Pembuka: Mengarungi Kompleksitas Hubungan Inggris-Tiongkok
Pembuka: Mengarungi Kompleksitas Hubungan Inggris-Tiongkok
Kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ke Beijing merupakan peristiwa diplomatik yang signifikan, menandai langkah pertama seorang pemimpin Inggris mengunjungi Tiongkok sejak Theresa May pada tahun 2018. Perjalanan empat hari ini bukan sekadar formalitas, melainkan upaya strategis untuk memperbaiki hubungan yang tegang dan membuka kembali peluang ekonomi bagi bisnis Inggris di pasar Tiongkok yang merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia. Momen ini terjadi di tengah lanskap geopolitik yang terus berubah, di mana relasi antara kekuatan Barat dan Tiongkok diwarnai oleh berbagai tantangan dan kepentingan yang saling bersaing. Kunjungan Starmer mencerminkan keinginan Inggris untuk menemukan keseimbangan yang pragmatis antara kepentingan ekonomi vitalnya dan komitmen terhadap nilai-nilai serta keamanan nasionalnya. Ini adalah sebuah misi yang rumit, membutuhkan kecermatan diplomasi dalam menghadapi perbedaan ideologi dan ambisi geopolitik.
Babak Baru dalam Diplomasi: Misi Keir Starmer
Kedatangan Keir Starmer di Beijing menggarisbawahi upaya Partai Buruh untuk menegaskan kembali posisi Inggris di panggung global, terutama dalam menghadapi dinamika kekuatan Asia. Setelah bertahun-tahun hubungan yang memburuk, terutama pasca-Brexit, Inggris mencari jalan untuk menavigasi kembali interaksinya dengan Tiongkok. Fokus utama kunjungan ini diperkirakan akan mencakup beberapa area kunci. Pertama, adalah pemulihan dialog tingkat tinggi yang esensial untuk mengatasi perbedaan dan membangun kembali kepercayaan. Dialog semacam ini seringkali menjadi prasyarat untuk kemajuan di bidang lain. Kedua, adalah identifikasi peluang ekonomi baru, dari perdagangan hingga investasi, yang dapat memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi Inggris yang saat ini menghadapi berbagai tantangan domestik. Namun, kunjungan ini juga akan menjadi ujian bagi kemampuan Starmer untuk menyuarakan kekhawatiran Inggris dan sekutunya mengenai isu-isu sensitif seperti hak asasi manusia dan keamanan regional, tanpa merusak tujuan perbaikan hubungan secara keseluruhan.
Memahami Kemerosotan Hubungan: Akar Permasalahan
Hubungan Inggris-Tiongkok pernah digambarkan sebagai "era keemasan" di bawah kepemimpinan David Cameron, dengan janji investasi besar-besaran dan kemitraan strategis yang saling menguntungkan. Namun, era tersebut telah lama berlalu. Serangkaian peristiwa dan perkembangan telah berkontribusi pada kemerosotan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, mengubah narasi dari kemitraan menjadi persaingan dan bahkan konfrontasi di beberapa area:
Undang-Undang Keamanan Nasional Hong Kong
Pemberlakuan Undang-Undang Keamanan Nasional oleh Tiongkok di Hong Kong pada tahun 2020 secara luas dilihat di Inggris sebagai pelanggaran langsung terhadap Perjanjian Bersama Sino-Inggris 1984. Perjanjian tersebut menjamin tingkat otonomi tinggi dan kebebasan sipil bagi Hong Kong di bawah prinsip "satu negara, dua sistem". Inggris mengecam keras tindakan ini, menuduh Beijing melanggar komitmen internasionalnya, dan sebagai respons, Inggris menawarkan jalur kewarganegaraan yang diperluas bagi warga Hong Kong yang memegang paspor British National (Overseas) atau BN(O), yang memicu kemarahan Tiongkok.
Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Xinjiang
Laporan-laporan kredibel mengenai perlakuan terhadap minoritas Uighur dan kelompok Muslim lainnya di wilayah Xinjiang, termasuk dugaan penahanan massal, kerja paksa, sterilisasi paksa, dan penindasan budaya, telah memicu kekhawatiran mendalam di Inggris dan komunitas internasional yang lebih luas. Parlemen Inggris bahkan telah meloloskan mosi yang menyatakan bahwa perlakuan Tiongkok terhadap Uighur merupakan genosida, meskipun pemerintah Inggris enggan menggunakan istilah tersebut secara resmi, memilih untuk mendesak penyelidikan internasional yang independen.
Peran Huawei dalam Jaringan 5G
Keputusan awal Inggris untuk mengizinkan raksasa telekomunikasi Tiongkok, Huawei, memiliki peran terbatas dalam pembangunan jaringan 5G-nya kemudian dibatalkan di bawah tekanan signifikan dari sekutu utama, terutama Amerika Serikat, dan kekhawatiran keamanan nasional yang meningkat. Pemerintah Inggris mengutip risiko keamanan siber dan potensi campur tangan negara asing sebagai alasan untuk melarang Huawei dari infrastruktur 5G-nya, langkah yang memperdalam keretakan dalam hubungan bilateral.
Masalah Keamanan Siber dan Kekayaan Intelektual
Inggris, bersama sekutunya, telah menyuarakan kekhawatiran berulang kali tentang dugaan aktivitas peretasan yang disponsori negara oleh Tiongkok dan pencurian kekayaan intelektual. Insiden-insiden ini dianggap sebagai ancaman serius bagi keamanan siber, ekonomi, dan inovasi nasional, yang mengikis kepercayaan dan menciptakan hambatan bagi kerja sama teknologi.
