Inflasi Inggris Terjun Bebas ke Bawah 2% April Nanti? Ini yang Bikin Jantung Trader Berdebar!

Inflasi Inggris Terjun Bebas ke Bawah 2% April Nanti? Ini yang Bikin Jantung Trader Berdebar!

Inflasi Inggris Terjun Bebas ke Bawah 2% April Nanti? Ini yang Bikin Jantung Trader Berdebar!

Bayangkan Anda sedang menikmati secangkir kopi hangat sambil memantau pergerakan harga di pasar. Tiba-tiba, sebuah berita mengejutkan datang: inflasi Inggris, yang saat ini masih tertinggi di antara negara-negara G7, diprediksi bisa anjlok di bawah target 2% hanya dalam hitungan bulan, tepatnya April nanti. Angka 3.4% yang kita lihat sekarang, bisa saja menjelma jadi angka yang jauh lebih "dingin". Ini bukan sekadar angka statistik biasa, lho. Ini adalah potensi gempa bumi kecil di pasar finansial yang dampaknya bisa terasa sampai ke kantong kita sebagai trader retail di Indonesia.

Apa yang Terjadi? Benarkah Inflasi Inggris Akan "Terjun Bebas"?

Nah, berita ini memang terdengar agak kontradiktif, kan? Bagaimana mungkin inflasi yang tadinya "menggigit" seperti sekarang ini, bisa tiba-tiba kehilangan taringnya begitu cepat? Mari kita bedah sedikit.

Saat ini, inflasi Inggris memang menjadi perhatian utama. Kenaikan harga barang dan jasa yang terus-menerus ini jelas memberatkan rumah tangga dan juga memberikan tekanan pada Bank of England (BoE) untuk bertindak. BoE sendiri sudah memprediksi dalam prakiraan November lalu bahwa inflasi rata-rata di kuartal kedua akan berada di kisaran 2.9%. Jadi, jika benar inflasi menyentuh angka di bawah 2% pada April, ini akan menjadi undershoot yang signifikan dari prediksi mereka sendiri. Artinya, BoE mungkin akan sedikit "terkejut" dengan kecepatan penurunan ini.

Apa saja faktor di balik potensi penurunan drastis ini? Ada beberapa "biang keladi" utama yang perlu kita perhatikan.

Pertama, energi. Harga energi global, terutama gas alam, sudah menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir dibandingkan dengan lonjakan yang kita lihat tahun lalu. Penurunan harga energi ini punya efek domino ke banyak sektor, mulai dari biaya produksi hingga ongkos transportasi. Simpelnya, kalau biaya listrik dan bahan bakar turun, maka biaya untuk memproduksi barang dan mendistribusikannya juga ikut turun, yang pada akhirnya bisa menahan laju kenaikan harga.

Kedua, isu rantai pasok. Pandemi COVID-19 sempat membuat rantai pasok global kacau balau, menyebabkan kelangkaan barang dan lonjakan harga. Namun, seiring dengan normalisasi aktivitas ekonomi pasca-pandemi, banyak hambatan dalam rantai pasok ini mulai terurai. Kapasitas produksi kembali meningkat, logistik menjadi lebih lancar, dan pasokan barang mulai stabil. Ini tentu saja akan mengurangi tekanan inflasi dari sisi ketersediaan barang.

Ketiga, kebijakan moneter yang sudah berjalan. Bank of England telah menaikkan suku bunga acuan berkali-kali dalam upaya mengerem inflasi. Meskipun efeknya butuh waktu untuk sepenuhnya terasa, kenaikan suku bunga ini mulai mengerem permintaan konsumen. Ketika permintaan mulai melambat, penjual tidak punya banyak ruang untuk menaikkan harga seenaknya.

Yang perlu dicatat, prediksi ini datang dari analisis yang cukup mendalam, meskipun masih bersifat proyeksi. Artinya, ada beberapa asumsi yang digunakan, dan tentu saja, pasar selalu punya kejutan. Namun, jika skenario ini benar-benar terjadi, ini akan menjadi sebuah cerita yang menarik.

Dampak ke Market: Siapa yang Merasakan Getarannya?

Nah, ini bagian yang paling penting buat kita, para trader. Bagaimana pergerakan inflasi Inggris ini akan bergema di pasar finansial global?

Euro/US Dollar (EUR/USD): Jika inflasi Inggris turun tajam, ini bisa memberikan sinyal bahwa Bank of England mungkin akan lebih cepat melonggarkan kebijakan moneternya, atau setidaknya tidak perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut. Ini bisa membuat Sterling (GBP) menjadi kurang menarik dibandingkan mata uang lain, termasuk Euro. Jika pasar melihat BoE kurang "hawkish" (agresif menaikkan suku bunga) dibandingkan European Central Bank (ECB), maka EUR/USD bisa mendapatkan momentum untuk naik.

Pound Sterling/US Dollar (GBP/USD): Ini adalah pasangan yang paling jelas terpengaruh. Kabar baiknya, penurunan inflasi bisa berarti ekonomi Inggris lebih sehat. Kabar "kurang baik" bagi pemegang Sterling adalah, jika inflasi turun terlalu cepat dan jauh di bawah target, ini bisa memicu ekspektasi bahwa Bank of England akan mulai menurunkan suku bunga lebih awal. Penurunan suku bunga biasanya tidak disukai oleh mata uang suatu negara. Jadi, meskipun inflasi turun, GBP/USD bisa saja mengalami tekanan jual. Ini akan menjadi dilema bagi BoE.

