PERANG DAGANG KEMBALI MEMANAS? Pernyataan Pejabat The Fed Ini Bikin Pasar Gelisah!

PERANG DAGANG KEMBALI MEMANAS? Pernyataan Pejabat The Fed Ini Bikin Pasar Gelisah!

PERANG DAGANG KEMBALI MEMANAS? Pernyataan Pejabat The Fed Ini Bikin Pasar Gelisah!

Beberapa waktu terakhir, pasar keuangan global seakan diterpa badai ketidakpastian. Di tengah gejolak inflasi yang masih menghantui dan prospek suku bunga yang masih abu-abu, muncul lagi narasi yang bisa jadi "api dalam sekam" bagi para trader: isu tarif perdagangan. Pernyataan seorang pejabat The Fed, Michelle Bowman, baru-baru ini memberikan sinyal bahwa dampak tarif perdagangan terhadap eksportir masih menjadi beban utama. Alih-alih meredakan ketegangan, pernyataan ini justru memantik kembali pertanyaan lama tentang bagaimana kebijakan proteksionis ini akan mewarnai pergerakan pasar ke depan. Buat kita, para trader retail Indonesia, ini bukan sekadar berita politik, tapi bisa jadi game-changer di portofolio kita.

Apa yang Terjadi?

Jadi, apa sebenarnya yang diucapkan oleh pejabat The Fed, Michelle Bowman, yang membuat pasar sedikit bergidik? Dalam sebuah kesempatan, Bowman menyatakan bahwa "beban utama dari tarif tetap akan jatuh pada eksportir." Pernyataan ini sebenarnya bukan hal baru, tapi diucapkan di momen yang cukup krusial. Mengapa krusial?

Pertama, kita tahu bersama bahwa perang dagang, terutama antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, AS dan China, sudah berlangsung beberapa waktu. Tarif yang dikenakan oleh kedua negara terhadap barang impor telah menciptakan distorsi dalam rantai pasok global. Nah, ketika seorang pejabat The Fed, yang punya andil besar dalam menjaga stabilitas ekonomi AS, menyebut tarif masih membebani eksportir, ini mengindikasikan bahwa dampak negatif kebijakan tersebut belum sepenuhnya teratasi.

Kedua, Bowman juga sempat menyinggung soal peran tarif dalam dinamika inflasi, yang menurutnya "terbatas." Ini menarik. Ada dua kemungkinan interpretasi di sini. Bisa jadi, beliau ingin menekankan bahwa inflasi saat ini lebih didorong oleh faktor lain seperti gangguan pasok, permintaan yang tinggi, atau kebijakan moneter, bukan semata-mata karena tarif. Tapi, bisa juga ini menjadi sinyal bahwa jika tarif terus diberlakukan, dampaknya pada harga barang (dan ujungnya inflasi) akan tetap ada, meski mungkin bukan menjadi pendorong utama. Ibaratnya, tarif itu seperti bumbu penyedap yang meskipun tidak mendominasi rasa masakan, tetap memberikan kontribusi pada rasa keseluruhan.

Ketiga, Bowman juga membahas penggunaan neraca The Fed di saat-saat sulit. Ini sedikit keluar dari topik tarif, namun patut dicatat. Penggunaan neraca The Fed (yang berarti mencetak uang atau membeli aset) biasanya dilakukan untuk memberikan likuiditas ke pasar saat krisis. Pernyataannya ini mengindikasikan bahwa The Fed siap untuk bertindak jika kondisi ekonomi memburuk, dan ini bisa jadi respons terhadap ketidakpastian yang mungkin timbul akibat isu tarif atau faktor lainnya.

Kesimpulannya, pernyataan Bowman ini seperti mengingatkan kita bahwa risiko proteksionisme perdagangan masih membayangi perekonomian global. Ini bukan sekadar riak kecil, tapi bisa menjadi gelombang yang memengaruhi pergerakan aset-aset yang kita pegang.

Dampak ke Market

Lalu, bagaimana isu tarif ini, ditambah pernyataan dari The Fed, bisa bergema di pasar?

Untuk pasangan mata uang, EUR/USD mungkin akan menunjukkan reaksi yang kompleks. Jika tarif perdagangan baru kembali memanas, ini bisa berarti ketidakpastian ekonomi global meningkat. Dalam situasi seperti ini, Dolar AS (USD) sering kali bertindak sebagai safe haven, artinya investor cenderung memindah dananya ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk USD. Ini bisa menekan EUR/USD ke bawah. Namun, jika Uni Eropa juga merasakan dampak negatif dari tarif tersebut dan ekonominya melambat, Euro (EUR) sendiri bisa melemah, yang juga akan menekan EUR/USD.

Sementara itu, GBP/USD juga berpotensi terpengaruh. Inggris, meskipun sudah keluar dari Uni Eropa, tetap memiliki ketergantungan pada perdagangan global. Jika perang dagang semakin sengit, ini bisa menghambat ekspor Inggris dan memberikan tekanan pada Pound Sterling (GBP). Dolar AS yang menguat sebagai safe haven akan semakin memperburuk posisi GBP/USD.