Geopolitik Indo-Pasifik dan Ambisi Tiongkok
Peningkatan aktivitas militer Tiongkok di Laut Cina Selatan, klaim teritorial yang agresif, dan ambisi geopolitiknya yang lebih luas di kawasan Indo-Pasifik telah mendorong Inggris untuk meningkatkan keterlibatannya di wilayah tersebut. Ini termasuk penempatan kapal induk dan pembentukan aliansi keamanan AUKUS (Australia, Inggris, Amerika Serikat), yang oleh Tiongkok dipandang dengan kecurigaan dan dianggap sebagai upaya pembendungan.
Faktor-faktor ini telah menciptakan iklim ketidakpercayaan dan ketegangan yang membuat diplomasi menjadi semakin rumit, menuntut pendekatan yang lebih hati-hati dan strategis dari kedua belah pihak.
Agenda Starmer: Mencari Keseimbangan yang Sulit
Misi utama Starmer adalah menavigasi keseimbangan yang rumit antara kepentingan ekonomi pragmatis dan komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi serta keamanan strategis. Ia kemungkinan akan menghadapi dilema bagaimana "mengurangi risiko" (de-risking) ketergantungan ekonomi pada Tiongkok tanpa sepenuhnya "melepaskan diri" (decoupling), sebuah strategi yang dianut oleh banyak negara Barat dan sekutu Inggris.
Peluang Ekonomi dan Investasi
Inggris memiliki kepentingan besar dalam mempertahankan akses ke pasar Tiongkok yang luas untuk produk dan jasanya. Sektor-sektor seperti jasa keuangan, pendidikan, barang-barang mewah, dan industri otomotif Inggris sangat bergantung pada ekspor ke Tiongkok. Kunjungan ini akan mencari cara untuk menstabilkan dan memperluas hubungan perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan, serta memfasilitasi operasi bisnis Inggris di Tiongkok di tengah lingkungan peraturan yang semakin kompleks.
Dialog Kritis Mengenai Isu Sensitif
Starmer diperkirakan akan mengangkat isu-isu hak asasi manusia di Xinjiang, situasi di Hong Kong, dan kekhawatiran mengenai kebebasan pers dan supremasi hukum di Tiongkok. Meskipun isu-isu ini mungkin akan dibahas di balik pintu tertutup, mempertahankan posisi Inggris yang konsisten tetapi mungkin dengan nada yang lebih diplomatik. Selain itu, pertukaran pandangan mengenai isu-isu global yang mendesak seperti perubahan iklim, keamanan siber, kesehatan global, dan stabilitas regional juga kemungkinan besar akan menjadi bagian dari agenda, mengingat pentingnya Tiongkok dalam penyelesaian masalah-masalah global ini.
Membangun Kembali Kepercayaan dan Kerjasama
Kunjungan ini juga merupakan kesempatan untuk menjajaki area kerja sama yang lebih luas yang mungkin tidak terlalu kontroversial, seperti pertukaran pendidikan, penelitian ilmiah, dan inisiatif budaya. Inisiatif semacam itu dapat membantu membangun kembali jembatan antarnegara dan mempromosikan pemahaman lintas budaya, yang esensial untuk hubungan jangka panjang. Membangun kembali kepercayaan akan membutuhkan waktu, upaya yang konsisten, dan komitmen dari kedua belah pihak untuk menjaga saluran komunikasi tetap terbuka bahkan saat terjadi perbedaan pendapat yang tajam.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Kunjungan Starmer datang pada saat yang kritis. Tiongkok sendiri menghadapi tantangan ekonomi domestik yang signifikan dan ingin menunjukkan keterbukaannya terhadap dunia, mencari mitra untuk pemulihan dan pertumbuhan. Namun, Beijing cenderung menolak apa yang dianggapnya sebagai campur tangan dalam urusan internalnya, dan sensitivitas terhadap kritik dari Barat sangat tinggi. Oleh karena itu, Starmer harus berjalan di atas tali yang tipis, menunjukkan ketegasan dalam membela nilai-nilai Inggris sambil tetap menjaga saluran komunikasi dan potensi kerja sama tetap terbuka.
Harapan untuk kunjungan ini mungkin lebih ke arah stabilisasi hubungan daripada terobosan besar yang akan mengubah arah secara drastis. Keberhasilan akan diukur dari kemampuan kedua belah pihak untuk kembali ke dialog yang lebih konstruktif dan menemukan area-area di mana kepentingan bersama dapat diidentifikasi dan dikejar, bahkan di tengah perbedaan yang mendalam. Tekanan domestik di Inggris, baik dari parlemen, media, maupun publik, untuk mengambil sikap yang lebih tegas terhadap Tiongkok akan terus ada, membuat setiap keputusan yang diambil oleh Starmer dan timnya akan diawasi dengan ketat.
Secara keseluruhan, perjalanan Keir Starmer ke Beijing adalah pengingat bahwa, terlepas dari tantangan geopolitik yang semakin kompleks, keterikatan ekonomi global dan urgensi masalah global yang mendesak menuntut dialog yang berkelanjutan. Masa depan hubungan Inggris-Tiongkok akan ditentukan oleh kemampuan kedua negara untuk mengelola kompleksitas ini dengan bijaksana, mencari titik temu tanpa mengorbankan prinsip-prinsip inti atau kepentingan strategis. Ini adalah permulaan dari babak baru yang penuh dengan ketidakpastian namun juga potensi untuk membangun kembali jembatan di dunia yang semakin saling terhubung dan bergantung satu sama lain.