Perang Dagang Jilid II? Ancaman Trump Soal Tarif Buat Dolar Goyah!
Perang Dagang Jilid II? Ancaman Trump Soal Tarif Buat Dolar Goyah!
Baru saja pasar keuangan kita mulai bernapas lega setelah gejolak inflasi dan suku bunga, eh, tiba-tiba muncul 'badai' baru dari pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump. Kata-katanya soal kesepakatan dagang yang "tidak berlaku" dan potensi tarif yang lebih tinggi, langsung bikin para trader geleng-geleng kepala. Ini bukan sekadar statement iseng, lho. Pernyataan Trump ini punya potensi besar mengguncang pasar global, terutama nilai tukar mata uang dan aset safe haven. Mari kita bedah lebih dalam, ada apa sebenarnya, dan bagaimana ini bisa memengaruhi portofolio trading kita.
Apa yang Terjadi?
Jadi begini, ceritanya bermula dari serangkaian cuitan atau postingan di platform media sosial yang identik dengan Trump, yaitu X (dulu Twitter). Dalam postingannya, Trump melontarkan pernyataan yang cukup mengejutkan terkait kesepakatan dagang yang dinegosiasikan di bawah International Emergency Economic Powers Act (IEEPA). Beliau secara eksplisit menyatakan bahwa "Beberapa kesepakatan dagang yang dinegosiasikan di bawah IEEPA tidak berlaku".
Nah, IEEPA ini adalah undang-undang di Amerika Serikat yang memberikan wewenang kepada Presiden untuk memberlakukan sanksi ekonomi terhadap negara, entitas, atau individu tertentu dalam keadaan darurat nasional. Ini bisa berarti pembekuan aset, pembatasan perdagangan, dan berbagai langkah lainnya yang bertujuan untuk melindungi kepentingan keamanan nasional AS. Penggunaan undang-undang ini seringkali berujung pada kebijakan proteksionis dan tarif impor.
Lebih lanjut lagi, Trump juga menegaskan bahwa "tidak ada yang berubah pada kesepakatan dagang dengan India". Pernyataan ini bisa diartikan ganda, bisa jadi memang menegaskan status quo, atau justru mengisyaratkan ketidakpuasan yang bisa berujung pada perubahan di masa depan. Yang paling krusial adalah ancaman terselubung soal tarif: "POTENSIALNYA TARIF LEBIH TINGGI. MEREKA BISA SESUAI APA PUN YANG KITA INGINKAN. TARIF AKAN SANGAT WAJAR UNTUK NEGARA-NEGARA." Kalimat ini bisa diinterpretasikan bahwa Trump melihat ada ruang untuk menaikkan tarif lebih lanjut, dan kebijakannya kelak akan sangat bergantung pada bagaimana negara-negara tersebut "berperilaku" atau seberapa "wajar" mereka memperlakukan Amerika Serikat.
Latar belakang dari pernyataan ini adalah gelombang proteksionisme dagang yang memang sudah menjadi ciri khas kebijakan Trump saat menjabat dulu. Ingat kembali bagaimana beliau sering melontarkan ancaman tarif kepada China, Uni Eropa, bahkan sekutu dekat AS. Retorika ini, meski terkadang dinilai kontroversial, memang terbukti memiliki bobot dan memengaruhi sentimen pasar. Saat ini, dengan semakin dekatnya perhelatan pemilihan presiden AS, pernyataan-pernyataan seperti ini mulai mengemuka kembali, seolah menjadi sinyal awal dari potensi kembali ke kebijakan yang lebih agresif dalam urusan dagang.
Dampak ke Market
Ancaman tarif dan ketidakpastian kesepakatan dagang ini, seperti bola salju yang menggelinding, bisa memberikan dampak yang signifikan ke berbagai lini pasar.
Pertama, Dolar AS (USD). Biasanya, ketegangan geopolitik atau ekonomi akan membuat Dolar AS menguat karena dianggap sebagai aset safe haven. Namun, dalam kasus ini, ancaman tarif dari AS sendiri bisa menjadi bumerang. Jika kebijakan proteksionis ini benar-benar diterapkan dan memicu perang dagang global baru, ini akan merusak stabilitas ekonomi global. Ekonomi global yang goyah justru bisa membuat Dolar AS melemah, bukan menguat, karena permintaan terhadap mata uang AS akan berkurang seiring dengan melambatnya aktivitas perdagangan internasional.
Untuk pasangan EUR/USD, jika ketegangan dagang memburuk, Euro (EUR) berpotensi melemah karena Uni Eropa adalah salah satu target potensial tarif AS. Namun, jika sentimen risk-off global meningkat, Dolar AS yang menguat sebagai safe haven bisa menahan pelemahan EUR/USD, atau bahkan mendorongnya turun lebih jauh. Ini adalah contoh korelasi yang kompleks.
