Inflation Masih Jadi PR Utama The Fed: Siap-siap Pasar Kaget Lagi?

Inflation Masih Jadi PR Utama The Fed: Siap-siap Pasar Kaget Lagi?

Inflation Masih Jadi PR Utama The Fed: Siap-siap Pasar Kaget Lagi?

Denger-denger kabarnya dari Federal Reserve Bank of Kansas City, Presiden Jeffrey Schmid nih, ngomongin soal inflasi yang katanya masih jadi PR gede buat The Fed. Katanya sih, inflasi yang "terlalu tinggi" ini masih jadi fokus utama yang harus diberesin. Tapi, sayangnya, dia nggak ngasih kode pasti gimana kebijakan moneter ke depannya. Yang jelas, dia bilang, "Saya pikir kita masih punya PR yang harus dikerjakan di sisi inflasi," sambil nambahin, "Saya rasa kita sudah di posisi yang lumayan bagus untuk urusan lapangan kerja." Nah, pernyataan ini nih yang bikin pasar lagi deg-degan lagi, kira-kira bakal ada kebijakan apa lagi dari The Fed?

Apa yang Terjadi?

Jadi gini ceritanya, Presiden The Fed Kansas City, Jeffrey Schmid, ngasih pernyataan publik pada hari Rabu lalu. Inti omongannya simpel: inflasi di Amerika Serikat itu masih membandel dan belum sesuai target yang diinginkan The Fed. Dia tegas bilang, "overly high inflation remains a key problem the central bank needs to address." Ini bukan omongan sembarangan, lho. Sebagai salah satu pemangku kebijakan di The Fed, perkataan Schmid punya bobot dan bisa jadi sinyal buat pasar.

Menariknya, di sisi lain, Schmid juga mengakui bahwa kondisi pasar tenaga kerja di AS saat ini "pretty good." Ini penting karena The Fed punya mandat ganda: menjaga stabilitas harga (baca: mengendalikan inflasi) dan memaksimalkan lapangan kerja. Kalau inflasi tinggi tapi lapangan kerja bagus, ini jadi dilema buat The Fed. Mereka harus milih antara mengerem ekonomi lebih kencang untuk melawan inflasi, yang berisiko bikin lapangan kerja tergerus, atau membiarkan inflasi sedikit lebih tinggi demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan.

Nah, yang bikin gregetan adalah, Schmid nggak memberikan petunjuk jelas soal respons kebijakan moneter ke depannya. Dia nggak bilang, "kita akan naikkan suku bunga lagi" atau "kita akan menahan suku bunga lebih lama." Dia hanya bilang bahwa "masih ada pekerjaan yang harus dilakukan pada sisi inflasi." Simpelnya, dia nggak mau komitmen, tapi ngasih kode keras bahwa masalah inflasi itu belum kelar. Ini kayak ngomong sama pacar, "Aku nggak janji berubah, tapi aku tahu kamu minta aku lebih baik." Bikin penasaran kan?

Konteksnya begini, The Fed selama setahun lebih terakhir ini agresif menaikkan suku bunga demi menahan lonjakan inflasi yang sempat mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Mereka sudah menaikkan suku bunga berkali-kali, membuat biaya pinjaman jadi lebih mahal, dan tujuannya untuk mendinginkan ekonomi. Memang sih, inflasi sudah mulai turun dari puncaknya, tapi angkanya masih di atas target The Fed yang sekitar 2%. Kadang turun dikit, kadang naik lagi, bikin semua mata tertuju sama data inflasi berikutnya. Pernyataan Schmid ini bisa jadi sinyal bahwa The Fed masih melihat inflasi ini sebagai ancaman yang lebih besar dibanding potensi perlambatan ekonomi akibat suku bunga tinggi.

Dampak ke Market

Perkataan dari pejabat The Fed, apalagi yang termasuk dalam Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), selalu jadi perhatian utama pasar keuangan global. Terutama untuk aset-aset yang sensitif terhadap suku bunga dan sentimen ekonomi AS.

Untuk pasangan mata uang EUR/USD, pernyataan Schmid bisa jadi sentimen negatif jangka pendek. Kalau The Fed kembali sinyal hawkish (cenderung menaikkan suku bunga atau menahannya lebih lama), ini akan bikin Dolar AS (USD) menguat terhadap Euro (sehingga EUR/USD turun). Kenapa? Karena suku bunga AS yang tinggi bikin investor lebih tertarik menaruh uangnya di aset dolar yang menawarkan imbal hasil lebih besar. Sebaliknya, jika pasar menginterpretasikan ini sebagai sinyal bahwa The Fed belum akan mengerek suku bunga lagi dalam waktu dekat, EUR/USD bisa saja sedikit menguat.

Situasi serupa berlaku untuk GBP/USD. Pound Sterling (GBP) juga rentan terhadap penguatan Dolar AS. Jika The Fed terlihat lebih agresif dalam perang melawan inflasi, ini bisa menekan GBP/USD ke bawah. Trader perlu memantau data inflasi Inggris juga, karena Bank of England (BoE) juga punya tugas serupa.

