Mata Uang Emerging Market Kok Malah Lebih Stabil? Ini Rahasianya Buat Trader!
Mata Uang Emerging Market Kok Malah Lebih Stabil? Ini Rahasianya Buat Trader!
Siapa sangka, di tengah gejolak ekonomi global yang nggak karuan, mata uang negara-negara berkembang alias Emerging Market (EM) justru tampil lebih perkasa dan stabil dibandingkan negara-negara maju Grup of Seven (G-7). Bahkan, tren ini disebut-sebut bisa jadi yang terpanjang dalam dua dekade terakhir! Buat kita, para trader retail di Indonesia, ini bukan sekadar berita biasa. Ini adalah sinyal penting yang patut dicermati untuk strategi trading kita.
Apa yang Terjadi?
Jadi, apa sih yang bikin mata uang EM seperti Rupiah (kalau kita lihat dari sisi regional), Rand Afrika Selatan, atau Peso Meksiko, kok malah lebih "adem ayem" dibanding Dolar AS, Euro, Yen Jepang, atau Pound Sterling? Menurut data dari JPMorgan, indeks volatilitas mata uang negara berkembang sudah lebih rendah daripada mata uang G-7 selama hampir 200 hari berturut-turut. Ini rekor terpanjang sejak tahun 2008, lho! Dan kalau tren ini berlanjut, akan menjadi rekor baru yang lebih mencengangkan.
Nah, ada dua faktor utama yang disebut-sebut jadi "kekuatan super" mata uang EM ini. Pertama, fenomena carry trade. Simpelnya gini, carry trade itu kayak kita pinjam uang dari bank yang bunganya rendah, terus kita simpan di deposito atau instrumen lain yang bunganya jauh lebih tinggi. Keuntungannya kan lumayan, selisih bunganya. Dalam konteks mata uang, trader akan meminjam mata uang dengan suku bunga rendah (misalnya Yen Jepang yang dulu sempat terkenal dengan bunga nol persen) lalu membeli mata uang negara berkembang yang menawarkan imbal hasil (bunga) lebih tinggi.
Kenapa ini bikin mata uang EM stabil? Karena banyak investor yang "menaruh uang" mereka di sana untuk mencari imbal hasil lebih tinggi. Permintaan terhadap mata uang EM jadi meningkat, dan ketika ada permintaan yang stabil, mata uangnya cenderung nggak gampang bergejolak. Ibaratnya, kalau banyak orang mau beli barang yang sama, harganya cenderung stabil, bahkan bisa naik perlahan.
Kedua, adalah lonjakan harga komoditas. Negara-negara berkembang itu kan banyak yang bergantung pada ekspor komoditas, seperti minyak, logam mulia, bijih besi, hingga hasil pertanian. Nah, belakangan ini harga komoditas memang lagi "panas". Permintaan global yang mulai pulih, ditambah dengan isu geopolitik yang bikin pasokan terancam, membuat harga komoditas melonjak.
Ketika harga komoditas naik, negara-negara pengekspor komoditas biasanya kebanjiran devisa. Uang masuk ke negara itu jadi lebih banyak. Ini secara otomatis mendongkrak nilai mata uang mereka. Logikanya, kalau negara itu banyak dapat "kiriman" uang dari hasil jual komoditas, nilai mata uangnya ya otomatis ikut terangkat dan lebih stabil.
Dampak ke Market
Kestabilan mata uang EM ini punya efek domino ke berbagai aset. Yuk kita bedah satu per satu:
-
EUR/USD dan GBP/USD: Dolar AS, meskipun masih jadi mata uang safe haven, belakangan ini nggak sekuat biasanya. Kestabilan mata uang EM secara relatif bikin trader sedikit melirik aset lain. Kalau suku bunga di AS naik, biasanya Dolar menguat. Tapi kalau imbal hasil di negara berkembang lebih menarik dan risikonya terasa berkurang, aliran dana bisa saja bergeser. Jadi, pair seperti EUR/USD dan GBP/USD bisa saja mengalami pergerakan yang lebih berimbang, tidak selalu didominasi penguatan USD. Kestabilan EM ini mengurangi "dorongan" bagi pelaku pasar untuk buru-buru lari ke Dolar saat ada ketidakpastian.
