Inflasi Meroket, Curve Phillips Makin Curam? Ini Dampaknya ke Duit Kita!

Inflasi Meroket, Curve Phillips Makin Curam? Ini Dampaknya ke Duit Kita!

Inflasi Meroket, Curve Phillips Makin Curam? Ini Dampaknya ke Duit Kita!

Gimana kabar, Sobat Trader? Lagi pada mantau pergerakan market nggak hari ini? Pasti pada deg-degan ya lihat volatilitas yang kayak roller coaster. Nah, ada satu isu nih yang lagi ramai dibahas, dan ini punya potensi gede buat ngocok isi dompet kita, yaitu fenomena "Phillips Curve" yang konon katanya lagi berubah. Pernah dengar? Jangan panik dulu, ini bukan pelajaran ekonomi kuliah yang bikin ngantuk. Anggap aja kita lagi ngobrolin "resep rahasia" yang bikin harga-harga naik atau turun, dan gimana resep itu bisa bikin cuan atau buntung di trading kita.

Apa yang Terjadi?

Jadi begini ceritanya, Sobat. Konsep Phillips Curve ini kan udah lama banget ada di dunia ekonomi. Simpelnya gini, dia tuh kayak ngasih tahu kita ada hubungan terbalik antara tingkat pengangguran sama tingkat inflasi. Artinya, kalau pengangguran rendah banget (banyak orang punya kerja dan duit buat belanja), biasanya inflasi jadi naik. Sebaliknya, kalau pengangguran tinggi, orang nggak banyak punya duit, permintaan turun, inflasi pun cenderung melandai. Nah, selama ini, hubungan ini dianggap cukup stabil. Ibaratnya, kalau kamu naikin satu bahan di resep, hasilnya ya naiknya proporsional. Kalau kamu naikin 2x lipat bahan itu, hasilnya juga naik 2x lipat.

Tapi, belakangan ini, terutama pas inflasi global melonjak tinggi kayak abis minum kopi kebanyakan, para ekonom ngelihat ada yang aneh. Proposionalitas ini kayak nggak berlaku lagi. Ketika ada "kejutan" (shock) yang gede banget di ekonomi, baik dari sisi permintaan maupun pasokan, dampaknya ke harga itu nggak sekadar "naik sekian persen". Fenomena ini sering disebut "steepening" dari Phillips Curve.

Bayangin gini, Sobat. Kalau harga minyak dunia naik dikit, harga bensin mungkin naik dikit juga, dampaknya nggak terlalu kerasa buat inflasi bulanan. Nah, ini yang disebut shock kecil, responsnya juga kecil. Tapi, kalau tiba-tiba ada perang besar, pasokan energi terganggu drastis, harga minyak terbang tinggi kayak roket. Nggak cuma harga bensin yang melambung, tapi juga semua barang yang butuh energi buat produksi dan distribusinya. Ini yang disebut shock besar. Nah, responsnya terhadap inflasi itu jadi lebih "dalem", lebih "curam", nggak cuma sekadar naik proporsional.

Buktinya, kita lihat sendiri kan kemarin gimana inflasi di banyak negara sempat nembus rekor tertinggi dalam dekade terakhir. Padahal, tingkat pengangguran di beberapa negara malah cenderung nggak terlalu tinggi. Ini kayak ada disonansi, ada yang nggak pas sama teori lama. Jadi, ketika ada lonjakan harga-lonjakan besar (cost-push inflation) kayak yang kita alami belakangan, dampaknya ke harga barang secara keseluruhan jadi lebih "melekat" dan susah turunnya. Ini yang bikin bank sentral pusing tujuh keliling buat ngendalikan inflasi.

Dampak ke Market

Nah, kalau udah ngomongin inflasi yang "nakal" dan Phillips Curve yang "rewel", ini pasti nyamber ke market, Sobat. Khususnya buat currency pairs favorit kita.

  • EUR/USD: Dolar Euro nih lagi jadi sorotan. Kalau inflasi di Eropa tetap tinggi dan nggak terkendali, Bank Sentral Eropa (ECB) terpaksa harus naikin suku bunga lebih agresif. Kenaikan suku bunga ini biasanya bikin mata uangnya jadi lebih menarik buat investor karena imbal hasil yang lebih tinggi. Ini bisa ngasih support ke Euro. Tapi, kalau inflasi yang tinggi malah bikin ekonomi Eropa melambat drastis (stagflasi), ini bisa jadi bumerang buat Euro. Jadi, kita perlu lihat data inflasi dan kebijakan ECB ke depan.

  • GBP/USD: Inggris juga nggak kalah panas. Inflasi di sana juga lumayan bikin pusing. Bank of England (BoE) juga udah mulai agresif naikin suku bunga. Kalau inflasi berhasil dijinakkan dan ekonomi tetap stabil, Pound Sterling bisa dapat angin segar. Tapi, ancaman resesi di Inggris juga cukup nyata, ini yang jadi PR buat GBP. Perlu dicatat, Sterling ini sering banget bergerak mengikuti sentimen risk-on/risk-off global.