Sementara itu, GBP/USD juga akan terpengaruh. Inggris, yang sudah menghadapi tantangan Brexit dan ekonomi yang fluktuatif, bisa semakin tertekan jika AS menerapkan tarif yang merugikan. Namun, seperti EUR/USD, arah pergerakannya akan sangat bergantung pada sentimen global secara keseluruhan.
Yang menarik untuk dicermati adalah USD/JPY. Jepang adalah salah satu negara yang sangat bergantung pada ekspor. Jika tarif AS meningkat, ekspor Jepang bisa terhambat, yang seharusnya menekan Yen. Namun, Yen Jepang juga dikenal sebagai safe haven klasik. Jika ketidakpastian global memuncak, investor bisa beralih ke Yen untuk keamanan, sehingga bisa terjadi pergerakan yang berlawanan arah.
Tidak ketinggalan, Emas (XAU/USD). Emas adalah aset safe haven klasik yang selalu diburu saat ketidakpastian global meningkat. Jika ancaman perang dagang ini berlanjut dan memicu kekhawatiran resesi, emas berpotensi melonjak. Investor akan mencari tempat berlindung yang aman dari gejolak pasar mata uang dan saham.
Peluang untuk Trader
Dalam setiap ketidakpastian, selalu ada peluang bagi trader yang jeli. Pernyataan Trump ini membuka beberapa skenario yang bisa kita manfaatkan:
- Pantau pasangan mata uang yang sensitif terhadap perdagangan: Perhatikan pasangan mata uang seperti AUD/USD (Australia sangat bergantung pada ekspor komoditas ke China, yang bisa jadi target tarif AS) dan USD/CAD (Kanada juga mitra dagang utama AS). Jika ketegangan dagang meningkat, pasangan-pasangan ini berpotensi mengalami volatilitas yang lebih tinggi.
- Perhatikan sentimen risk-on/risk-off: Jika pasar bereaksi negatif terhadap ancaman tarif dan terjadi risk-off, aset seperti USD/JPY dan Emas (XAU/USD) bisa menjadi pilihan menarik. Sebaliknya, jika pasar mengabaikan pernyataan ini atau melihatnya sebagai manuver politik, aset berisiko seperti saham mungkin akan mendapatkan momentum kembali.
- Analisis teknikal menjadi kunci: Dengan adanya ketidakpastian fundamental, analisis teknikal menjadi lebih penting. Perhatikan level-level support dan resistance krusial pada pasangan mata uang utama. Misalnya, pada EUR/USD, level 1.0800 dan 1.0700 bisa menjadi area penting yang perlu dicermati. Jika level-level ini ditembus, ini bisa menandakan pergeseran tren yang signifikan. Untuk XAU/USD, level $2000 per ons tetap menjadi psikologis yang kuat, dengan potensi kenaikan menuju $2050 atau bahkan $2100 jika ketegangan meningkat.
- Waspadai volatilitas dadakan: Pernyataan Trump seringkali bersifat mendadak dan tidak terduga. Ini berarti volatilitas pasar bisa melonjak sewaktu-waktu. Selalu gunakan stop-loss yang ketat untuk membatasi kerugian. Jangan pernah bertaruh terlalu besar pada satu setup trading.
Kesimpulan
Pernyataan Donald Trump soal kesepakatan dagang dan potensi kenaikan tarif ini bukanlah isapan jempol belaka. Ini adalah pengingat bahwa kebijakan proteksionis masih menjadi ancaman nyata dalam lanskap ekonomi global. Simpelnya, perang dagang itu seperti keran yang dibuka, lalu ditutup semaunya. Semakin banyak negara yang terkena, semakin besar dampaknya ke ekonomi dunia.
Para trader perlu mencermati dampaknya pada berbagai mata uang dan aset safe haven. Meskipun ketegangan dagang bisa mendorong penguatan Dolar AS sebagai safe haven, ancaman tarif yang berasal dari AS sendiri bisa memicu sentimen risk-off yang lebih luas, yang kemudian bisa memengaruhi Dolar secara berbeda. Emas, sebagai aset pelindung nilai, kemungkinan akan menjadi primadona jika kekhawatiran global semakin meningkat.
Ke depan, apa yang perlu kita perhatikan adalah sejauh mana retorika ini akan diterjemahkan menjadi kebijakan nyata. Jika ini hanya sekadar manuver politik untuk menarik perhatian publik menjelang pemilu, dampaknya mungkin hanya sementara. Namun, jika ini adalah sinyal awal dari perubahan kebijakan dagang AS yang lebih agresif, maka kita harus bersiap menghadapi periode volatilitas yang lebih tinggi di pasar keuangan global. Tetaplah waspada, diversifikasi portofolio, dan gunakan analisis yang matang sebelum mengambil keputusan trading.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.