Greenspan-esque atau Deja Vu? Greene BoE Beri Sinyal Disinflasi Melambat, Siapkah Pasar?

Greenspan-esque atau Deja Vu? Greene BoE Beri Sinyal Disinflasi Melambat, Siapkah Pasar?

Greenspan-esque atau Deja Vu? Greene BoE Beri Sinyal Disinflasi Melambat, Siapkah Pasar?

Beberapa waktu lalu, pasar keuangan global digemparkan oleh pernyataan dari salah satu pejabat Bank of England (BoE), Catherine Greene. Dalam laporannya kepada Komite Seleksi Keuangan, Greene secara tersirat menyebutkan bahwa tren disinflasi yang tadinya diharapkan terus berlanjut, kini menunjukkan tanda-tanda melambat. Pernyataan ini tentu saja memantik kekhawatiran sekaligus menciptakan ketidakpastian baru di tengah upaya bank sentral dunia untuk menavigasi kondisi ekonomi yang penuh gejolak. Pertanyaannya, apakah ini sinyal pembalikan arah yang signifikan, atau sekadar jeda sementara sebelum disinflasi kembali menguasai?

Apa yang Terjadi? Laporan Greene dan Pergeseran Proyeksi BoE

Inti dari pernyataan Greene adalah pergeseran pandangannya mengenai prospek inflasi di Inggris. Di awal periode yang dibahas (Februari 2025 - Februari 2026), Greene masih berpegang teguh pada keyakinan bahwa disinflasi terus berjalan sesuai target, yang berarti ada ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut. Ia bahkan sempat memberikan suara untuk pemotongan suku bunga acuan (Bank Rate) pada Mei tahun lalu.

Namun, seiring berjalannya waktu dan munculnya data-data ekonomi terbaru, pandangannya mulai berubah. Greene mengakui adanya risiko dua arah (two-sided risks) terhadap proyeksi ekonomi sentral. Tapi, yang paling krusial, ia menilai bahwa risiko inflasi yang persisten (sticky inflation) kini lebih dominan daripada risiko perlambatan permintaan (weaker demand) selama setahun terakhir. Ini adalah titik krusial. Mengapa? Karena selama ini, bank sentral cenderung lebih fokus mengendalikan inflasi agar tidak melonjak, namun ketika ada indikasi inflasi akan kembali naik, ini tentu menjadi perhatian serius.

Greene juga menekankan pentingnya memastikan inflasi kembali ke target secara berkelanjutan. Mengingat inflasi sudah berada di atas 2% selama lima tahun terakhir, ini bukanlah masalah sepele. Dalam siklus pemotongan suku bunga ini, strategi Greene adalah manajemen risiko. Ia menimbang biaya mempertahankan kebijakan moneter yang terlalu ketat (restrictive) versus terlalu longgar. Dan keyakinannya saat ini adalah biaya dari kebijakan yang terlalu longgar (yaitu inflasi yang tidak terkendali) jauh lebih besar.

Meskipun data menunjukkan proses disinflasi secara umum masih berlanjut, dan ekonomi riil Inggris lebih tangguh dari perkiraan (terutama di paruh pertama 2025), ada beberapa catatan penting. Konsumsi masyarakat masih lesu (subdued), dan pasar tenaga kerja menunjukkan sedikit pelonggaran yang lebih dari ekspektasi. Data-data ini, meskipun tidak sepenuhnya buruk, memberikan gambaran yang lebih kompleks dan mungkin menjadi dasar pergeseran pandangannya.

Akibatnya, setelah memberikan suara untuk pemotongan suku bunga pada Mei lalu, Greene kemudian memilih untuk menahan (hold) suku bunga pada keputusan berikutnya. Tujuannya jelas: memastikan kebijakan moneter tetap ketat (restrictive) demi mengendalikan inflasi.

Dampak ke Market: Gelombang Ketidakpastian di Berbagai Aset

Pernyataan Greene ini, seperti batu yang dilempar ke kolam, menciptakan riak di pasar keuangan global, terutama di pasar mata uang.

  • EUR/USD: Euro kemungkinan akan mendapat dorongan positif. Jika BoE menahan suku bunga lebih lama atau memperlambat laju pemotongan, ini akan menjaga imbal hasil obligasi Inggris tetap menarik bagi investor. Ini bisa membuat Euro relatif lebih kuat dibandingkan Dollar AS, yang mungkin juga menghadapi tekanan jika Federal Reserve AS (The Fed) justru lebih agresif dalam pemotongan suku bunga.
  • GBP/USD: Ini adalah pasangan mata uang yang paling langsung terpengaruh. Sinyal dari Greene yang condong ke arah penahanan suku bunga berarti Pound Sterling berpotensi menguat. Investor akan mencari imbal hasil yang lebih tinggi di Inggris, yang tentu saja meningkatkan permintaan terhadap Sterling. Namun, jika pasar menafsirkan ini sebagai tanda masalah ekonomi yang lebih dalam (konsumsi lesu, pasar tenaga kerja melonggar), penguatan Sterling bisa terbatas.
  • USD/JPY: Pasangan ini bisa bergerak lebih volatile. Jika pernyataan Greene memicu kekhawatiran global terhadap inflasi dan perlambatan ekonomi, investor cenderung beralih ke aset safe-haven seperti Yen Jepang. Namun, jika pasar melihat ini sebagai penguatan dolar AS karena suku bunga AS yang lebih tinggi dari ekspektasi (mengikuti jejak BoE), maka USD/JPY bisa naik. Perlu diingat, Bank of Japan (BoJ) sendiri masih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga, sehingga dinamika USD/JPY akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan suku bunga di AS dan Eropa.
  • XAU/USD (Emas): Emas, sebagai aset safe-haven klasik, bisa mendapatkan keuntungan dari ketidakpastian. Jika pernyataan Greene memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi global atau potensi krisis inflasi yang sulit dikendalikan, investor bisa berbondong-bondong membeli emas untuk melindungi nilai aset mereka. Namun, emas juga sensitif terhadap pergerakan dolar AS. Jika dolar menguat secara signifikan, ini bisa menekan harga emas.

