Penjualan Ritel AS Tak Berubah di Desember: Tanda Resesi atau Justru Kestabilan yang Mengejutkan?

Penjualan Ritel AS Tak Berubah di Desember: Tanda Resesi atau Justru Kestabilan yang Mengejutkan?

Penjualan Ritel AS Tak Berubah di Desember: Tanda Resesi atau Justru Kestabilan yang Mengejutkan?

Halo, para trader! Hari Selasa kemarin, publikasi data penjualan ritel Amerika Serikat untuk Desember 2023 lalu merilis angka yang bikin banyak orang mengerutkan dahi. Alih-alih menunjukkan geliat konsumsi yang sehat di akhir tahun, data tersebut justru memperlihatkan penjualan ritel dan jasa makanan yang nyaris tak bergerak alias unchanged jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Angka yang terpampang di angka $735 miliar ini, seperti yang diungkapkan oleh US Census Bureau, memberikan sinyal yang cukup membingungkan di tengah berbagai narasi ekonomi yang beredar. Lantas, apa arti sebenarnya dari data ini bagi pasar keuangan, dan bagaimana kita sebagai trader bisa menyikapinya? Yuk, kita bedah lebih dalam!

Apa yang Terjadi?

Jadi, begini ceritanya. Data penjualan ritel AS bulan Desember 2023 ini, yang dirilis Selasa kemarin, menunjukkan stagnasi. Angkanya, sebesar $735 miliar, tercatat sama saja dengan angka bulan November. Padahal, biasanya, periode akhir tahun, apalagi mendekati liburan Natal dan Tahun Baru, identik dengan lonjakan pengeluaran konsumen. Ini adalah momen di mana orang-orang cenderung belanja lebih banyak untuk hadiah, makanan, dan segala kebutuhan liburan.

Namun, data ini justru menggambarkan sebaliknya. Penjualan ritel secara bulanan (month-on-month) berada di level 0.0%, sebuah angka yang bisa diartikan sebagai tidak ada perubahan sama sekali. Memang benar, jika kita melihat perbandingan tahunan (year-on-year), penjualan ritel di Desember 2023 ini mengalami kenaikan sebesar 2.4% dibandingkan Desember 2022. Ini sedikit memberikan secercah harapan, menunjukkan bahwa secara keseluruhan, ada pertumbuhan dibandingkan tahun lalu. Tapi, angka bulanan yang datar inilah yang menjadi sorotan utama.

Nah, penting untuk kita lihat konteksnya. Data penjualan ritel ini seringkali dianggap sebagai indikator penting kesehatan ekonomi suatu negara, khususnya Amerika Serikat, yang konsumsi rumah tangganya menjadi salah satu motor penggerak ekonomi terbesar di dunia. Stagnasi ini bisa jadi mencerminkan beberapa hal: pertama, mungkin konsumen mulai mengerem pengeluaran mereka karena kekhawatiran tentang inflasi yang masih tinggi, suku bunga yang belum juga turun, atau ancaman resesi yang membayangi. Kedua, bisa juga ini adalah efek normalisasi setelah periode belanja yang berlebihan di bulan-bulan sebelumnya, atau bahkan adanya pergeseran pola belanja ke sektor lain yang tidak masuk dalam kategori penjualan ritel tradisional.

Yang perlu dicatat, penjualan ritel ini mencakup berbagai macam barang, mulai dari pakaian, elektronik, perabot rumah tangga, hingga makanan. Kenaikan tipis 2.4% secara tahunan ini mungkin didorong oleh kenaikan harga (inflasi), bukan semata-mata volume pembelian yang meningkat pesat. Jika kita melakukan penyesuaian inflasi, bisa jadi pertumbuhan riilnya lebih kecil lagi, atau bahkan negatif.

Dampak ke Market

Bagaimana dampaknya ke pasar? Data penjualan ritel yang stagnan ini tentu saja memberikan angin segar sekaligus keraguan bagi para pelaku pasar.

Untuk pasangan mata uang utama seperti EUR/USD dan GBP/USD, data ini bisa menjadi positif. Simpelnya, jika ekonomi AS terlihat melambat atau menunjukkan tanda-tanda ketidakpastian, pasar cenderung akan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut. Nah, jika suku bunga AS tidak naik, atau bahkan ada potensi penurunan di masa depan, ini akan membuat Dolar AS (USD) menjadi kurang menarik dibandingkan mata uang lain seperti Euro (EUR) atau Poundsterling (GBP). Akibatnya, EUR/USD dan GBP/USD berpotensi menguat. Trader akan memantau apakah ini cukup untuk memicu tren naik yang berkelanjutan.

