Inflasi "Nakal" di AS: Siap-Siap Dolar Menggeliat, Fed Tunda 'Panggung' Kapan?

Inflasi "Nakal" di AS: Siap-Siap Dolar Menggeliat, Fed Tunda 'Panggung' Kapan?

Inflasi "Nakal" di AS: Siap-Siap Dolar Menggeliat, Fed Tunda 'Panggung' Kapan?

Sahabat trader Indonesia, ada kabar yang cukup bikin deg-degan nih di kancah finansial global. Data inflasi Amerika Serikat (AS) sebentar lagi bakal dirilis, dan ekspektasi pasar menunjukkan angka yang agak "nakal". Bukan inflasi yang turun manis, tapi yang masih bandel nangkring di level yang bikin Bank Sentral AS, The Fed, mikir dua kali untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Ini bukan cuma soal angka statistik, tapi bisa jadi penentu arah pergerakan Dolar AS dan berbagai aset finansial lainnya dalam beberapa waktu ke depan.

Apa yang Terjadi?

Jadi gini, pada hari Jumat ini, tepatnya pukul 13:30 WIB (atau 8:30 ET), pasar akan disuguhi data penting: Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk bulan Januari. Data ini ibarat rapor ekonomi AS yang paling ditunggu-tunggu oleh para pelaku pasar, mulai dari institusi besar sampai kita-kita yang di trading desk rumahan. Kenapa penting? Karena CPI adalah tolok ukur utama inflasi. Tingkat inflasi inilah yang menjadi pertimbangan utama The Fed dalam menentukan suku bunga acuan.

Nah, proyeksi para ekonom dan trader saat ini cukup gamblang. Keduanya, baik CPI headline (yang mencakup semua komponen) maupun CPI core (yang mengecualikan harga pangan dan energi yang fluktuatif), diperkirakan akan menunjukkan kenaikan sebesar 0.3% secara bulanan (m/m) dan 2.5% secara tahunan (y/y). Angka ini, kalau benar-benar terwujud, akan sedikit lebih tinggi dibandingkan pembacaan bulan sebelumnya. Ini artinya, tekanan harga di Negeri Paman Sam itu belum sepenuhnya mereda. Ibaratnya, api kecil yang tadinya mau padam, malah sedikit terembus angin lagi dan membesar sedikit.

Konteksnya lebih luas lagi. Sejak tahun lalu, The Fed sudah gencar menaikkan suku bunga untuk menjinakkan inflasi yang sempat melonjak tinggi. Sekarang, ketika inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan, pasar mulai bertanya-tanya: kapan The Fed akan mulai menurunkan suku bunganya? Ekspektasi awal tahun ini sebenarnya cukup optimis, banyak yang memprediksi penurunan suku bunga bisa dimulai di bulan Maret. Namun, data ekonomi AS yang belakangan ini keluar, termasuk data ketenagakerjaan yang masih kuat dan sekarang proyeksi inflasi yang "lengket" ini, perlahan-lahan mengikis optimisme tersebut. The Fed sendiri, melalui pernyataan para petingginya, juga berulang kali menekankan pentingnya data sebelum mengambil keputusan. Mereka ingin memastikan inflasi benar-benar menuju target 2% sebelum berpikir untuk melonggarkan kebijakan.

Menariknya, kenaikan inflasi yang sedikit di atas ekspektasi ini bisa diartikan sebagai "inflasi yang lengket" (sticky inflation). Ini seperti ada bahan yang susah larut dalam larutan. Kalau inflasi terus seperti ini, The Fed kemungkinan besar akan menahan suku bunga acuannya tetap tinggi lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya. Proyeksi penurunan suku bunga yang awalnya ada di bulan Maret, kini bergeser ke pertengahan tahun, bahkan ada yang bilang baru di bulan Juni atau lebih lambat lagi. Ini adalah pergeseran ekspektasi yang sangat signifikan.

Dampak ke Market

Nah, kalau The Fed menahan suku bunga lebih lama, ini punya implikasi besar buat pasar.

Pertama, tentu saja buat Dolar AS (USD). Suku bunga yang tinggi cenderung membuat mata uang suatu negara lebih menarik bagi investor asing yang mencari imbal hasil lebih tinggi. Ini ibarat Dolar AS jadi magnet yang lebih kuat. Jadi, kalau The Fed menunda penurunan suku bunga, Dolar AS berpotensi akan menguat. Pasangan mata uang seperti EUR/USD dan GBP/USD yang seringkali bergerak berlawanan arah dengan USD, kemungkinan akan tertekan ke bawah. EUR/USD bisa saja mencoba menguji level support penting, begitu juga GBP/USD.