Secara umum, sentimen pasar akan bergeser dari "penantian siklus pelonggaran" menjadi "penilaian ulang risiko inflasi dan pertumbuhan". Ini menciptakan peluang sekaligus tantangan baru bagi para trader.

Peluang untuk Trader: Mencari Setup di Tengah Kebingungan

Pernyataan Greene ini membuka beberapa peluang trading yang menarik, namun juga menuntut kehati-hatian ekstra:

  1. Perhatikan GBP Terutama Terhadap USD: Seperti yang dibahas sebelumnya, GBP/USD menjadi fokus utama. Jika data inflasi Inggris berikutnya menunjukkan tanda-tanda kenaikan atau stagnasi, ini akan semakin memperkuat argumen BoE untuk menahan suku bunga. Trader bisa mencari setup bullish untuk GBP/USD, namun tetap waspada terhadap level support krusial di sekitar 1.2500-1.2400 yang menjadi penentu tren jangka pendek.
  2. Jeda Perdagangan Jangka Pendek: Mengingat adanya ketidakpastian, banyak trader mungkin memilih untuk mengambil langkah mundur sejenak, mengamati reaksi pasar lebih lanjut, dan menunggu data ekonomi tambahan sebelum membuat keputusan besar. Volatilitas mungkin meningkat, tetapi arah jangka panjang belum tentu jelas. Ini adalah waktu yang tepat untuk fokus pada strategi manajemen risiko dan tidak terburu-buru membuka posisi besar.
  3. Potensi Volatilitas di Aset Safe-Haven: Jika kekhawatiran global meningkat, aset seperti Emas (XAU/USD) dan Yen Jepang (USD/JPY) bisa mengalami lonjakan volatilitas. Trader yang terbiasa dengan aset-aset ini bisa mencari setup intraday atau swing trading yang memanfaatkan pergerakan harga yang cepat, namun dengan stop-loss yang ketat.
  4. Hindari Taruhan Besar pada Arah Tunggal: Simpelnya, pasar saat ini berada dalam mode "wait-and-see". Mengambil posisi besar dengan keyakinan mutlak pada satu arah bisa berisiko. Lebih baik mencari peluang-peluang kecil yang muncul dari pergerakan teknikal dan fundamental yang terkonfirmasi.

Yang perlu dicatat adalah, ini baru satu suara dari BoE. Pernyataan dari Gubernur BoE, Andrew Bailey, atau pejabat lainnya, akan sangat menentukan arah kebijakan selanjutnya.

Kesimpulan: Menjelajahi Kabut Ekonomi yang Makin Tebal

Pernyataan Catherine Greene dari Bank of England ini adalah pengingat yang jelas bahwa pertempuran melawan inflasi belum sepenuhnya dimenangkan. Konsep disinflasi yang melambat ini, seperti mobil yang tadinya ngebut lalu mulai mengerem, bisa berarti berbagai hal. Bisa jadi ini adalah manuver taktis untuk menghindari dampak negatif dari pemotongan suku bunga yang terlalu dini, atau bisa jadi ini adalah sinyal awal bahwa inflasi akan kembali menjadi masalah yang harus dihadapi dengan serius.

Hubungannya dengan kondisi ekonomi global saat ini sangat kuat. Kita masih berada di tengah gelombang ketidakpastian, dengan inflasi yang belum sepenuhnya reda di banyak negara, ditambah dengan ketegangan geopolitik dan potensi perlambatan pertumbuhan global. Pernyataan seperti ini dari salah satu bank sentral besar hanya menambah lapisan kompleksitas.

Secara historis, bank sentral seringkali berada dalam posisi yang sulit. Terlalu dini melonggarkan kebijakan bisa memicu kembali inflasi yang sudah hampir terkendali, sementara terlalu lama mempertahankan kebijakan ketat bisa mencekik pertumbuhan ekonomi. Keputusan BoE ke depan akan menjadi tolok ukur penting, tidak hanya bagi Inggris tetapi juga bagi bank sentral lainnya di dunia. Para trader perlu mencermati dengan seksama setiap data baru dan setiap pernyataan dari para pembuat kebijakan.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`