Perspektif Mohamed El-Erian tentang Fenomena Ekonomi Global
Perspektif Mohamed El-Erian tentang Fenomena Ekonomi Global
Mohamed El-Erian, penasihat ekonomi utama di Allianz dan seorang tokoh terkemuka dalam dunia keuangan, baru-baru ini menyuarakan pandangannya yang krusial mengenai lanskap ekonomi global, khususnya di Amerika Serikat. Dalam diskusinya di 'Squawk on the Street', El-Erian menyoroti sebuah fenomena yang semakin kentara: pemisahan atau 'decoupling' pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dari penciptaan lapangan kerja. Observasi ini tidak hanya menggarisbawahi tantangan struktural yang mendalam tetapi juga mengarah pada kebutuhan mendesak akan kebijakan yang adaptif, terutama terkait adopsi kecerdasan buatan (AI).
Dekopling Pertumbuhan PDB dari Lapangan Kerja
Fenomena dekopling antara pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja merujuk pada situasi di mana meskipun angka PDB terus menunjukkan peningkatan, hal tersebut tidak diikuti oleh pertumbuhan yang sepadan dalam penciptaan atau ketersediaan pekerjaan baru. Di masa lalu, pertumbuhan PDB secara inheren terkait dengan peningkatan lapangan kerja, karena ekspansi ekonomi biasanya berarti lebih banyak produksi, lebih banyak investasi, dan pada gilirannya, lebih banyak orang yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut. Namun, El-Erian mengamati bahwa dinamika ini kini mulai berubah.
Ada beberapa faktor yang berkontribusi pada pemisahan ini. Otomatisasi, digitalisasi, dan kini, terutama AI, memainkan peran sentral. Kemajuan teknologi memungkinkan perusahaan untuk mencapai tingkat output yang lebih tinggi dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit, atau setidaknya, dengan jenis pekerja yang berbeda. Ini berarti produktivitas dapat meningkat tajam, mendorong PDB, namun pada saat yang sama, permintaan untuk pekerjaan manual atau repetitif menurun, bahkan untuk beberapa pekerjaan kognitif tingkat menengah. Akibatnya, masyarakat mungkin melihat angka PDB yang sehat, namun merasakan stagnasi atau bahkan penurunan dalam peluang kerja yang stabil dan bergaji baik.
Implikasi Sosial dan Ekonomi dari Dekopling
Dampak dari dekopling ini sangat signifikan, tidak hanya pada tingkat makroekonomi tetapi juga pada struktur sosial. Di tingkat makro, hal ini dapat menyebabkan peningkatan ketidaksetaraan pendapatan, karena manfaat dari pertumbuhan ekonomi cenderung terkonsentrasi pada segelintir sektor atau individu yang memiliki keterampilan yang sangat sesuai dengan era baru ini. Sementara itu, sebagian besar tenaga kerja mungkin menghadapi tantangan dalam beradaptasi, berisiko tertinggal atau bahkan kehilangan pekerjaan mereka.
Secara sosial, ketidakpastian pekerjaan dan potensi pengangguran teknologi dapat memicu ketegangan sosial dan politik. Masyarakat yang merasa ditinggalkan oleh kemajuan ekonomi mungkin menyuarakan ketidakpuasan, yang dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk, mulai dari polarisasi politik hingga gerakan sosial. Bagi individu, hal ini berarti tekanan finansial, stres, dan hilangnya tujuan. Oleh karena itu, mengatasi dekopling ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga masalah stabilitas dan kohesi sosial.
Kecerdasan Buatan sebagai Pedang Bermata Dua
Kecerdasan Buatan (AI) adalah inti dari diskusi ini. Di satu sisi, AI menawarkan potensi transformatif yang luar biasa untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan efisiensi di hampir setiap sektor. Dari diagnosa medis hingga manajemen rantai pasok, dari layanan pelanggan hingga penelitian ilmiah, AI dapat merevolusi cara kerja kita, membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, di sisi lain, AI juga merupakan pemicu utama dekopling yang diamati El-Erian. Kemampuannya untuk mengotomatisasi tugas-tugas kompleks yang sebelumnya membutuhkan intervensi manusia secara langsung telah menimbulkan kekhawatiran serius tentang penggantian pekerjaan.
Perdebatan tentang apakah AI akan menciptakan lebih banyak pekerjaan daripada yang dihilangkannya masih berlangsung. Namun, yang jelas adalah bahwa pekerjaan yang tersisa atau yang baru akan membutuhkan set keterampilan yang sangat berbeda. Ini berarti akan ada periode transisi yang signifikan, di mana sebagian besar tenaga kerja perlu di-reskill atau di-upskill agar tetap relevan. Tanpa kebijakan yang terarah, transisi ini dapat sangat bergejolak dan merugikan.
