Inflasi Inti Inggris Meredup Lagi: Saatnya Bank of England Tahan Rem?
Inflasi Inti Inggris Meredup Lagi: Saatnya Bank of England Tahan Rem?
Para trader, ada kabar baru nih dari Inggris yang cukup menarik perhatian. Huw Pill, salah satu pejabat penting di Bank of England (BoE), baru saja memberikan sinyal bahwa disinflasi, alias penurunan laju inflasi, ternyata masih berjalan. Ini menarik, karena sebelumnya sempat ada kekhawatiran inflasi di Inggris ini macet. Nah, apa artinya ini buat market dan potensi trading kita? Yuk, kita bedah bareng!
Apa yang Terjadi?
Jadi begini ceritanya. Beberapa waktu lalu, pasar sempat sedikit khawatir melihat data inflasi Inggris yang seolah stagnan. Ibaratnya, kalau kita lagi lari maraton, kecepatannya menurun tapi kok nggak sampai garis finish. Kekhawatiran ini muncul karena inflasi yang tinggi itu kan musuh utama para bank sentral, dan kalau nggak bisa ditekan, bisa-bisa mereka terpaksa menjaga suku bunga tinggi lebih lama lagi.
Nah, Huw Pill, yang posisinya di BoE cukup krusial, dalam sebuah acara semalam (atau pagi tadi waktu Indonesia, tergantung kapan Anda membacanya!) memberikan pandangan yang sedikit berbeda. Beliau mengatakan, "proses disinflasi itu masih utuh, belum selesai." Penting nih, kata "masih utuh". Ini menandakan BoE nggak melihat ada masalah fundamental yang besar yang membuat inflasi tiba-tiba melonjak lagi.
Lebih lanjut, Pill menekankan pentingnya fokus pada "inflasi inti" (core inflation). Kalau inflasi keseluruhan (headline inflation) itu seperti permukaan air yang naik turun karena pasang surut, nah inflasi inti ini lebih mencerminkan arus bawah yang sebenarnya. Data-data yang disajikan dalam presentasinya juga mengindikasikan bahwa inflasi inti ini "jatuh lagi, setelah sempat macet". Ini seperti menemukan kembali jalur yang benar setelah sempat sedikit tersesat.
Yang paling melegakan, beliau cukup yakin bahwa inflasi headline akan mencapai target BoE di akhir musim semi nanti. Target BoE ini biasanya sekitar 2%, jadi kalau memang tercapai, ini adalah kabar baik yang besar.
Tapi, jangan keburu santai dulu. Pill juga menegaskan bahwa BoE perlu "mempertahankan kebijakan moneter yang restriktif". Restriktif itu artinya kebijakan yang cenderung menahan pertumbuhan ekonomi untuk mengendalikan inflasi. Jadi, meskipun inflasi turun, suku bunga kemungkinan besar belum akan turun dalam waktu dekat. Bank sentral masih perlu memastikan bahwa inflasi benar-benar terkendali dan nggak kembali naik.
Menariknya, Pill juga menyebutkan bahwa mereka "tidak melihat adanya keruntuhan aktivitas ekonomi" dan indikator yang berorientasi ke depan juga "tidak menyarankan hal itu mungkin terjadi". Ini penting karena terkadang penurunan inflasi bisa jadi sinyal perlambatan ekonomi yang parah. Tapi sepertinya, Inggris masih bisa bernapas lega untuk saat ini. Ekonomi tidak kolaps, tapi juga tidak terlalu panas.
Dampak ke Market
Pernyataan Huw Pill ini tentu saja punya efek domino ke pasar keuangan, terutama untuk mata uang Poundsterling Inggris (GBP).
Pertama, GBP/USD. Dengan kabar inflasi inti yang kembali turun, ekspektasi bahwa BoE akan segera memangkas suku bunga sedikit berkurang. Ini biasanya positif buat GBP, karena imbal hasil (yield) obligasi Inggris yang cenderung lebih tinggi menarik investor. Jadi, kita bisa lihat GBP/USD berpotensi menguat, setidaknya ada dorongan positif. Namun, perlu dicatat, ini juga sangat bergantung pada pergerakan USD itu sendiri. Kalau dolar AS lagi menguat karena faktor lain, penguatan GBP mungkin akan tertahan.
Kedua, EUR/GBP. Jika GBP menguat, secara otomatis pair EUR/GBP cenderung turun. Ini karena Euro (EUR) dibandingkan dengan Poundsterling (GBP) menjadi lebih lemah. Trader yang memantau pair ini mungkin melihat potensi penurunan, terutama jika sentimen terhadap ekonomi Inggris membaik lebih cepat dibandingkan Eurozone.