Sementara itu, pasangan USD/JPY bisa saja menunjukkan tren penguatan, karena perbedaan suku bunga antara AS dan Jepang yang masih sangat lebar, dan The Fed menahan suku bunga lebih lama. JPY bisa jadi semakin lemah terhadap USD.

Bagaimana dengan XAU/USD (Emas)? Hubungannya sedikit lebih kompleks. Emas seringkali dianggap sebagai aset safe-haven dan juga pelindung nilai terhadap inflasi. Di satu sisi, dolar yang menguat biasanya kurang baik untuk emas karena emas dinilai dengan dolar, sehingga harganya menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Namun, di sisi lain, jika kekhawatiran inflasi terus ada dan The Fed menahan suku bunga, emas mungkin masih bisa mendapatkan sedikit dukungan. Tapi, secara umum, penguatan dolar cenderung menjadi sentimen negatif bagi emas. Jadi, waspadai potensi koreksi pada XAU/USD jika dolar menunjukkan penguatan yang signifikan.

Secara global, ini juga terkait dengan kondisi ekonomi saat ini. Banyak negara masih berjuang dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Kebijakan moneter The Fed yang ketat lebih lama akan menambah tekanan pada ekonomi global, terutama negara-negara berkembang yang memiliki utang dalam dolar. Aliran modal keluar dari negara-negara tersebut bisa meningkat karena investor mencari aset berimbal hasil tinggi di AS.

Peluang untuk Trader

Dengan adanya potensi penguatan Dolar AS akibat The Fed yang menunda pelonggaran kebijakan, ada beberapa peluang yang bisa kita cermati.

Untuk pasangan EUR/USD dan GBP/USD, sentimennya cenderung bearish. Kita bisa mulai memantau level-level support kunci. Jika harga menembus di bawah level support penting, ini bisa menjadi sinyal untuk mencari peluang sell (short). Namun, jangan lupa untuk selalu mengamati volatilitas pasar setelah rilis data.

Pasangan USD/JPY bisa menjadi perhatian untuk potensi penguatan. Jika data CPI AS benar-benar mendorong ekspektasi hawkish dari The Fed, USD/JPY bisa saja melanjutkan tren naiknya. Cari titik masuk yang aman, mungkin setelah terjadi koreksi minor untuk mendapatkan rasio risk-reward yang lebih baik.

Untuk komoditas seperti XAU/USD, jika dolar menguat dengan kuat, emas mungkin akan mengalami tekanan. Perhatikan level support terdekat. Jika support tersebut ditembus, potensi penurunan lebih lanjut bisa terbuka. Namun, selalu ingat bahwa emas bisa sangat volatil dan dipengaruhi oleh sentimen pasar yang berubah cepat.

Yang perlu dicatat adalah volatilitas pasca-rilis data. Jangan terburu-buru masuk pasar. Tunggu hingga data dirilis dan pasar bereaksi. Setelah itu, cari konfirmasi teknikal sebelum mengambil keputusan. Perhatikan juga berita-berita lanjutan dari The Fed. Pernyataan dari pejabat The Fed pasca-rilis CPI akan sangat krusial untuk memvalidasi arah kebijakan mereka.

Kesimpulan

Singkatnya, proyeksi CPI AS yang sedikit di atas ekspektasi kali ini adalah pengingat bahwa perjuangan melawan inflasi belum usai. Hal ini berpotensi menggeser ekspektasi pasar mengenai kapan The Fed akan mulai menurunkan suku bunga. Jika The Fed memang memutuskan untuk menahan suku bunga lebih lama, Dolar AS kemungkinan akan mendapatkan dorongan positif, sementara aset lain seperti EUR, GBP, dan mungkin emas akan menghadapi tekanan.

Bagi kita para trader, ini adalah momen penting untuk memantau pergerakan pasar dengan cermat. Memahami konteks makroekonomi global dan dampaknya pada berbagai kelas aset adalah kunci untuk menavigasi kondisi pasar yang dinamis ini. Tetap disiplin, kelola risiko dengan baik, dan jangan pernah berhenti belajar. Pasar finansial selalu menawarkan peluang bagi mereka yang siap.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`