Kebutuhan Mendesak akan Kebijakan Adopsi AI di AS
Mengingat implikasi tersebut, El-Erian secara tegas menyatakan bahwa Amerika Serikat membutuhkan "kebijakan adopsi AI." Ini bukan hanya tentang mendorong pengembangan AI, tetapi tentang bagaimana negara mengelola integrasi AI ke dalam ekonomi dan masyarakat untuk memastikan manfaatnya tersebar luas dan risikonya dimitigasi. Kebijakan semacam itu perlu mencakup beberapa pilar utama:
1. Pendidikan dan Pelatihan Ulang (Reskilling dan Upskilling): Ini adalah fondasi utama. Pemerintah perlu berinvestasi besar-besaran dalam program pendidikan dan pelatihan yang mempersiapkan tenaga kerja untuk pekerjaan era AI. Ini berarti fokus pada keterampilan digital, pemecahan masalah kompleks, berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi manusia-AI. Kurikulum pendidikan, dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi dan pelatihan vokasi, harus diadaptasi secara radikal.
2. Jaring Pengaman Sosial yang Adaptif: Seiring dengan perubahan lanskap pekerjaan, beberapa individu pasti akan menghadapi periode pengangguran atau transisi. Oleh karena itu, jaring pengaman sosial yang kuat dan adaptif, seperti asuransi pengangguran yang lebih fleksibel, tunjangan transisi kerja, atau bahkan gagasan pendapatan dasar universal (UBI) perlu dipertimbangkan serius. Ini akan membantu mengurangi penderitaan ekonomi dan memberikan waktu bagi individu untuk beradaptasi.
3. Mendorong Inovasi Bertanggung Jawab: Kebijakan harus mendorong inovasi AI tetapi juga menetapkan pedoman etika dan regulasi yang jelas. Ini mencakup isu-isu seperti privasi data, bias algoritmik, akuntabilitas, dan transparansi. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa AI dikembangkan dan digunakan dengan cara yang bermanfaat bagi masyarakat luas, bukan hanya segelintir perusahaan atau individu.
4. Kemitraan Publik-Swasta: Implementasi kebijakan AI yang efektif membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil. Pemerintah dapat memfasilitasi penelitian, pengembangan, dan penerapan AI, sementara sektor swasta membawa keahlian teknis dan investasi. Akademisi dapat membantu dalam penelitian dan pengembangan kurikulum, dan masyarakat sipil dapat memastikan perspektif etika dan sosial diperhitungkan.
5. Investasi Infrastruktur Digital: Untuk memanfaatkan potensi AI sepenuhnya, negara membutuhkan infrastruktur digital yang kokoh dan merata, termasuk akses internet berkecepatan tinggi yang terjangkau di seluruh wilayah.
Peran Federal Reserve dan Kebijakan Makroekonomi
Dalam konteks diskusi ini, peran Federal Reserve juga menjadi relevan. Kebijakan moneter The Fed, yang berfokus pada stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum, harus memperhitungkan perubahan struktural yang dibawa oleh AI. Jika pertumbuhan pekerjaan tidak lagi secara otomatis mengikuti pertumbuhan PDB, maka indikator tradisional The Fed untuk kesehatan pasar tenaga kerja mungkin perlu ditinjau ulang. The Fed mungkin perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap inflasi dan pertumbuhan secara lebih holistik, mengakui bahwa teknologi dapat memengaruhi baik sisi penawaran maupun permintaan dalam ekonomi dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kebijakan fiskal, di sisi lain, akan memikul beban yang lebih berat dalam mendukung transisi ini, melalui investasi dalam pendidikan, infrastruktur, dan jaring pengaman sosial. Oleh karena itu, koordinasi yang kuat antara kebijakan moneter dan fiskal sangat penting untuk menavigasi era AI ini.
Kesimpulan
Pandangan Mohamed El-Erian menggarisbawahi urgensi bagi Amerika Serikat untuk mengambil pendekatan proaktif terhadap revolusi AI. Dekopling PDB dan lapangan kerja bukanlah ancaman yang jauh di masa depan; itu adalah realitas yang sudah ada di sini, dan implikasinya sangat mendalam. Tanpa kebijakan adopsi AI yang komprehensif, yang mencakup pendidikan ulang tenaga kerja, jaring pengaman sosial yang kuat, etika AI yang jelas, dan kemitraan strategis, Amerika Serikat berisiko menghadapi peningkatan ketidaksetaraan, ketidakstabilan sosial, dan potensi hilangnya kepemimpinan ekonomi di kancah global. Momen ini menuntut pemikiran visioner dan tindakan berani untuk memastikan bahwa AI melayani umat manusia, bukan sebaliknya.