Perang Dagang atau Perang Inflasi: Siapa yang Lebih Bikin Dompet Trader Menjerit?

Perang Dagang atau Perang Inflasi: Siapa yang Lebih Bikin Dompet Trader Menjerit?

Perang Dagang atau Perang Inflasi: Siapa yang Lebih Bikin Dompet Trader Menjerit?

Dengar, teman-teman trader Indonesia! Akhir-akhir ini, obrolan di market kayaknya makin panas, bukan cuma gara-gara cuaca, tapi juga sama isu-isu global yang bikin kepala pusing tujuh keliling. Ada yang namanya "The Real Risk Goes Beyond War," yang dibahas sama dua jagoan dari Steno Research, Andreas Steno dan Mikkel Rosenvold. Nah, mereka ini bukan cuma ngomongin perang yang lagi rame di berita, tapi lebih dalem lagi. Katanya, ada risiko yang lebih besar lagi di balik itu semua, yang bisa ngaduk-aduk dompet kita sebagai trader. Apaan tuh? Yuk, kita bedah bareng!

Apa yang Terjadi?

Jadi gini ceritanya, Andreas Steno dan Mikkel Rosenvold ini lagi ngobrolin macro drivers alias pendorong utama ekonomi global. Mereka bilang, banyak market yang kayaknya masih underestimate bahaya yang sebenarnya. Lha, bahaya apa? Bukan cuma soal perang secara fisik, tapi lebih ke dampaknya ke inflasi dan harga energi. Coba deh kita pikirin, kalau perang terus berkecamuk, pasokan barang dari negara-negara yang terlibat kan jadi terhambat. Otomatis, barang jadi langka, harganya meroket. Ini kan namanya inflasi, kan?

Lebih parahnya lagi, mereka menyoroti bahwa bond yields alias imbal hasil obligasi itu sudah mulai naik. Naiknya bond yields ini biasanya pertanda bahwa investor mulai cemas sama kondisi ekonomi. Mereka minta imbal hasil lebih tinggi buat mengkompensasi risiko yang mereka ambil. Kalau bond yields naik, ini juga bisa bikin duit ngalir keluar dari aset-aset yang lebih berisiko, termasuk saham dan beberapa mata uang.

Central banks alias bank sentral di berbagai negara juga lagi dalam tekanan besar. Mereka dihadapkan pilihan sulit: mau menaikkan suku bunga buat ngendaliin inflasi yang makin ganas, atau jaga pertumbuhan ekonomi biar nggak terjerembab? Kalau naikin suku bunga terlalu agresif, ekonomi bisa mandek. Tapi kalau dibiarin, inflasi bisa jadi monster yang sulit dijinakkan. Situasi kayak gini nih yang bikin para trader pusing tujuh keliling. Kita perlu banget ngerti, apakah market beneran udah ngasih harga (price in) dampak inflasi dan energy shock ini secara penuh, atau masih ada kejutan yang siap muncul kapan saja.

Kalau kita tarik mundur sedikit, kan kita sempat ngalamin pandemi COVID-19 yang bikin ekonomi buyar. Nah, sekarang udah mulai pulih, eh malah ada isu perang lagi yang bikin supply chain makin berantakan. Semuanya ini saling terkait, teman-teman. Perang bikin harga energi naik, harga energi naik bikin biaya produksi naik, biaya produksi naik bikin barang makin mahal, dan akhirnya inflasi merajalela. Ini lingkaran setan yang perlu kita waspadai.

Dampak ke Market

Nah, kalau udah ngomongin inflasi dan energy shock, ini yang bakal bikin pasar gerah. Terutama buat para trader mata uang dan komoditas.

Pertama, mari kita lihat EUR/USD. Eurozone kan punya ketergantungan yang lumayan besar sama pasokan energi dari Rusia. Kalau pasokan ini makin terganggu, inflasi di Eropa bisa makin membara. Bank Sentral Eropa (ECB) mau nggak mau harus mikirin kenaikan suku bunga yang lebih agresif. Ini bisa bikin Euro sedikit kuat, tapi kekhawatiran resesi di Eropa bisa jadi rem yang menahannya. Jadi, EUR/USD bisa saja bergerak liar, tergantung sentimen pasar terhadap inflasi dan prospek pertumbuhan ekonomi Eropa.

Kemudian, GBP/USD. Inggris juga nggak luput dari isu inflasi. Inflasi di sana sudah lumayan tinggi, dan Bank of England (BoE) juga sedang berjuang menyeimbangkan antara ngendaliin harga sama jaga pertumbuhan. Apalagi, isu geopolitik ini bisa bikin sentimen investor ke Inggris jadi kurang bagus. Kalau dolar AS tetap kuat karena dianggap aset safe haven, GBP/USD bisa terus tertekan.