Sementara itu, untuk pasangan USD/JPY, dampaknya bisa sedikit berbeda. Jika data penjualan ritel AS yang lemah ini mengurangi ekspektasi suku bunga The Fed, sementara Bank of Japan (BoJ) masih mempertahankan kebijakan moneternya yang sangat longgar, selisih imbal hasil antara kedua negara bisa menyempit. Ini bisa membuat USD/JPY bergerak turun. Namun, JPY sendiri masih rentan terhadap sentimen risiko global, jadi perlu dilihat juga faktor lain.

Yang paling menarik mungkin adalah dampaknya ke XAU/USD (emas). Emas seringkali dianggap sebagai aset safe haven, dan juga sensitif terhadap kebijakan suku bunga. Jika data penjualan ritel AS yang lemah ini meningkatkan kekhawatiran resesi atau menandakan bahwa The Fed mungkin akan segera melonggarkan kebijakan moneternya (menurunkan suku bunga), ini adalah angin segar bagi emas. Suku bunga yang lebih rendah membuat emas menjadi lebih menarik karena tidak adanya imbal hasil dari kepemilikan emas, dan juga karena penurunan suku bunga seringkali diasosiasikan dengan pelemahan mata uang (terutama Dolar AS). Jadi, XAU/USD berpotensi mengalami kenaikan.

Secara keseluruhan, sentimen pasar bisa menjadi sedikit lebih risk-off, artinya investor cenderung menjauhi aset-aset berisiko dan mencari perlindungan di aset yang lebih aman. Hal ini bisa mempengaruhi pergerakan indeks saham dan komoditas lainnya.

Peluang untuk Trader

Jadi, dengan data yang seperti ini, peluang apa yang bisa kita intip?

Pertama, perhatikan pasangan mata uang seperti EUR/USD dan GBP/USD. Jika data ini benar-benar memicu keraguan terhadap prospek ekonomi AS dan suku bunga The Fed, kita bisa mencari setup beli (long) pada kedua pasangan ini, terutama jika ada pantulan dari level support penting. Perlu diingat, ini bukan berarti kita langsung loncat beli. Kita tetap harus menunggu konfirmasi teknikal, seperti terbentuknya pola candlestick bullish reversal atau tembusnya level resistance terdekat.

Kedua, XAU/USD menjadi aset yang sangat menarik untuk dicermati. Jika sentimen positif untuk emas terus berlanjut karena ekspektasi pelonggaran moneter The Fed, kita bisa mencari peluang beli pada pullback ke area support. Emas memiliki potensi untuk melanjutkan tren naiknya, namun kita juga harus waspada terhadap volatilitas. Level psikologis seperti $2000 per ons selalu menjadi perhatian utama.

Ketiga, hati-hati dengan trading yang terlalu agresif pada USD/JPY. Meskipun data AS bisa menekan USD, yen sendiri punya faktor penggerak internal yang kuat, terutama terkait kebijakan BoJ. Jika BoJ mulai memberikan sinyal normalisasi kebijakan, ini bisa memberikan perlawanan bagi pelemahan USD/JPY. Jadi, untuk pasangan ini, kita perlu analisis yang lebih mendalam dan bersabar menunggu sinyal yang lebih jelas.

Yang paling penting, dalam situasi pasar yang masih mencari arah seperti ini, manajemen risiko menjadi kunci utama. Pasang stop loss yang ketat dan jangan pernah mengambil posisi yang terlalu besar. Ingat, pasar selalu punya cara untuk mengejutkan kita.

Kesimpulan

Data penjualan ritel AS yang stagnan di Desember 2023 ini memang memberikan gambaran yang sedikit ambigu. Di satu sisi, ini bisa menjadi sinyal bahwa ekonomi AS mulai melambat, yang bisa mengarah pada potensi penurunan suku bunga The Fed. Di sisi lain, kenaikan tahunan yang tipis bisa berarti inflasi masih menjadi isu, dan konsumen masih harus berjuang dengan harga yang tinggi.

Sebagai trader, penting untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Kita perlu melihat data-data ekonomi lainnya yang akan dirilis dalam beberapa waktu ke depan, seperti data inflasi (CPI), data ketenagakerjaan, dan pernyataan dari para pejabat The Fed. Analisis teknikal akan menjadi sahabat terbaik kita untuk mengkonfirmasi arah pergerakan yang mungkin terjadi. Ingat, pasar bergerak berdasarkan ekspektasi, dan data ini baru satu keping puzzle dari gambaran ekonomi global yang lebih besar.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`