Gejolak USD/JPY dan Paradoks Kebijakan Jepang: Intervensi di Tengah Badai Baru
Gejolak USD/JPY dan Paradoks Kebijakan Jepang: Intervensi di Tengah Badai Baru
Pasar keuangan kembali dihebohkan dengan lonjakan nilai tukar USD/JPY, memicu spekulasi panas mengenai potensi intervensi oleh pemerintah Jepang. Ketika pasangan mata uang ini merayap mendekati ambang batas yang sebelumnya memicu tindakan intervensi pada tahun 2022, muncul pertanyaan krusial: apakah kali ini akan berbeda? Pergerakan yen saat ini tampaknya memiliki akar yang lebih dalam dan lebih kompleks, tidak hanya sekadar refleksi dari perbedaan suku bunga global, melainkan juga dipicu oleh dinamika internal dan ekspektasi kebijakan domestik Jepang.
Kembalinya Zona Bahaya dan Memori Intervensi 2022
USD/JPY yang kembali mendekati level kritis 155, bahkan mengancam 160, secara otomatis membangkitkan ingatan akan intervensi dramatis yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan Jepang pada September dan Oktober 2022. Kala itu, BoJ menjadi satu-satunya bank sentral utama yang mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar, sementara Federal Reserve AS secara agresif menaikkan suku bunga. Akibatnya, selisih imbal hasil (rate differentials) antara obligasi pemerintah AS dan Jepang melebar secara signifikan, mendorong investor untuk beralih ke aset berdenominasi dolar AS demi imbal hasil yang lebih tinggi, dan memicu pelemahan yen yang tajam.
Kementerian Keuangan Jepang, dengan wewenang untuk menstabilkan mata uang, melangkah intervensi di pasar valuta asing, menjual dolar AS dan membeli yen Jepang dalam upaya menopang mata uang domestik. Tindakan ini, yang merupakan yang pertama sejak 1998, sempat memberikan jeda, namun efeknya cenderung jangka pendek jika fundamental pendorong pelemahan tidak berubah. Saat ini, skenario serupa terhampar di hadapan, namun dengan nuansa yang berbeda, membuat para pengambil kebijakan berada di persimpangan jalan.
Faktor Pendorong Pelemahan Yen: Dulu vs. Sekarang
Pelemahan Yen di Masa Lalu: Perbedaan Suku Bunga Sebagai Biang Keladi
Pada tahun 2022, narasi utama di balik pelemahan yen sangat jelas: perbedaan suku bunga yang semakin melebar. Bank Sentral AS (Federal Reserve) agresif menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi yang melonjak. Sebaliknya, Bank of Japan (BoJ) di bawah kepemimpinan Gubernur Haruhiko Kuroda berpegang teguh pada kebijakan pengendalian kurva imbal hasil (Yield Curve Control/YCC) dan suku bunga negatif, yang bertujuan untuk mencapai target inflasi 2% yang stabil. Kebijakan ini, yang dirancang untuk merangsang ekonomi, justru menjadi pendorong utama arus modal keluar dari Jepang, karena investor mencari imbal hasil yang lebih menguntungkan di tempat lain. Akibatnya, yen melemah tajam, memicu kekhawatiran akan dampak inflasi impor dan ketidakstabilan ekonomi.
Sifat Pelemahan Yen Saat Ini: Dominasi Faktor Domestik dan Politik
Kini, meskipun perbedaan suku bunga antara AS dan Jepang masih menjadi faktor, sifat pelemahan yen terasa berbeda. Alih-alih sepenuhnya didorong oleh dinamika global, pelemahan yen saat ini tampaknya lebih berakar pada ekspektasi dan realitas kebijakan domestik Jepang.
Pertama, pasar merasa kecewa dengan laju normalisasi kebijakan moneter BoJ yang sangat lambat. Meskipun BoJ telah mengakhiri kebijakan suku bunga negatif dan YCC pada Maret 2024, sinyal dari BoJ menunjukkan pendekatan yang sangat hati-hati dan bertahap untuk kenaikan suku bunga berikutnya. Komentar dari Gubernur Kazuo Ueda sering kali menekankan pentingnya data inflasi yang berkelanjutan dan pertumbuhan upah yang kuat sebelum mengambil langkah pengetatan lebih lanjut. Ini menunda ekspektasi kenaikan suku bunga signifikan, membuat yen kurang menarik dibandingkan mata uang lainnya yang didukung oleh prospek kenaikan suku bunga yang lebih cepat.
