Perang Dagang Jilid II? Tarip AS Setahun Kemudian, Apa Dampaknya ke Duit Kita?

Perang Dagang Jilid II? Tarip AS Setahun Kemudian, Apa Dampaknya ke Duit Kita?

Perang Dagang Jilid II? Tarip AS Setahun Kemudian, Apa Dampaknya ke Duit Kita?

Setahun lalu, tepatnya 1 Februari 2025, dunia dagang global diguncang kabar mengejutkan. Administrasi Trump, tak lama setelah dilantik, mengumumkan serangkaian tarif baru sebagai bagian dari kebijakan "America First Trade Policy Memorandum". Tujuannya jelas: memangkas defisit dagang Amerika Serikat yang membengkak. Nah, satu tahun sudah berlalu, dan pertanyaan krusialnya kini adalah: bagaimana nasibnya? Apakah sekadar gegap gempita awal, atau justru menjadi awal dari era baru ketegangan dagang yang akan mengocok portofolio kita?

Apa yang Terjadi? Kilas Balik Setahun Tarip AS

Cerita bermula dari sebuah memorandum yang ditandatangani tak lama setelah Presiden Trump dilantik. Dokumen ini menginstruksikan pemerintahannya untuk "menyelidiki penyebab defisit perdagangan barang tahunan yang besar dan persisten di negara kita...". Instruksi ini bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, AS merasa dirugikan oleh praktik dagang yang dianggap tidak adil dari negara-negara lain, yang berdampak pada hilangnya lapangan kerja dan keuntungan ekonomi.

Tarif yang diberlakukan setahun lalu itu menargetkan berbagai macam barang, mulai dari baja dan aluminium hingga komponen elektronik dan produk manufaktur lainnya. Alasannya pun beragam, ada yang didasari isu keamanan nasional (seperti tarif baja dan aluminium yang disebut mengancam industri pertahanan AS), ada pula yang lebih terkait dengan tudingan praktik dagang yang tidak sehat, seperti subsidi pemerintah oleh negara lain atau pencurian kekayaan intelektual.

Pendekatan "America First" ini pada dasarnya adalah sebuah kalkulus ekonomi dengan sentuhan nasionalisme. Pemerintah AS berargumen bahwa dengan membuat barang impor menjadi lebih mahal melalui tarif, produk domestik akan menjadi lebih kompetitif. Ini diharapkan dapat mendorong produksi di dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, dan pada akhirnya mengurangi angka defisit perdagangan. Simpelnya, mereka ingin membeli lebih sedikit dari luar dan menjual lebih banyak ke luar.

Namun, seperti pisau bermata dua, kebijakan ini tidak serta merta disambut hangat. Negara-negara yang menjadi target tarif tak tinggal diam. Banyak yang membalas dengan tarif serupa terhadap produk-produk Amerika, menciptakan apa yang kita kenal sebagai "perang dagang". Impor menjadi lebih mahal bagi konsumen AS, dan ekspor AS menjadi lebih sulit dijual di pasar internasional. Rantai pasok global pun mulai terganggu, membuat perusahaan-perusahaan di seluruh dunia harus memutar otak mencari alternatif.

Dampak ke Market: Dari Valuta Asing Hingga Emas

Lalu, apa dampaknya ke pasar keuangan yang kita pantau setiap hari? Jawabannya, lumayan signifikan.

Pertama, tentu saja ke mata uang. Ketika sebuah negara memberlakukan tarif terhadap negara lain, ini bisa memicu volatilitas pada pasangan mata uang yang melibatkan negara-negara tersebut. Misalnya, jika AS menaikkan tarif terhadap produk China, maka USD/CNY (jika diperdagangkan secara langsung) atau pair yang dipengaruhi sentimen seperti AUD/USD (karena Australia adalah eksportir besar ke China) bisa bergejolak.

Secara umum, kebijakan proteksionis seperti ini cenderung memberikan kekuatan sementara pada mata uang negara yang memberlakukan tarif, terutama jika dianggap bahwa langkah tersebut akan memperkuat ekonominya dalam jangka panjang. Namun, dampak jangka panjang bisa berbeda. Jika perang dagang memburuk dan mengganggu pertumbuhan ekonomi global, maka aset safe haven seperti USD dan JPY bisa menguat. Sebaliknya, mata uang negara-negara yang sangat bergantung pada ekspor, seperti negara-negara Asia, bisa tertekan.