-
USD/JPY: Dolar Jepang (Yen) dikenal sebagai mata uang safe haven lain yang sering dipakai saat pasar bergejolak. Namun, jika mata uang EM lebih stabil, ini bisa mengurangi daya tarik Yen sebagai aset perlindungan. Ditambah lagi, Bank of Japan masih mempertahankan kebijakan moneter super longgar dengan suku bunga sangat rendah. Ini membuat Yen secara struktural sulit menguat signifikan kecuali ada faktor eksternal yang sangat kuat. Kestabilan EM bisa jadi salah satu faktor yang menahan penguatan Yen.
-
XAU/USD (Emas): Emas seringkali dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Namun, ketika mata uang EM stabil dan harga komoditas lainnya melonjak, ada potensi pengalihan dana dari emas ke aset-aset komoditas yang memberikan imbal hasil lebih riil. Emas memang tetap menarik, tapi korelasinya dengan mata uang EM yang stabil dan lonjakan harga komoditas lain patut diperhatikan. Jika pasar melihat mata uang EM sebagai "pabrik" keuntungan yang stabil, maka emas mungkin tidak menjadi satu-satunya tujuan akhir "dana panas".
Secara umum, sentimen pasar jadi lebih kompleks. Ini bukan lagi soal lari ke aset paling aman (Dolar atau Emas) saat ada masalah. Investor sekarang lebih pintar memilah mana yang punya potensi imbal hasil menarik dengan risiko yang bisa dikelola.
Peluang untuk Trader
Nah, buat kita sebagai trader retail, kondisi seperti ini justru membuka banyak peluang.
Pertama, perhatikan pair mata uang negara berkembang. Pair seperti USD/IDR (meskipun ini pair mayor, tapi pergerakannya dipengaruhi oleh sentimen EM), USD/ZAR (Rand Afrika Selatan), USD/MXN (Meksiko Peso), atau bahkan pair silang (cross pair) yang melibatkan mata uang EM. Jika tren kestabilan ini berlanjut, kita bisa mencari peluang untuk buy pada mata uang EM terhadap Dolar AS, terutama jika ada indikasi penguatan lebih lanjut. Tentu saja, dengan manajemen risiko yang ketat.
Kedua, perhatikan aset komoditas. Lonjakan harga komoditas yang menjadi salah satu pendorong kestabilan EM bisa jadi ladang cuan. Kita bisa pantau pergerakan harga minyak (WTI/Brent), tembaga, emas, atau bahkan produk pertanian. Jika kita melihat setup teknikal yang menarik pada aset-aset ini, ini bisa menjadi peluang.
Yang perlu dicatat, kestabilan ini bukan berarti tanpa risiko. Ekonomi global masih punya banyak "ranjau darat". Inflasi yang tinggi di negara maju bisa membuat bank sentral mereka menaikkan suku bunga lebih agresif, yang pada akhirnya bisa menarik kembali dana dari EM. Ketegangan geopolitik yang memanas juga bisa seketika mengubah peta permainan.
Jadi, strategi yang bisa kita terapkan adalah pendekatan yang hati-hati tapi oportunistik. Identifikasi mata uang EM yang fundamentalnya kuat, perhatikan sentimen pasar terkait komoditas, dan jangan pernah lupakan manajemen risiko. Breakout level teknikal penting pada pair-pair yang terkait bisa menjadi sinyal masuk yang menarik. Misalnya, jika USD/IDR menembus level support kuat dan terus turun, ini bisa jadi konfirmasi awal tren penguatan Rupiah.
Kesimpulan
Fenomena mata uang EM yang lebih stabil daripada negara G-7 adalah cerminan dari dinamika ekonomi global yang terus berubah. Kombinasi strategi carry trade yang menarik imbal hasil dan lonjakan harga komoditas telah memberikan "benteng pertahanan" bagi mata uang negara berkembang.
Bagi kita para trader, ini adalah kesempatan untuk tidak terpaku pada narasi "aset aman" saja. Ada potensi keuntungan di pasar negara berkembang dan aset komoditas yang didorong oleh fundamental yang kuat saat ini. Namun, selalu ingat, pasar finansial itu dinamis. Pantau terus perkembangan berita, data ekonomi, dan jangan ragu untuk melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan trading. Kestabilan ini bisa jadi tren yang menarik, tapi kewaspadaan tetap nomor satu.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.