Kedua, ada faktor politik dan ekspektasi kebijakan yang kurang jelas. Ketidakpastian mengenai arah ekonomi Jepang di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Fumio Kishida, reformasi struktural yang tertunda, dan kurangnya dorongan yang kuat untuk pertumbuhan upah riil yang berkelanjutan, semuanya berkontribusi pada persepsi pasar bahwa Jepang belum sepenuhnya keluar dari dekade deflasi. Investor mungkin melihat kurangnya momentum perubahan yang signifikan sebagai alasan untuk tetap berhati-hati terhadap yen.
Ketiga, data ekonomi domestik yang menunjukkan konsumsi lesu dan pertumbuhan upah yang masih di bawah ekspektasi pasar, meskipun inflasi biaya hidup meningkat, semakin memperkuat argumen bahwa ekonomi Jepang belum cukup kuat untuk menopang yen tanpa intervensi.
Paradoks Kebijakan Jepang: BoJ vs. Kementerian Keuangan
Situasi ini menyoroti paradoks kebijakan yang dihadapi Jepang. Di satu sisi, Bank of Japan (BoJ) memiliki mandat untuk mencapai stabilitas harga, yang berarti mempertahankan inflasi pada target 2%. Untuk itu, BoJ cenderung sangat hati-hati dalam menaikkan suku bunga, agar tidak menggagalkan pemulihan ekonomi yang rapuh atau memicu deflasi kembali. Kebijakan ini secara inheren cenderung melemahkan yen jika suku bunga global lebih tinggi.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan (MoF), yang bertanggung jawab atas stabilitas mata uang dan dampak ekonomi makro dari nilai tukar, semakin khawatir dengan pelemahan yen yang ekstrem. Yen yang terlalu lemah meningkatkan biaya impor (terutama energi dan bahan baku), yang pada gilirannya membebani rumah tangga dan bisnis melalui inflasi. Ini menciptakan tekanan politik dan sosial yang signifikan.
Ketegangan antara kedua lembaga ini terlihat jelas. BoJ ingin menormalisasi kebijakan dengan kecepatan yang tepat untuk ekonomi Jepang, sementara MoF merasa tertekan untuk bertindak demi menstabilkan yen. Intervensi valuta asing adalah alat MoF, tetapi efektivitasnya seringkali terbatas jika tidak didukung oleh perubahan fundamental dalam kebijakan moneter. Jika BoJ terus mempertahankan sikap dovish, intervensi MoF mungkin hanya akan menunda pelemahan yen, bukan menghentikannya. Pasar memahami paradoks ini, yang berkontribusi pada ketidakpastian seputar prospek yen.
Dampak Pelemahan Yen dan Prospek Intervensi
Pelemahan yen memiliki efek dua sisi pada ekonomi Jepang. Di sisi positif, eksportir Jepang diuntungkan karena barang mereka menjadi lebih murah di pasar internasional, meningkatkan daya saing. Industri pariwisata juga mendapatkan dorongan signifikan karena Jepang menjadi tujuan yang lebih terjangkau bagi wisatawan asing.
Namun, di sisi negatif, dampak inflasi impor semakin dirasakan oleh konsumen Jepang. Harga energi, makanan, dan bahan baku yang diimpor melonjak, mengikis daya beli. Hal ini menimbulkan tantangan serius bagi rumah tangga Jepang, terutama di tengah pertumbuhan upah yang masih lambat. Bisnis yang sangat bergantung pada input impor juga menghadapi kenaikan biaya yang signifikan, menekan margin keuntungan mereka.
Dengan USD/JPY kembali ke ambang intervensi, pertanyaan besarnya adalah seberapa efektif intervensi kali ini jika penyebab utama pelemahan yen adalah faktor domestik. Intervensi sepihak, di mana Jepang bertindak sendiri tanpa dukungan dari bank sentral besar lainnya, memiliki batasan. Pasar global yang besar dan likuid dapat dengan cepat menyerap volume penjualan dolar yang dilakukan MoF. Untuk intervensi agar memiliki dampak jangka panjang, perlu ada perubahan fundamental dalam ekspektasi kebijakan moneter BoJ atau konsensus global yang lebih luas tentang stabilitas mata uang. Tanpa perubahan tersebut, intervensi mungkin hanya akan menjadi "obat penghilang rasa sakit" sementara.
Mata pasar kini tertuju pada isyarat dari para pejabat Jepang. Pernyataan verbal dari MoF yang memperingatkan "pergerakan yang berlebihan" atau "spekulatif" sudah mulai terdengar. Namun, pasar akan mencari tindakan nyata. Kecepatan dan besarnya pergerakan USD/JPY akan menjadi penentu apakah Jepang akan kembali turun tangan untuk menopang mata uangnya, mencoba menavigasi paradoks kebijakan di tengah gejolak pasar yang tak terhindarkan.