Untuk pasangan dengan yen Jepang, USD/JPY, ceritanya bisa sedikit berbeda. Jepang adalah negara eksportir besar. Jika tarif perdagangan kembali memperburuk ekonomi global, ini bisa berdampak negatif pada permintaan barang-barang Jepang. Dalam skenario ini, yen Jepang (JPY) bisa melemah karena investor keluar dari aset-aset berisiko. Jika pasar berasumsi bahwa AS akan lebih tangguh dalam menghadapi ketidakpastian ini (berkat status safe haven USD), maka USD/JPY bisa saja bergerak naik. Namun, jika sentimen risk-off global sangat kuat, bahkan USD pun bisa tertekan.

Yang tak kalah penting, mari kita lirik XAU/USD alias emas. Emas sering kali menjadi aset pilihan ketika ketidakpastian ekonomi dan inflasi meningkat. Jika perang dagang kembali memanas, ini menciptakan ketidakpastian dan potensi kenaikan inflasi (karena biaya impor menjadi lebih mahal). Kedua faktor ini adalah "resep" yang sangat disukai emas. Jadi, ada potensi emas akan melanjutkan tren naiknya atau bahkan menguat tajam jika eskalasi tarif terjadi. Emas itu ibarat "penyelamat" saat dunia terasa kacau.

Selain itu, perlu dicatat bahwa kebijakan proteksionis sering kali memicu ketegangan geopolitik. Ketegangan ini bisa mengganggu aliran investasi global dan menimbulkan volatilitas di pasar saham dan komoditas lainnya.

Peluang untuk Trader

Nah, dengan adanya sinyal dari The Fed dan isu tarif yang kembali mengemuka, apa yang bisa kita lakukan sebagai trader retail?

Pertama, kita perlu memperhatikan pasangan mata uang yang memiliki keterkaitan erat dengan perdagangan global, seperti yang sudah kita bahas tadi: EUR/USD, GBP/USD, dan USD/JPY. Jika ada berita lanjutan tentang tarif baru atau pernyataan tambahan dari pejabat perdagangan atau bank sentral, pantau pergerakan pasangan-pasangan ini dengan cermat. Misalnya, jika ada laporan bahwa sebuah negara menaikkan tarif terhadap impor dari negara lain, perhatikan bagaimana mata uang kedua negara tersebut bereaksi.

Kedua, perhatikan pergerakan emas (XAU/USD). Jika sentimen risk-off memang meningkat akibat eskalasi tarif, emas bisa menjadi salah satu instrumen yang paling menarik untuk diperhatikan. Kita bisa mencari setup buy pada emas, namun tetap harus waspada terhadap potensi pullback atau koreksi.

Ketiga, jangan lupakan korelasi antar aset. Ingat analogi tadi? Tarif itu seperti bumbu. Dampaknya bisa merembet ke mana-mana. Jika Anda melihat USD menguat secara umum akibat sentimen safe haven, ini bisa menjadi konfirmasi untuk mengambil posisi short di pasangan mata uang yang memiliki USD sebagai basis (misalnya EUR/USD, GBP/USD). Sebaliknya, jika Anda melihat aset yang sensitif terhadap risiko seperti mata uang negara berkembang melemah, ini bisa menjadi sinyal untuk berhati-hati atau bahkan mencari peluang short.

Yang perlu dicatat adalah manajemen risiko. Kapanpun ada berita besar yang berpotensi menciptakan volatilitas tinggi, penting untuk menggunakan stop loss yang ketat dan tidak memaksakan ukuran posisi yang terlalu besar. Volatilitas yang meningkat berarti potensi keuntungan yang lebih besar, tapi juga potensi kerugian yang lebih besar. Jadi, bijaklah dalam menentukan risk per trade.

Kesimpulan

Pernyataan Michelle Bowman dari The Fed mengenai beban tarif yang masih jatuh pada eksportir, ditambah dengan pandangannya tentang peran tarif dalam inflasi yang terbatas, memberikan pengingat bahwa isu perdagangan internasional masih menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Ini bukanlah peristiwa terisolasi, melainkan bagian dari lanskap ekonomi global yang kompleks, di mana kebijakan proteksionis masih bisa memicu ketidakpastian.

Bagi kita, para trader, ini adalah sinyal untuk tetap waspada. Pergerakan di pasar mata uang seperti EUR/USD, GBP/USD, dan USD/JPY, serta pergerakan aset safe haven seperti emas (XAU/USD), berpotensi mengalami gejolak seiring dengan perkembangan isu tarif perdagangan. Dengan memahami konteksnya, menganalisis dampaknya ke berbagai instrumen, dan menerapkan strategi manajemen risiko yang baik, kita bisa tetap menemukan peluang di tengah ketidakpastian ini. Ingat, pasar selalu bergerak, dan selalu ada kesempatan bagi mereka yang jeli mengamati dan sigap bertindak.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`