Perang Dagang Makin Panas? AS Lirik Kesepakatan Bilateral, Peluang Baru atau Malapetaka di Pasar Forex?

Perang Dagang Makin Panas? AS Lirik Kesepakatan Bilateral, Peluang Baru atau Malapetaka di Pasar Forex?

Perang Dagang Makin Panas? AS Lirik Kesepakatan Bilateral, Peluang Baru atau Malapetaka di Pasar Forex?

Siang, para pemburu cuan di pasar finansial! Ada kabar angin yang lagi berhembus kencang nih dari Negeri Paman Sam, dan kabar ini bisa bikin jantung kita deg-degan kalau lagi pegang posisi di market. Laporan dari New York Times menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS) lagi serius mempertimbangkan untuk menjalin kesepakatan dagang bilateral dengan negara tetangganya, Meksiko dan Kanada. Wah, ini bukan sekadar obrolan santai antar tetangga, lho. Ini bisa jadi langkah strategis yang bakal mengguncang tatanan ekonomi global, dan tentunya, merubah peta pergerakan harga di instrumen trading favorit kita.

Apa yang Terjadi?

Jadi gini, ceritanya berawal dari kegalauan AS di bawah kepemimpinan Presiden Trump yang memang punya pandangan cukup kritis terhadap perjanjian dagang multilateral yang dianggapnya merugikan AS. Salah satu perjanjian yang paling sering jadi sorotan adalah North American Free Trade Agreement (NAFTA), yang kini sudah digantikan oleh United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA). Nah, munculnya isu kesepakatan bilateral ini seolah menandakan bahwa AS nggak puas dengan formula USMCA yang ada, atau mungkin punya visi yang lebih ambisius untuk mengamankan kepentingannya sendiri.

Laporan NYT ini mengindikasikan bahwa AS sedang secara aktif mengeksplorasi kemungkinan untuk membuat perjanjian dagang baru yang lebih terfokus dengan Meksiko dan Kanada secara terpisah. Ini artinya, alih-alih satu perjanjian besar yang mencakup ketiga negara, AS ingin membuat kesepakatan "dua arah" dengan masing-masing negara. Konteksnya, Amerika Serikat merasa bahwa perjanjian dagang yang ada saat ini belum cukup memberikan keuntungan maksimal bagi mereka. Mereka ingin lebih leluasa dalam negosiasi, bisa jadi untuk isu-isu spesifik seperti impor otomotif, pertanian, atau bahkan masalah tenaga kerja.

Bayangkan saja, perjanjian multilateral seperti NAFTA atau USMCA itu kanibaratnya pesta besar yang mengundang banyak tamu. Semua punya aturan mainnya sendiri. Nah, kalau AS mau bikin perjanjian bilateral, itu seperti mengundang satu teman dekat untuk makan malam, jadi lebih personal dan bisa banget disesuaikan dengan selera tuan rumah. Ini bisa jadi langkah proaktif AS untuk mengamankan rantai pasoknya, meminimalkan ketergantungan pada negara lain, dan tentu saja, meningkatkan daya saing produk-produk Amerika di pasar global. Tapi, ini juga bisa jadi awal dari era proteksionisme dagang yang makin mengental, yang jelas akan menimbulkan ketidakpastian.

Dampak ke Market

Nah, kalau sudah ngomongin kebijakan dagang AS, jangan harap mata uang greenback akan diam saja. USD, mata uang yang jadi tolok ukur banyak pasar, kemungkinan besar akan merasakan dampak langsung. Jika kesepakatan bilateral ini benar-benar terwujud dan memberikan keuntungan yang nyata bagi AS, misalnya dalam bentuk peningkatan ekspor atau investasi, ini bisa menjadi sentimen positif yang kuat untuk USD. Permintaan terhadap USD bisa meningkat karena pelaku pasar melihat AS sebagai negara yang ekonominya semakin kokoh.

Pasangan mata uang utama seperti EUR/USD bisa saja mengalami pelemahan jika USD menguat. Dolar yang perkasa akan membuat Euro tampak lebih mahal, sehingga investor mungkin akan beralih dari Euro ke Dolar. Sebaliknya, GBP/USD juga berpotensi bergerak turun.

