dan sampai sekarang masih ada aja isu-isu yang berpotensi bikin pasar gundah. Pemilu mendatang, ketidakpastian kebijakan, atau isu-isu domestik lainnya bisa jadi bumbu penyedap ketidakpastian ini.
MUFG sendiri, sebagai salah satu lembaga keuangan besar, punya tim analis yang menganalisis berbagai data ekonomi makro, kebijakan bank sentral, dan juga risiko politik. Pandangan mereka yang memprediksi Sterling bakal melemah dalam jangka menengah dan EUR/GBP akan naik (yang berarti GBP/EUR akan turun) ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap faktor-faktor tersebut. Target 1.11 di awal 2027 itu bukan angka sembarangan, tapi hasil proyeksi mereka berdasarkan skenario yang mereka bangun.
Dampak ke Market
Nah, dengan adanya proyeksi dari MUFG ini, serta kondisi ekonomi global yang masih bergejolak, pasar mata uang tentu akan bereaksi. Apalagi kalau institusi sebesar MUFG yang kasih sinyal.
Pertama, jelas ini akan mempengaruhi pasangan GBP/EUR secara langsung. Kalau MUFG benar, maka kita bisa melihat tren penurunan jangka panjang pada pasangan GBP/EUR. Artinya, 1 Euro bisa jadi semakin mahal dibandingkan 1 Pound Sterling. Ini bisa jadi pertanda baik buat importir yang mengandalkan barang dari Zona Euro, karena biaya impor mereka bisa jadi lebih murah. Sebaliknya, buat eksportir Inggris ke Zona Euro, barang mereka bisa jadi lebih mahal buat konsumen Eropa.
Bagaimana dengan currency pairs lainnya? Sentimen terhadap Sterling yang melemah ini bisa merembet ke pasangan lain yang melibatkan GBP, seperti GBP/USD, GBP/JPY, atau GBP/AUD. Jika Sterling melemah terhadap Euro, kemungkinan besar ia juga akan melemah terhadap mata uang kuat lainnya seperti Dolar AS (USD) dan Dolar Australia (AUD), kecuali ada faktor penguat spesifik di pasangan tersebut.
Menariknya, pelemahan Euro yang sempat terjadi juga punya dampak. Jika Euro melemah secara umum, ini bisa menguntungkan pasangan seperti USD/EUR (yang berarti EUR/USD naik, karena Dolar AS menguat terhadap Euro) atau JPY/EUR (yang berarti EUR/JPY naik, karena Dolar Jepang menguat terhadap Euro). Jadi, ada korelasionalitas yang perlu kita perhatikan.
Kondisi ekonomi global saat ini yang masih diliputi ketidakpastian inflasi, suku bunga global yang masih tinggi di beberapa negara tapi mulai melunak di negara lain, serta ketegangan geopolitik, semuanya ini menciptakan lingkungan yang dinamis. Proyeksi MUFG ini hanya salah satu kepingan puzzle dalam gambaran besar pasar keuangan. Trader perlu memantau bagaimana data ekonomi terbaru dari Inggris dan Zona Euro, serta pernyataan dari BoE dan ECB, akan memvalidasi atau bahkan mematahkan proyeksi ini.
Peluang untuk Trader
Dengan adanya proyeksi seperti dari MUFG ini, tentu ada peluang yang bisa diintip oleh para trader. Yang pertama dan paling jelas adalah pasangan GBP/EUR. Jika kita sepakat dengan analisis MUFG, maka potensi penurunan pada GBP/EUR bisa menjadi setup trading jangka panjang yang menarik. Trader bisa mencari peluang untuk melakukan sell (jual) pada pasangan ini, dengan target yang mengarah ke 1.11 yang diproyeksikan MUFG. Tentu saja, target ini bukan berarti akan tercapai dalam semalam. Perlu kesabaran dan manajemen risiko yang baik.
Selain GBP/EUR, kita juga perlu memperhatikan pasangan lain yang melibatkan GBP. Jika sentimen pelemahan Sterling benar-benar menguat, maka kita bisa melihat tren penurunan pada GBP/USD, GBP/JPY, atau GBP/CAD. Ini bisa jadi peluang untuk trading sell pada pasangan-pasangan tersebut. Namun, perlu dicatat, USD, JPY, dan CAD juga punya dinamika internal masing-masing. Jadi, kita tidak bisa serta-merta menyimpulkan bahwa GBP akan melemah terhadap semua mata uang. Perlu analisis lebih spesifik per pasangan.
Yang perlu dicatat adalah level-level teknikal yang penting. Jika kita melihat pada grafik GBP/EUR, level seperti 1.1590 yang sempat dicapai baru-baru ini menjadi level resistance penting. Jika harga gagal menembus level ini dan malah berbalik turun, ini bisa mengkonfirmasi potensi pelemahan. Sebaliknya, jika harga berhasil menembus dan bertahan di atasnya, proyeksi MUFG bisa jadi perlu ditinjau ulang. Level support terdekat setelah 1.1590 yang perlu diwaspadai tentu saja area yang lebih rendah.
Tentu saja, ada risiko yang harus selalu kita waspadai. Proyeksi dari satu institusi tidak selalu benar. Bisa saja ada data ekonomi mengejutkan dari Inggris yang membuat Sterling menguat, atau kebijakan BoE yang tidak sesuai ekspektasi MUFG. Selain itu, faktor politik di Inggris bisa sewaktu-waktu berubah dan memberikan kejutan bagi pasar. Oleh karena itu, sebelum melakukan posisi trading, selalu lakukan riset mandiri, pahami manajemen risiko Anda, dan pasang stop loss yang ketat.
Kesimpulan
Proyeksi MUFG tentang GBP/EUR yang diprediksi akan mencapai 1.11 di awal 2027 memberikan sudut pandang yang menarik sekaligus menimbulkan pertanyaan bagi para trader. Di satu sisi, ini adalah proyeksi dari lembaga keuangan besar yang patut diperhitungkan. Di sisi lain, pasar keuangan selalu dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu.
Saat ini, kita melihat Euro sedang dalam tekanan akibat kondisi ekonomi internal Zona Euro dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter ECB. Sementara itu, Pound Sterling menghadapi tantangan dari potensi pemotongan suku bunga Bank of England dan ketidakpastian politik. Kombinasi kedua faktor ini yang mendasari proyeksi MUFG.
Bagi kita para trader, proyeksi ini bisa menjadi sinyal untuk lebih berhati-hati pada Sterling dan mencari peluang trading yang searah dengan prediksi pelemahan GBP, terutama pada pasangan GBP/EUR. Namun, ini bukan berarti kita harus membabi buta mengikuti prediksi tersebut. Selalu gunakan analisis teknikal sebagai pelengkap, pantau data ekonomi terbaru, dan yang terpenting, terapkan manajemen risiko yang disiplin. Ingat, pasar tidak pernah salah, yang salah adalah kita yang tidak bisa beradaptasi.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.