Kita juga perlu melihat pasangan mata uang mayor. Kebijakan proteksionis AS dapat membuat EUR/USD bergerak liar. Jika Eropa merasa dirugikan, Euro bisa melemah terhadap Dolar AS. Sebaliknya, jika pasar melihat bahwa tarif tersebut justru membebani ekonomi AS lebih dari yang diperkirakan, maka Dolar bisa melemah dan EUR/USD bisa naik. Hal yang sama berlaku untuk GBP/USD, meskipun faktor Brexit juga masih menjadi pengaruh besar di sini.

Kemudian, ada emas (XAU/USD). Emas sering kali menjadi aset pelarian (safe haven) ketika ketidakpastian global meningkat, termasuk ketidakpastian akibat perang dagang. Jika ketegangan dagang memanas dan investor mulai khawatir tentang stabilitas ekonomi global, permintaan terhadap emas biasanya akan meningkat, mendorong harga XAU/USD naik. Sebaliknya, jika ada indikasi kesepakatan atau pelonggaran ketegangan, harga emas bisa terkoreksi turun.

Tak berhenti di situ, kebijakan tarif ini juga memengaruhi pasar komoditas lain, seperti minyak mentah. Kebutuhan energi yang lebih rendah akibat perlambatan ekonomi global (yang bisa dipicu perang dagang) akan menekan harga minyak. Sebaliknya, jika tarif bertujuan melindungi industri dalam negeri, permintaan bahan baku untuk industri tersebut bisa saja meningkat dalam jangka pendek.

Peluang untuk Trader: Navigasi di Tengah Ketidakpastian

Nah, sebagai trader, bagaimana kita bisa memanfaatkan situasi ini? Kuncinya adalah fleksibilitas dan kewaspadaan.

Pertama, pantau berita terkait negosiasi dagang secara ketat. Setiap pernyataan dari pejabat pemerintah AS, China, atau negara-negara utama lainnya bisa menjadi katalisator pergerakan pasar. Jangan hanya membaca judulnya, tapi coba pahami detailnya. Apakah itu sinyal perang dagang akan mereda, atau justru eskalasi?

Kedua, perhatikan pasangan mata uang yang paling terpengaruh. Seperti yang dibahas tadi, pasangan mata uang yang melibatkan negara-negara yang terlibat langsung dalam perang dagang, seperti USD/CNY, atau mata uang negara-negara yang sangat bergantung pada ekspor global seperti AUD, NZD, dan mata uang Asia lainnya, patut mendapatkan perhatian ekstra. Pair seperti EUR/USD dan GBP/USD juga penting, terutama untuk melihat sentimen risiko global.

Ketiga, pertimbangkan aset safe haven. Jika Anda melihat tanda-tanda eskalasi ketegangan dan kekhawatiran pasar, posisi di aset seperti Dolar AS, Yen Jepang, atau Emas bisa menjadi pilihan. Namun, ingat, ini bukan jaminan keuntungan. Perlu analisis teknikal untuk menentukan level masuk dan keluar yang tepat.

Keempat, jangan lupakan analisis teknikal. Di tengah gelombang berita yang datang silih berganti, level support dan resistance yang teruji menjadi lebih penting. Misalnya, jika XAU/USD sedang dalam tren naik karena ketidakpastian, cari level support yang kuat di mana Anda bisa mempertimbangkan untuk membuka posisi beli dengan stop loss yang ketat. Sebaliknya, jika trennya turun, cari level resistance untuk posisi jual.

Yang perlu dicatat, volatilitas yang tinggi juga berarti risiko yang lebih tinggi. Penting untuk manajemen risiko yang ketat. Gunakan ukuran posisi yang sesuai, pasang stop loss, dan jangan pernah mempertaruhkan seluruh modal Anda pada satu perdagangan.

Kesimpulan: Masa Depan Ketidakpastian Dagang

Satu tahun setelah tarif AS pertama diluncurkan, nampaknya bukan akhir dari cerita, melainkan babak baru yang penuh ketidakpastian. Dampaknya ke pasar keuangan sudah terasa, mengocok pergerakan valuta asing, komoditas, bahkan aset safe haven.

Tren ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana diplomasi dagang berjalan. Apakah ada kesepakatan yang bisa meredakan ketegangan, atau justru tarif akan semakin meluas dan mendalam? Sebagai trader, kita perlu terus belajar, beradaptasi, dan yang terpenting, menjaga kedisiplinan dalam setiap keputusan trading. Dunia finansial adalah arena yang dinamis, dan kemampuan kita membaca serta merespons perubahan adalah kunci untuk bertahan dan berkembang.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`