Inflasi Kanada Loyo, Kenapa Rupiah (dan Aset Lain) Tetap Santai?

Inflasi Kanada Loyo, Kenapa Rupiah (dan Aset Lain) Tetap Santai?

Inflasi Kanada Loyo, Kenapa Rupiah (dan Aset Lain) Tetap Santai?

Belum lama ini, data Consumer Price Index (CPI) atau Indeks Harga Konsumen (IHK) Kanada dirilis. Angka inflasi inti (core CPI) mereka ternyata kembali mengecewakan ekspektasi, alias melandai. Nah, buat kita para trader ritel di Indonesia, dengar kata "inflasi loyo" memang biasanya langsung bikin was-was. Kenapa? Karena inflasi itu ibarat detak jantung perekonomian. Kalau melambat, bisa jadi ada masalah. Tapi yang menarik, pasar kali ini, termasuk pasar Indonesia, sepertinya nggak terlalu terkejut. Aneh kan? Mari kita bedah lebih dalam!

Apa yang Terjadi dengan Inflasi Kanada?

Jadi gini, data inflasi Kanada yang keluar kemarin menunjukkan bahwa angka inflasi inti mereka, yang nggak termasuk komponen bergejolak seperti energi dan makanan, kembali tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan. Ada tiga ukuran utama inflasi inti di Kanada, dan ketiganya kompak menunjukkan pelemahan dari bulan ke bulan (month-on-month) dalam penyesuaian musiman.

Secara umum, inflasi yang melambat ini seharusnya jadi kabar baik, kan? Artinya, harga-harga barang dan jasa nggak naik secepat dulu, sehingga daya beli masyarakat nggak tergerus. Tapi, kenapa pasar nggak heboh?

Latar belakangnya begini: Bank sentral Kanada (Bank of Canada/BoC) memang sudah berbulan-bulan melakukan pengetatan kebijakan moneter, yaitu menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang sempat meroket pasca pandemi. Mereka berharap, dengan suku bunga yang lebih tinggi, roda perekonomian akan sedikit melambat, sehingga permintaan akan turun dan akhirnya inflasi terkendali. Nah, data CPI yang melandai ini justru adalah sinyal positif dari sudut pandang BoC. Ini artinya, kebijakan mereka mulai membuahkan hasil.

Namun, di sisi lain, inflasi yang terlalu lemah juga bisa jadi sinyal perlambatan ekonomi yang berlebihan. Kalau permintaan benar-benar anjlok, bisnis bisa tertekan, pengangguran bisa naik, dan akhirnya pertumbuhan ekonomi jadi terhambat. Ini yang bikin pasar jadi agak bingung menafsirkan data ini. Apakah ini pertanda baik karena inflasi terkendali, atau pertanda buruk karena ekonomi mulai melambat secara signifikan?

Reaksi pasar terhadap data ini memang terlihat minim. Imbal hasil obligasi pemerintah Kanada, misalnya, hanya turun tipis, sekitar 2 basis poin untuk tenor 2 tahun. Dolar Kanada (CAD) terhadap dolar AS (USD) juga hanya mengalami depresiasi ringan, sekitar seperempat sen. Ini menunjukkan pasar sudah memperhitungkan kemungkinan inflasi yang melambat, atau memang sektor lain yang lebih dominan saat ini.

Dampak ke Market dan Hubungannya dengan Ekonomi Global

Nah, pertanyaan pentingnya, bagaimana data inflasi Kanada yang "sepi" ini bisa berdampak ke aset-aset yang kita pantau, termasuk yang di Indonesia? Simpelnya, pergerakan data ekonomi di negara-negara maju, terutama yang punya korelasi erat dengan perekonomian global, bisa memberikan efek domino.

Untuk EUR/USD, pelemahan dolar Kanada (meskipun kecil) secara teori bisa memberikan sentimen positif bagi dolar AS secara umum, karena keduanya cenderung dianggap sebagai safe haven dibandingkan aset berisiko. Namun, pengaruhnya terhadap EUR/USD biasanya lebih didorong oleh data dari Eropa dan AS sendiri. Data inflasi Kanada yang lemah ini mungkin tidak akan langsung menggeser bias EUR/USD secara signifikan, kecuali jika menjadi bagian dari tren global yang lebih luas.

Pasangan GBP/USD juga kemungkinan tidak akan banyak terpengaruh secara langsung. Fokus pasar saat ini lebih tertuju pada data inflasi Inggris dan kebijakan Bank of England (BoE). Namun, jika tren perlambatan inflasi global ini terus berlanjut, ini bisa menekan ekspektasi kenaikan suku bunga di banyak negara, termasuk Inggris, yang pada gilirannya bisa menekan GBP.

