# Hormuz Aman, Disinflasi Kembali: Apa Dampaknya ke Duit Kita?

> Hormuz Aman, Disinflasi Kembali: Apa Dampaknya ke Duit Kita?   Kabar terbaru dari U.S. Treasury Secretary, Janet Yellen, yang menyiratkan bahwa Amerika Serikat akan kembali merasakan era disinflasi, ditambah jaminan bahwa Selat Hormuz akan tetap bebas dan terbuka, memang terdengar sedikit out of the blue bagi sebagian trader. Tapi, jangan salah, statement ini punya potensi besar untuk mengguncang pasar keuangan global, termasuk portofolio para trader retail di Indonesia. Yellen yang juga sempat

**Tags:** berita forex
**URL:** https://berita.belajarforex.co.id/hormuz-aman-disinflasi-kembali-apa-dampaknya-ke-duit-kita/

---


## Hormuz Aman, Disinflasi Kembali: Apa Dampaknya ke Duit Kita?

# Hormuz Aman, Disinflasi Kembali: Apa Dampaknya ke Duit Kita?

Kabar terbaru dari U.S. Treasury Secretary, Janet Yellen, yang menyiratkan bahwa Amerika Serikat akan kembali merasakan era disinflasi, ditambah jaminan bahwa Selat Hormuz akan tetap bebas dan terbuka, memang terdengar sedikit *out of the blue* bagi sebagian trader. Tapi, jangan salah, statement ini punya potensi besar untuk mengguncang pasar keuangan global, termasuk portofolio para trader retail di Indonesia. Yellen yang juga sempat sarapan bareng Chair The Fed, Jerome Powell, dan optimis Powell akan menemukan keseimbangan antara memberantas inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi, seolah memberikan sinyal *calm before the storm* atau justru awal dari pergerakan baru? Mari kita bedah lebih dalam.

### Apa yang Terjadi?

Inti dari berita ini ada dua poin utama. Pertama, Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, menyatakan keyakinannya bahwa Amerika Serikat akan kembali ke jalur disinflasi. Disinflasi ini secara simpelnya adalah penurunan laju inflasi, bukan deflasi (harga turun semua), tapi kenaikan harga melambat. Bayangkan seperti mobil yang tadinya ngebut terus mengerem perlahan, kecepatannya berkurang tapi masih bergerak maju. Ini kabar baik karena berarti daya beli masyarakat relatif terjaga, meskipun barang-barang mungkin masih naik harganya, tapi tidak secepat sebelumnya.

Poin kedua yang tak kalah penting adalah pernyataan terkait Selat Hormuz. Melalui pembicaraannya dengan Duta Besar Oman, Yellen mendapat jaminan bahwa tidak ada rencana untuk memberlakukan tarif di selat vital tersebut. Selat Hormuz ini ibarat "keran minyak dunia" karena sekitar 20-30% pasokan minyak mentah global melewati jalur ini setiap hari. Jika ada ancaman atau penutupan di sana, harga minyak bisa melonjak drastis, memicu inflasi baru, dan mengacaukan stabilitas ekonomi global. Jaminan bahwa jalur ini aman dan terbuka artinya pasokan energi relatif stabil, mengurangi kekhawatiran lonjakan harga energi yang bisa memicu kegelisahan di pasar.

Menariknya, statement Yellen ini datang setelah pembicaraannya dengan Jerome Powell. Optimisme Yellen bahwa Powell akan melakukan "hal yang benar" untuk menyeimbangkan inflasi dan pertumbuhan menunjukkan adanya koordinasi atau setidaknya pandangan yang sama antara dua institusi ekonomi paling berpengaruh di AS. Ini bisa diartikan sebagai sinyal bahwa The Fed mungkin akan mengambil langkah yang lebih hati-hati dalam menaikkan suku bunga, menimbang antara kebutuhan menekan inflasi dengan risiko memperlambat ekonomi terlalu kencang.

### Dampak ke Market

Pergerakan dua isu ini punya implikasi luas di pasar keuangan.

Pertama, untuk pasangan mata uang utama yang melibatkan Dolar AS (USD). Jika AS memang benar-benar akan memasuki fase disinflasi dan The Fed cenderung menahan laju kenaikan suku bunga, ini bisa membuat USD sedikit kehilangan daya tariknya. Pair seperti **EUR/USD** bisa berpotensi menguat karena Euro mungkin akan terlihat lebih menarik jika suku bunga di zona Euro tetap lebih tinggi atau kebijakan moneter Eropah tidak seketat AS. Sebaliknya, **USD/JPY** bisa mengalami penurunan jika sentimen risk-on kembali muncul dan investor cenderung menjauhi aset *safe haven* seperti Dolar.