Ketiga, USD/JPY. Hubungan ini sedikit lebih kompleks. Jika BoE mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, ini bisa membuat perbedaan imbal hasil antara Inggris dan Jepang (yang masih sangat akomodatif) semakin lebar. Ini bisa mendukung penguatan GBP terhadap JPY. Namun, USD/JPY lebih banyak dipengaruhi oleh perbedaan suku bunga AS (The Fed) dan Jepang. Pernyataan BoE ini tidak secara langsung mengubah kebijakan The Fed, tapi memberikan sedikit gambaran global mengenai arah kebijakan bank sentral utama. Jika data Inggris ini menambah keyakinan bahwa inflasi global secara umum terkendali, ini bisa mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk menurunkan suku bunga, yang secara tidak langsung bisa mendukung USD.
Keempat, XAU/USD (Emas). Emas ini aset "safe haven" dan juga sensitif terhadap kebijakan moneter. Ketika inflasi tinggi dan ada ketidakpastian ekonomi, emas cenderung menguat. Namun, jika inflasi mulai terkendali dan bank sentral mulai melunak (atau setidaknya tidak terlalu agresif menaikkan suku bunga lagi), ini bisa memberikan tekanan pada emas karena daya tariknya sebagai lindung nilai inflasi berkurang, dan imbal hasil aset lain yang lebih aman menjadi lebih menarik. Pernyataan Pill yang menunjukkan inflasi terkendali ini bisa menjadi faktor yang sedikit menekan harga emas, meskipun sentimen global secara keseluruhan tetap menjadi penggerak utama.
Secara umum, sentimen pasar terhadap aset-aset Inggris cenderung membaik karena ada konfirmasi bahwa masalah inflasi bukan masalah yang "terlalu parah" dan ekonomi tidak kolaps. Ini bisa memberikan dukungan pada GBP. Namun, narasi global tentang kebijakan suku bunga bank sentral besar lainnya (terutama The Fed dan ECB) tetap akan menjadi penentu arah pasar dalam jangka panjang.
Peluang untuk Trader
Nah, buat kita para trader, informasi seperti ini bisa jadi angin segar untuk mencari setup trading.
Pertama, perhatikan GBP/USD. Dengan adanya potensi penguatan GBP, kita bisa mencari setup bullish. Mungkin menunggu pullback atau koreksi kecil untuk entry beli. Level support penting yang perlu dicermati adalah area di sekitar 1.2450 atau bahkan 1.2400, sementara resistance awal bisa berada di sekitar 1.2550 dan target yang lebih jauh di 1.2600+. Namun, selalu ingat untuk pasang stop loss yang ketat, karena volatilitas pasar mata uang bisa sangat tinggi.
Kedua, EUR/GBP. Jika Anda adalah trader yang lebih suka pair yang lebih fokus pada perbandingan dua mata uang, pair ini bisa menarik. Dengan adanya potensi pelemahan EUR relatif terhadap GBP, kita bisa mencari setup bearish di EUR/GBP. Level support yang perlu diperhatikan adalah di bawah 0.8500, sementara resistance terdekat ada di sekitar 0.8550.
Ketiga, GBP/JPY. Jika kita melihat ada bias penguatan pada GBP dan potensi pelemahan pada JPY (karena BoJ masih sangat dovish), pair ini bisa jadi pilihan. Namun, pergerakan JPY saat ini sangat sensitif terhadap intervensi bank sentral dan komentar pejabat. Jadi, analisis teknikal dan fundamental harus benar-benar matang.
Yang perlu dicatat, pernyataan pejabat bank sentral seringkali bersifat "forward-looking", artinya mereka berbicara tentang apa yang mereka lihat ke depan. Pasar bisa saja bereaksi berlebihan atau malah tidak bereaksi sama sekali jika sudah "ter-priced-in". Jadi, jangan lupa selalu kombinasikan dengan analisis teknikal, perhatikan level-level support dan resistance yang krusial. Jangan juga lupakan data ekonomi Inggris atau AS lainnya yang akan rilis.
Kesimpulan
Jadi, intinya, kabar dari Huw Pill ini memberikan sedikit kelegaan bagi pasar yang khawatir dengan inflasi Inggris. Sinyal bahwa inflasi inti kembali turun dan proses disinflasi masih berjalan, meskipun belum selesai, adalah perkembangan yang positif. Ini menunjukkan bahwa Bank of England berada di jalur yang benar untuk mengendalikan inflasi tanpa harus merusak ekonomi terlalu parah.
Namun, jangan buru-buru mengira suku bunga akan langsung turun. BoE masih ingin "mempertahankan kebijakan restriktif" untuk memastikan inflasi benar-benar terkendali. Ini berarti, GBP mungkin akan mendapat dukungan, tapi kenaikannya mungkin tidak akan se-eksplosif yang dibayangkan jika ekspektasi penurunan suku bunga belum terwujud. Tetap waspada dan cermat dalam setiap pengambilan keputusan trading Anda. Pasar finansial itu dinamis, dan selalu ada peluang serta risiko yang menyertainya.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.