Penurunan Populasi Tiongkok: Sebuah Tren yang Mengkhawatirkan dan Akseleratif

Penurunan Populasi Tiongkok: Sebuah Tren yang Mengkhawatirkan dan Akseleratif

Penurunan Populasi Tiongkok: Sebuah Tren yang Mengkhawatirkan dan Akseleratif

Data resmi yang dirilis pada 19 Januari 2025 mengonfirmasi tren demografi yang mengkhawatirkan di Tiongkok: populasi negara tersebut mengalami penurunan untuk tahun keempat secara beruntun. Penurunan ini semakin cepat dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total populasi menyusut sebanyak 3,39 juta jiwa menjadi 1,405 miliar. Angka ini menandai titik kritis dalam sejarah demografi Tiongkok, menunjukkan tantangan mendalam yang dihadapi negara tersebut dalam menjaga keseimbangan populasi dan potensi pertumbuhan ekonominya di masa depan. Percepatan penurunan populasi ini bukan hanya sekadar statistik, melainkan cerminan dari dinamika sosial, ekonomi, dan historis yang kompleks.

Angka Kelahiran Terendah dalam Beberapa Dekade

Salah satu pendorong utama penurunan populasi ini adalah angka kelahiran yang mencapai titik terendah dalam beberapa dekade terakhir. Pada tahun 2025, jumlah kelahiran di Tiongkok hanya mencapai 7,92 juta jiwa, turun signifikan dari 9,54 juta jiwa pada tahun 2024. Angka ini mencerminkan kegagalan kebijakan pro-natalis yang telah diterapkan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir untuk membalikkan tren penurunan fertilitas. Berbagai faktor berkontribusi pada fenomena ini, mulai dari perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan, tekanan ekonomi yang tinggi, hingga biaya membesarkan anak yang semakin mahal. Pasangan muda di Tiongkok semakin menunda pernikahan atau memutuskan untuk memiliki anak lebih sedikit, bahkan tidak sama sekali, di tengah tuntutan karier dan tingginya biaya hidup di kota-kota besar.

Peningkatan Angka Kematian di Tengah Populasi Menua

Di sisi lain, angka kematian di Tiongkok menunjukkan peningkatan, dari 10,93 juta jiwa pada tahun 2024 menjadi 11,31 juta jiwa pada tahun 2025. Peningkatan ini sebagian besar merupakan konsekuensi alami dari populasi yang menua. Dengan masa hidup yang lebih panjang dan proporsi lansia yang semakin besar akibat kebijakan satu anak di masa lalu, jumlah kematian diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Kombinasi antara angka kelahiran yang sangat rendah dan angka kematian yang meningkat menciptakan "jepitan demografi" yang mempercepat penyusutan total populasi. Ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kapasitas sistem layanan kesehatan dan jaring pengaman sosial untuk menopang populasi lansia yang terus bertambah.

Akar Masalah: Sejarah Kebijakan dan Tekanan Sosial Ekonomi

Tren penurunan populasi Tiongkok bukanlah fenomena baru, melainkan akumulasi dari kebijakan demografi masa lalu dan tekanan sosial ekonomi yang berkelanjutan. Kebijakan satu anak, yang diberlakukan selama beberapa dekade hingga tahun 2016, telah membentuk struktur demografi Tiongkok secara fundamental, menciptakan generasi yang lebih kecil dan ketidakseimbangan gender. Meskipun kebijakan tersebut telah dilonggarkan menjadi dua anak, dan kemudian tiga anak, dampaknya terhadap angka kelahiran masih terbatas.

Faktor-faktor lain seperti biaya pendidikan yang melonjak, harga properti yang tinggi, dan ekspektasi karier yang menuntut, membuat banyak pasangan enggan memiliki anak lebih dari satu, atau bahkan tidak sama sekali. Lingkungan ekonomi yang tidak menentu dan persaingan yang ketat di pasar kerja juga menambah tekanan pada keluarga muda. Pergeseran nilai-nilai sosial, di mana perempuan semakin fokus pada pendidikan dan karier daripada peran tradisional sebagai ibu rumah tangga, juga memainkan peran penting dalam tren penurunan angka kelahiran.

Implikasi Ekonomi dan Sosial yang Luas

Penurunan populasi yang cepat ini membawa implikasi serius bagi masa depan Tiongkok. Secara ekonomi, penyusutan angkatan kerja dapat menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Tiongkok telah lama mengandalkan dividen demografi, yaitu populasi usia kerja yang besar, untuk mendorong pertumbuhan manufaktur dan industri. Dengan berkurangnya jumlah pekerja muda, Tiongkok berisiko kehilangan keunggulan kompetitifnya, menghadapi kenaikan biaya tenaga kerja, dan menurunnya inovasi. Beban pada sistem pensiun dan layanan kesehatan juga akan meningkat secara dramatis seiring dengan bertambahnya jumlah lansia yang harus ditopang oleh populasi usia kerja yang semakin kecil.

Secara sosial, masyarakat Tiongkok akan mengalami perubahan signifikan. Struktur keluarga tradisional mungkin akan menghadapi tekanan, dengan lebih sedikit anak yang harus merawat orang tua dan kakek-nenek. Permintaan akan fasilitas perawatan lansia dan layanan kesehatan geriatri akan melonjak, membutuhkan investasi besar dan restrukturisasi sistem sosial. Selain itu, potensi kesepian dan isolasi sosial di kalangan lansia juga menjadi perhatian yang berkembang.

Tantangan Kebijakan dan Prospek Masa Depan

Pemerintah Tiongkok telah mencoba berbagai insentif untuk mendorong kelahiran, termasuk subsidi keuangan, cuti melahirkan yang lebih panjang, dan fasilitas penitipan anak yang lebih terjangkau. Namun, efektivitas langkah-langkah ini sejauh ini masih dipertanyakan. Membalikkan tren demografi yang mengakar membutuhkan upaya yang komprehensif dan berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada insentif finansial, tetapi juga pada perubahan struktural dalam masyarakat, seperti menurunkan biaya hidup, meningkatkan kesetaraan gender, dan menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi keluarga.

Penurunan populasi yang terus berlanjut dan percepatan tren ini menempatkan Tiongkok di persimpangan jalan. Tantangan demografi ini bukan hanya masalah domestik, tetapi juga berpotensi memiliki dampak global, mengingat posisi Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi dan politik dunia. Bagaimana Tiongkok merespons tantangan ini akan menentukan tidak hanya masa depan negaranya sendiri, tetapi juga dinamika global di abad ke-21. Pemerintah harus berinovasi dan beradaptasi dengan cepat untuk menanggulangi dampak jangka panjang dari perubahan demografi yang mendalam ini.

WhatsApp
`