Bagaimana dengan USD/JPY? Jika ada aliran dana masuk ke AS karena kesepakatan dagang ini, permintaan terhadap USD akan meningkat, sehingga USD/JPY berpotensi menguat. Tapi, kita juga perlu lihat bagaimana Bank of Japan (BOJ) merespons kondisi ini. Jika BOJ memutuskan untuk menjaga suku bunga tetap rendah, ini bisa jadi bahan bakar tambahan penguatan USD/JPY.

Menariknya, USD/CAD akan jadi pasangan yang paling volatil. Kanada adalah salah satu negara yang langsung terdampak oleh kebijakan dagang AS. Jika kesepakatan bilateral ini memberikan keuntungan bagi Kanada, maka CAD bisa menguat terhadap USD, membuat USD/CAD turun. Namun, jika negosiasi berjalan alot atau bahkan memicu ketegangan dagang baru, CAD bisa melemah, dan USD/CAD berpotensi naik.

Bukan hanya mata uang, logam mulia seperti Emas (XAU/USD) juga bisa bereaksi. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang seringkali ditimbulkan oleh perang dagang, emas cenderung menjadi aset safe haven. Jika negosiasi ini memicu kekhawatiran pasar global, investor bisa saja memburu emas untuk melindungi portofolio mereka, sehingga XAU/USD berpotensi menguat. Sebaliknya, jika kesepakatan dianggap akan mendorong pertumbuhan ekonomi global, aliran dana bisa menjauhi emas.

Peluang untuk Trader

Kabar seperti ini tentu bukan sekadar berita basi, tapi bisa jadi ladang peluang bagi kita para trader. Simpelnya, di mana ada ketidakpastian, di situ ada volatilitas. Dan di mana ada volatilitas, di situ ada potensi profit.

Pertama, pantau terus perkembangan negosiasi antara AS, Meksiko, dan Kanada. Berita terbaru, pernyataan resmi dari para pejabat, atau bahkan kicauan dari tokoh berpengaruh bisa menjadi pemicu pergerakan harga yang signifikan. Trader yang jeli bisa memanfaatkan momentum ini untuk mengambil posisi buy atau sell.

Kedua, perhatikan pasangan mata uang yang langsung terkait. Seperti yang sudah dibahas, USD/CAD akan jadi sorotan utama. Jika Anda melihat ada sinyal teknikal yang kuat, bisa jadi ini saatnya untuk melakukan analisa lebih mendalam.

Ketiga, jangan lupakan aset safe haven seperti emas. Jika sentimen pasar memburuk akibat ketegangan dagang, emas bisa menjadi pilihan yang menarik. Coba perhatikan level-level support dan resistance krusial pada grafik XAU/USD.

Yang perlu dicatat adalah, berita ini bisa saja memicu tren baru. Jika kesepakatan ini membentuk pola baru dalam perdagangan global, maka kita perlu beradaptasi dan menyesuaikan strategi trading kita. Misalnya, jika negara-negara lain mulai mengikuti langkah AS dengan membuat perjanjian bilateral, ini bisa jadi awal dari fragmentasi ekonomi global yang lebih besar.

Kesimpulan

Kebijakan dagang bilateral yang dipertimbangkan AS ini adalah sinyal jelas bahwa dunia sedang bergerak menuju tatanan ekonomi yang mungkin lebih terfragmentasi. Jika AS berhasil merealisasikan visi ini, ia bisa saja mengamankan posisinya sebagai kekuatan ekonomi dominan, namun di sisi lain, bisa memicu respons serupa dari negara-negara lain yang pada akhirnya menciptakan ketidakpastian global yang lebih besar.

Bagi kita para trader, ini adalah momen untuk tetap waspada sekaligus oportunis. Perlu diingat, pasar selalu bereaksi terhadap berita dan kebijakan yang berpotensi mengubah peta persaingan ekonomi global. Tetaplah teredukasi, lakukan analisis teknikal dan fundamental yang matang, dan yang terpenting, kelola risiko Anda dengan bijak. Peluang selalu ada, tapi hanya bagi mereka yang siap dan mampu beradaptasi dengan cepat.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`