Kedua, isu Selat Hormuz yang aman sangat mempengaruhi pasar komoditas, terutama minyak mentah. Jika pasokan minyak dipastikan lancar, tekanan kenaikan harga minyak akan berkurang. Ini berdampak positif bagi mata uang negara-negara importir minyak, namun bisa menekan mata uang negara eksportir minyak. Untuk aset *safe haven* seperti **Emas (XAU/USD)**, ini bisa menjadi sentimen negatif. Emas seringkali diburu saat ketidakpastian geopolitik atau kekhawatiran inflasi tinggi. Jika isu Selat Hormuz mereda dan inflasi AS melambat, permintaan terhadap emas sebagai pelindung nilai bisa berkurang, berpotensi menekan harganya. Namun, perlu dicatat, Emas juga sensitif terhadap kebijakan suku bunga AS; jika suku bunga AS tidak naik terlalu agresif, ini bisa menjadi *support* bagi Emas.

Bagaimana dengan **GBP/USD**? Sterling (GBP) juga akan bereaksi terhadap kebijakan moneter Bank of England (BoE) dan kondisi ekonomi Inggris. Jika disinflasi AS terjadi, ini bisa memicu spekulasi bahwa The Fed akan lebih lunak, yang juga bisa mempengaruhi ekspektasi kebijakan BoE. Jika BoE juga cenderung melunak, GBP mungkin kurang bertenaga, tapi jika ada faktor domestik yang kuat, pergerakan bisa bervariasi.

### Peluang untuk Trader

Statement Yellen ini membuka beberapa peluang bagi kita para trader.

Pasangan mata uang seperti **EUR/USD** patut diperhatikan. Jika pasar mencerna berita ini sebagai sinyal The Fed akan *dovish* (pelunak kebijakan) lebih awal dari perkiraan, EUR/USD berpotensi bergerak naik. Level teknikal *support* penting di kisaran 1.0700-1.0720 bisa menjadi area akumulasi untuk posisi *long* (beli) jika terjadi pantulan kuat. Sebaliknya, jika pasar masih pesimis terhadap ekonomi global, USD bisa menguat dan menekan EUR/USD ke bawah 1.0650.

Untuk **USD/JPY**, jika sentimen global membaik dan investor berani mengambil risiko, pair ini bisa menguji level *resistance* di atas 150.00. Namun, jika The Fed benar-benar menghentikan kenaikan suku bunga lebih cepat, *carry trade* yang menguntungkan dari selisih bunga AS-Jepang bisa berkurang, menekan USD/JPY. Level krusial yang perlu dipantau adalah area 148.50 sebagai *support* potensial.

Pasar komoditas, terutama minyak, bisa mengalami volatilitas lebih rendah jika isu Hormuz mereda. Trader yang terbiasa dengan pergerakan minyak yang dipicu ketegangan geopolitik mungkin perlu mencari setup yang berbeda. Sementara itu, **Emas** bisa menjadi aset yang menarik untuk dipantau. Jika disinflasi AS terwujud tanpa resesi yang dalam, permintaan aset aman bisa menurun. Level *support* di kisaran $2280 per ons bisa menjadi pertanda potensi penurunan, sementara penembusan $2350 bisa membuka jalan untuk penguatan lebih lanjut jika sentimen resesi kembali menguat.

Yang perlu dicatat, statement seperti ini seringkali memicu volatilitas jangka pendek karena pasar mencoba mencerna dampaknya. Penting untuk tetap berpegang pada strategi manajemen risiko yang kuat, menggunakan *stop loss*, dan tidak terburu-buru mengambil posisi hanya berdasarkan satu berita.

### Kesimpulan

Kembalinya ekspektasi disinflasi di AS, ditambah jaminan stabilitas di Selat Hormuz, adalah dua perkembangan signifikan yang berpotensi membentuk narasi pasar ke depan. Disinflasi yang terwujud tanpa disertai resesi berat adalah skenario *bullish* bagi aset berisiko dan cenderung menekan Dolar AS. Namun, jika ketidakpastian geopolitik lain muncul atau inflasi AS ternyata lebih membandel dari perkiraan, Dolar bisa kembali menguat.

Para trader perlu jeli mengamati data ekonomi AS yang akan datang, serta sinyal-sinyal dari The Fed. Apakah mereka akan benar-benar bergeser ke arah kebijakan yang lebih lunak? Dan bagaimana kondisi ekonomi global akan merespons disinflasi AS? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan kunci yang akan menentukan arah pergerakan pasar dalam beberapa waktu ke depan. Tetap terinformasi dan waspada adalah kunci sukses kita di pasar yang dinamis ini.

---

*Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.*