US Dollar/Japanese Yen (USD/JPY): Pergerakan Dolar AS (USD) sangat dipengaruhi oleh kebijakan Federal Reserve (The Fed). Jika inflasi Inggris turun tajam, ini bisa menambah keyakinan bahwa laju inflasi global secara umum sedang mendingin. Ini bisa sedikit meredakan kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga agresif The Fed di masa depan. Namun, jika USD/JPY sedang dalam tren penguatan karena perbedaan suku bunga yang lebar, penurunan inflasi Inggris saja mungkin tidak cukup untuk membalikkan tren tersebut kecuali ada sinyal serupa dari AS.

XAU/USD (Emas): Emas sering dianggap sebagai aset "safe haven" dan pelindung nilai terhadap inflasi. Jika inflasi benar-benar turun di bawah target, ini bisa mengurangi daya tarik emas sebagai pelindung nilai inflasi. Logam mulia ini mungkin akan kehilangan salah satu "dorongan" utamanya. Namun, emas juga dipengaruhi oleh suku bunga. Jika ekspektasi suku bunga naik lebih rendah, ini bisa menjadi sedikit positif untuk emas karena biaya peluang memegang emas (yang tidak memberikan bunga) menjadi lebih kecil. Jadi, dampaknya bisa campur aduk dan perlu dicermati faktor-faktor lain yang mempengaruhi emas.

Secara umum, sentimen market akan menjadi lebih berhati-hati. Penurunan inflasi yang cepat bisa memicu perdebatan tentang kesehatan ekonomi dan potensi kebijakan moneter ke depan. Investor akan mencari aset yang lebih stabil dan mencari sinyal yang lebih jelas dari bank sentral utama dunia.

Peluang untuk Trader: Di Mana "Durian Runtuh" Tersembunyi?

Dalam setiap pergerakan pasar, selalu ada peluang bagi trader yang jeli. Penurunan inflasi Inggris yang mengejutkan ini bisa membuka beberapa setup trading menarik:

  • Perdagangan GBP/USD yang Strategis: Seperti yang dibahas sebelumnya, GBP/USD bisa menjadi "roller coaster". Jika pasar bereaksi berlebihan terhadap berita penurunan inflasi dan Sterling melemah tajam, trader yang berani bisa mencari peluang buy di level-level support teknikal yang kuat. Sebaliknya, jika ada sinyal bahwa BoE akan tetap "hawkish" untuk menjaga momentum ekonomi, maka GBP/USD bisa kembali menguat. Yang perlu diperhatikan di sini adalah level teknikal. Kita perlu memantau support di sekitar 1.2500 dan resistance di area 1.2700-1.2800, serta level psikologis 1.2000 jika sentimen menjadi sangat negatif.

  • Mencari Kelemahan Dolar AS: Jika inflasi global terus menunjukkan tren penurunan, ini bisa memperkuat argumen bahwa the Fed akan lebih cepat mengakhiri siklus kenaikan suku bunganya atau bahkan mulai memotong suku bunga lebih awal dari perkiraan. Jika ini terjadi, Dolar AS bisa mengalami pelemahan. Pasangan seperti AUD/USD atau NZD/USD yang sensitif terhadap permintaan global bisa menjadi pilihan untuk dicermati, karena mereka cenderung menguat ketika Dolar AS melemah.

  • Emas: Perangkap "Bull" atau Peluang "Bear"? Emas bisa menjadi pasar yang tricky. Jika penurunan inflasi ini mendorong ekspektasi penurunan suku bunga global yang lebih luas, ini bisa memberikan dukungan jangka panjang untuk emas. Namun, jika sentimen risk-on (investor berani mengambil risiko) kembali dominan karena ekonomi global stabil, aliran dana ke aset aman seperti emas bisa berkurang. Trader perlu berhati-hati dan memantau berita makroekonomi global secara keseluruhan. Untuk emas, level support penting di sekitar $2000 per ons dan resistance di $2075-$2080 akan menjadi acuan.

Yang paling penting, selalu ingat tentang manajemen risiko. Pasar bisa bergerak liar dan cepat, jadi selalu gunakan stop-loss yang tepat dan jangan pernah mengambil risiko lebih dari yang Anda sanggup untuk kehilangan.

Kesimpulan: Angin Perubahan di Horizon Pasar

Kemungkinan inflasi Inggris turun drastis di bawah target 2% pada April nanti adalah sinyal bahwa angin perubahan sedang berhembus di pasar finansial global. Ini bukan hanya berita ekonomi, tapi sebuah narasi yang bisa membentuk pergerakan harga aset-aset penting.

Kita perlu melihat bagaimana Bank of England akan merespons situasi ini. Apakah mereka akan tetap berhati-hati atau justru lebih agresif dalam kebijakan moneternya? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan arah pergerakan Sterling dan juga sentimen pasar secara keseluruhan.

Bagi kita para trader retail, ini adalah saat yang tepat untuk meningkatkan kewaspadaan, mempelajari data-data terbaru, dan bersiap untuk berbagai skenario. Dengan analisis yang matang dan strategi manajemen risiko yang baik, kita bisa memanfaatkan pergerakan pasar yang dinamis ini. Ingat, pasar finansial selalu memberikan peluang, namun juga selalu menuntut kita untuk terus belajar dan beradaptasi.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`