Sementara itu, USD/JPY bisa jadi pergerakan yang lebih menarik. Dulu, ketika The Fed menaikkan suku bunga sementara Bank of Japan (BoJ) masih mempertahankan kebijakan super longgar, USD/JPY melonjak tajam. Sekarang, meskipun BoJ sudah mulai memberi sinyal perubahan kebijakan, tapi masih jauh dari The Fed. Kalau The Fed kembali sinyal hawkish, USD/JPY berpotensi naik lagi. Namun, perlu dicatat, jika sentimen risiko global memburuk, Yen Jepang (JPY) seringkali jadi aset safe haven, yang bisa menahan pelemahan USD/JPY.

Tidak ketinggalan, XAU/USD (Emas). Emas ini aset safe haven yang biasanya berbanding terbalik dengan Dolar AS. Ketika Dolar menguat, harga emas cenderung turun, karena emas diperdagangkan dalam Dolar dan jadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Sebaliknya, ketika Dolar melemah, emas biasanya naik. Kalau pernyataan Schmid bikin Dolar AS menguat, emas berpotensi tertekan. Tapi, kalau inflasi masih dianggap jadi ancaman besar, emas juga bisa dilihat sebagai lindung nilai inflasi, jadi pergerakannya bisa jadi kompleks. Kita perlu lihat apakah sentimen "inflasi buruk" ini lebih dominan menekan aset berisiko atau justru membuat emas dicari sebagai pelindung nilai.

Peluang untuk Trader

Pernyataan seperti ini membuka berbagai peluang, tapi juga menyajikan risiko yang perlu diwaspadai. Trader perlu bersikap adaptif dan tidak terpaku pada satu skenario.

Pertama, perhatikan EUR/USD dan GBP/USD. Jika pasar mulai melihat The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan menaikkannya lagi, maka kita bisa mencari peluang untuk melakukan penjualan (short) pada kedua pasangan ini. Level teknikal seperti support kuat yang berhasil ditembus ke bawah bisa menjadi konfirmasi masuknya order jual. Sebaliknya, jika pasar merespons dengan hati-hati dan mulai memprediksi The Fed akan segera mengakhiri siklus kenaikan suku bunga, maka kita bisa mengincar peluang beli (long) di EUR/USD atau GBP/USD, terutama jika mereka mendekati area support historis yang kuat.

Kedua, USD/JPY. Pasangan ini masih menarik karena ada perbedaan kebijakan moneter antara AS dan Jepang. Jika The Fed memang berencana untuk lebih agresif, USD/JPY bisa terus menunjukkan tren naik. Trader bisa mencari momen untuk membeli USD/JPY saat terjadi koreksi kecil ke bawah menuju level support penting. Namun, jangan lupa bahwa sentimen global juga berperan. Jika ada ketidakpastian global yang meningkat, Yen bisa menguat, jadi perlu cermat mengamati berita-berita global.

Ketiga, XAU/USD. Ini yang agak tricky. Kalau Dolar menguat karena sinyal hawkish The Fed, emas bisa tertekan. Trader bisa mencari peluang jual di emas saat harga mendekati resistance kuat. Tapi, kalau inflasi masih jadi momok dan investor mulai khawatir terhadap aset fiat currency, emas bisa justru dicari. Jadi, ini perlu analisis lebih dalam soal sentimen pasar. Mungkin bisa memantau grafik emas terhadap indeks Dolar. Jika keduanya bergerak berlawanan, berarti sentimen Dolar lebih mendominasi.

Yang paling penting, selalu kelola risiko. Jangan pernah menempatkan semua dana dalam satu trade. Gunakan stop-loss untuk membatasi kerugian jika pasar bergerak berlawanan dari perkiraan kita. Pahami juga bahwa volatilitas pasar bisa meningkat tajam setelah pernyataan seperti ini, jadi persiapan yang matang sangat krusial.

Kesimpulan

Intinya, pernyataan Jeffrey Schmid ini menegaskan bahwa pertempuran The Fed melawan inflasi belum berakhir. Meskipun data lapangan kerja terlihat baik, fokus utama The Fed masih pada inflasi yang "terlalu tinggi." Ini memberikan sinyal bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mengambil tindakan kebijakan moneter yang bisa lebih ketat lagi. Pasar keuangan global akan terus mencermati setiap kata dari pejabat The Fed, serta data-data ekonomi kunci, terutama data inflasi dan ketenagakerjaan AS.

Untuk kita para trader retail Indonesia, ini artinya kita harus tetap waspada dan proaktif. Jangan sampai ketinggalan momentum atau malah terjebak dalam pergerakan pasar yang tiba-tiba. Simpelnya, ini adalah pengingat bahwa pasar keuangan itu dinamis. Perubahan sentimen dari bank sentral besar seperti The Fed bisa memicu gelombang pergerakan di berbagai aset. Jadi, teruslah belajar, pantau berita, dan yang terpenting, jadilah trader yang bijak dengan manajemen risiko yang baik.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`