Beda lagi sama USD/JPY. Dolar AS cenderung menguat di tengah ketidakpastian global karena statusnya sebagai safe haven. Sementara itu, Bank of Japan (BoJ) masih mempertahankan kebijakan moneternya yang sangat longgar, berbeda dengan bank sentral lain yang mulai menaikkan suku bunga. Ini bisa membuat JPY cenderung melemah terhadap Dolar AS. USD/JPY punya potensi untuk terus naik, terutama jika imbal hasil obligasi AS terus menanjak dan Fed terus hawkish.

Dan jangan lupakan XAU/USD (Emas). Emas ini biasanya jadi teman baik saat inflasi tinggi dan ketidakpastian pasar. Kenapa? Karena emas dianggap sebagai penyimpan nilai (store of value) yang aman. Ketika nilai mata uang tergerus inflasi, emas cenderung dicari. Jadi, potensi lonjakan harga emas masih terbuka lebar kalau isu inflasi dan geopolitik ini terus memanas. Apalagi kalau investor mulai ragu sama kebijakan bank sentral dalam mengendalikan inflasi.

Peluang untuk Trader

Di tengah ketidakpastian ini, justru ada peluang buat trader yang jeli. Yang penting, kita harus bisa membaca sentimen pasar dan menyesuaikan strategi.

Pertama, perhatikan pair mata uang yang terkait dengan komoditas, seperti CAD/USD (Dolar Kanada) atau AUD/USD (Dolar Australia). Keduanya cenderung sensitif terhadap pergerakan harga komoditas energi dan logam. Jika harga energi terus naik, CAD bisa sedikit diuntungkan. Namun, jika kekhawatiran resesi global makin kencang, permintaan komoditas bisa anjlok, dan justru membebani pair-pair ini.

Kedua, jangan lupakan emas (XAU/USD). Seperti yang dibahas tadi, emas punya potensi untuk terus bersinar di tengah badai inflasi. Cari setup buy yang valid, tapi jangan lupa pasang stop loss yang ketat. Ingat, emas juga bisa terkoreksi kalau dolar AS menguat tajam atau jika ada aliran dana keluar dari aset safe haven ke aset yang lebih berisiko (meskipun ini kecil kemungkinannya dalam situasi saat ini).

Ketiga, perhatikan pair yang punya fundamental kuat tapi rentan terhadap sentimen global. Contohnya, jika kita melihat ada potensi Euro menguat karena ECB menaikkan suku bunga lebih agresif dari perkiraan, kita bisa cari setup buy di EUR/USD. Tapi, selalu siapkan diri untuk skenario terburuk. Pergerakan mata uang bisa sangat cepat berubah mengikuti berita. Yang perlu dicatat, kita perlu melihat level-level teknikal penting seperti support dan resistance untuk mengkonfirmasi potensi pergerakan harga. Misalnya, jika EUR/USD menembus level support kuat, itu bisa jadi sinyal jual. Sebaliknya, jika berhasil bertahan di atas level resistance, itu bisa jadi sinyal beli.

Yang terpenting dari semua ini adalah manajemen risiko. Dengan volatilitas yang tinggi, potensi kerugian juga semakin besar. Pastikan kamu tahu berapa banyak yang siap kamu rugikan dalam setiap transaksi dan jangan pernah menaruh semua telur dalam satu keranjang.

Kesimpulan

Jadi, kesimpulannya, ancaman inflasi dan energy shock yang diperparah oleh isu geopolitik ini memang bukan sekadar bumbu berita. Ini adalah pendorong utama yang bisa menggerakkan pasar dalam beberapa waktu ke depan. Pasar mungkin masih terkejut dengan besarnya dampak ini, dan itu berarti potensi pergerakan harga yang liar masih akan terus berlanjut.

Bagi kita para trader, ini adalah masa-masa yang menantang sekaligus penuh peluang. Kita perlu terus belajar, memantau data ekonomi global, dan punya strategi trading yang fleksibel. Mengerti akar masalahnya, bagaimana dampaknya ke berbagai aset, dan bagaimana potensi peluangnya adalah kunci untuk bertahan dan mungkin berkembang di tengah badai ini. Ingat, yang penting bukan cuma soal "perang antarnegara," tapi "perang" melawan inflasi yang menggerogoti nilai aset kita.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`