  • USD/JPY: Nah, ini menarik. Dolar AS (USD) dan Yen Jepang (JPY). Biasanya, kalau ada ketidakpastian global atau inflasi tinggi, dolar AS cenderung menguat karena dianggap safe haven. Tapi, di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) masih punya kebijakan moneter yang super longgar, suku bunga masih negatif. Ini bikin Yen jadi lemah banget. Jadi, meskipun inflasi global bikin USD kuat, pelemahan JPY yang ekstrem bisa bikin USD/JPY punya potensi naik terus, selama perbedaan kebijakan moneter kedua bank sentral ini masih lebar.

  • XAU/USD (Emas): Emas itu kan sering dibilang "teman" di saat inflasi tinggi. Kenapa? Karena nilainya cenderung bertahan atau bahkan naik ketika daya beli mata uang kertas menurun. Tapi, di sisi lain, kenaikan suku bunga bank sentral yang agresif itu bisa jadi "musuh" buat emas. Kenapa? Karena instrumen investasi lain yang ngasih bunga (kayak obligasi) jadi lebih menarik dibanding emas yang nggak ngasih bunga. Jadi, pergerakan emas bisa jadi tarik-menarik antara faktor inflasi dan faktor suku bunga.

Yang perlu dicatat, semua ini nggak berdiri sendiri. Pergerakan harga itu kayak orkestra, banyak instrumen yang saling berinteraksi. Kalau the Fed (bank sentral AS) naikin suku bunga dengan agresif buat ngendaliin inflasi, ini nggak cuma bikin USD menguat, tapi juga bisa narik duit dari pasar negara berkembang, bikin mata uang mereka melemah.

Peluang untuk Trader

Terus, gimana kita sebagai trader retail bisa nyari peluang di tengah gejolak ini?

Pertama, fokus pada pair yang terpengaruh langsung oleh perbedaan kebijakan moneter. USD/JPY tetap menarik buat dipantau karena perbedaan policy antara the Fed dan BoJ. Jika the Fed tetap hawkish (cenderung naikin suku bunga) dan BoJ tetap dovish, potensi penguatan USD/JPY masih terbuka. Tapi, jangan lupa perhatikan level teknikal pentingnya, misalnya support dan resistance terdekat.

Kedua, pantau terus data inflasi dan pidato petinggi bank sentral. Ini kayak "ramalan cuaca" buat market. Kalau ada data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, biasanya mata uang negara tersebut bisa dapat dorongan. Tapi, kalau bank sentral ngasih sinyal bakal lebih agresif naikin suku bunga, itu bisa jadi sinyal buy buat mata uangnya dalam jangka pendek, meskipun dalam jangka panjang dampaknya ke ekonomi perlu dicermati.

Ketiga, manfaatkan volatilitas dengan strategi yang tepat. Ketika market lagi heboh, kadang kita bisa dapat setup trading yang cantik di timeframe yang lebih pendek. Tapi, ini perlu kehati-hatian ekstra. Gunakan stop loss yang ketat untuk membatasi kerugian. Jangan greedy! Ingat analogi tadi, kalau market lagi "badai", jangan coba-coba berenang di tengah laut lepas tanpa pelampung.

Keempat, jangan lupakan korelasi antar aset. Kalau kamu lihat emas lagi naik kenceng, coba cek apakah ini barengan sama pelemahan dolar AS atau nggak. Kadang, pergerakan aset yang saling berkorelasi ini bisa ngasih konfirmasi tambahan buat setup trading kita.

Kesimpulan

Fenomena Phillips Curve yang katanya makin curam ini emang jadi isu penting yang lagi dipegang erat sama para pengambil kebijakan di bank sentral. Ini bukan sekadar teori ekonomi, tapi punya implikasi nyata ke pergerakan market yang bisa kita manfaatkan. Kenaikan harga yang "bandel" dan respons kebijakan yang agresif dari bank sentral ini udah pasti bikin market jadi lebih volatil.

Sebagai trader, kita nggak bisa cuma pasrah aja. Justru di saat-saat kayak gini, kalau kita punya ilmu, punya strategi, dan punya kesabaran, kita bisa nemuin peluang cuan. Tapi, ingat, dengan volatilitas tinggi, risiko juga makin tinggi. Jadi, manajemen risiko itu nomor satu. Analisis fundamental (data ekonomi, kebijakan bank sentral) dan analisis teknikal (support, resistance, pola chart) harus jalan beriringan.

Terus belajar, terus mantau berita, dan yang paling penting, jangan pernah berhenti ngasah skill trading kamu. Siapa tahu, di tengah "badai" ekonomi ini, kamu justru bisa menemukan "pulau harta" kamu sendiri.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`