Untuk USD/JPY, data inflasi Kanada yang lemah ini bisa memperkuat narasi bahwa bank sentral di banyak negara tidak perlu lagi agresif menaikkan suku bunga. Ini bisa membuat dolar AS sedikit melemah terhadap yen jika pasar mulai berspekulasi bahwa Federal Reserve AS juga akan segera mengakhiri siklus kenaikannya. Namun, USD/JPY lebih banyak dipengaruhi oleh perbedaan kebijakan moneter antara AS dan Jepang, serta sentimen risk-on/risk-off.

Yang menarik, bagaimana dengan XAU/USD (Emas)? Emas seringkali bergerak berlawanan dengan dolar AS. Jika data Kanada ini secara tidak langsung menahan laju penguatan dolar AS, atau bahkan memicu ekspektasi penurunan suku bunga di masa depan, ini bisa memberikan angin segar bagi harga emas. Emas cenderung bersinar ketika suku bunga rendah atau ekspektasi suku bunga rendah, karena biaya oportunitas memegangnya (yaitu bunga yang hilang) menjadi lebih kecil.

Secara global, kondisi ekonomi saat ini masih dibayangi oleh kekhawatiran inflasi yang persisten namun perlahan mulai terkendali di beberapa negara, di sisi lain ada ketakutan resesi karena kenaikan suku bunga yang agresif. Data inflasi Kanada yang melambat ini bisa jadi salah satu bagian dari teka-teki besar tersebut. Jika tren ini berlanjut di negara-negara G7 lainnya, ini akan memperkuat pandangan bahwa siklus pengetatan moneter global mungkin mendekati akhir.

Peluang untuk Trader

Meskipun reaksi pasar terhadap data inflasi Kanada ini terbilang minim, bukan berarti tidak ada peluang. Kita perlu melihat data ini dalam konteks yang lebih luas.

Pertama, fokus pada pasangan mata uang USD/CAD. Pelemahan dolar Kanada yang tipis bisa menjadi sinyal awal potensi tren deprecation yang lebih besar jika data ekonomi Kanada lainnya terus menunjukkan pelemahan. Trader bisa memantau level support dan resistance kunci untuk potensi strategi trading.

Kedua, perhatikan XAU/USD. Jika tren perlambatan inflasi global ini terus berlanjut dan pasar mulai mendiskon potensi penurunan suku bunga, emas bisa jadi aset yang menarik. Level teknikal penting di emas seperti level $1900 atau $1950 per ons bisa menjadi area pantauan untuk potensi breakout atau reversal.

Ketiga, jangan lupakan IHSG kita. Meskipun tidak terkait langsung, sentimen global sangat berpengaruh. Perlambatan inflasi global dan potensi suku bunga yang tidak naik lagi bisa menjadi sentimen positif untuk pasar saham. Namun, kita juga harus tetap waspada terhadap perlambatan ekonomi itu sendiri yang bisa menekan profitabilitas perusahaan. Perhatikan saham-saham yang sensitif terhadap kondisi ekonomi, seperti sektor konsumer dan konstruksi.

Yang perlu dicatat adalah bahwa data ini hanya satu keping puzzle. Trader perlu menggabungkannya dengan data-data ekonomi lain dari AS, Eropa, dan Tiongkok, serta pernyataan-pernyataan dari bank sentral utama.

Kesimpulan

Data inflasi Kanada yang melambat ini memang memberikan sedikit kebingungan. Di satu sisi, ini adalah indikasi bahwa kebijakan pengetatan moneter mulai efektif. Namun, di sisi lain, ini juga bisa menjadi sinyal potensi perlambatan ekonomi yang berlebihan. Pasar yang bereaksi datar menunjukkan bahwa ini mungkin sudah diantisipasi, atau memang ada isu lain yang lebih mendominasi sentimen global saat ini.

Bagi kita para trader, hal ini mengingatkan untuk tidak terpaku pada satu data saja. Penting untuk terus memantau perkembangan inflasi dan kebijakan moneter di negara-negara besar, serta bagaimana hal itu berkorelasi dengan aset-aset yang kita perdagangkan. Fleksibilitas dan kemampuan membaca gambaran besar akan menjadi kunci di tengah dinamika pasar yang terus berubah. Tetap waspada dan kelola risiko dengan baik!


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`