Pertumbuhan Pekerjaan AS Melambat: Ancaman Baru untuk Dolar dan Peluang Baru untuk Trader?

Pertumbuhan Pekerjaan AS Melambat: Ancaman Baru untuk Dolar dan Peluang Baru untuk Trader?

Pertumbuhan Pekerjaan AS Melambat: Ancaman Baru untuk Dolar dan Peluang Baru untuk Trader?

IMF baru saja merilis laporan yang bisa bikin para trader memutar otak. Proyeksi pertumbuhan lapangan kerja di Amerika Serikat diprediksi bakal anjlok di bawah level sebelum pandemi. Lho, kok bisa? Apa hubungannya sama populasi dan kebijakan ekonomi Paman Sam? Dan yang paling penting, gimana dampaknya buat portofolio trading kita? Yuk, kita bedah tuntas!

Apa yang Terjadi?

Jadi gini, teman-teman trader. International Monetary Fund (IMF) baru saja mengeluarkan hasil tinjauan ekonomi Amerika Serikat (AS), yang dikenal sebagai konsultasi Pasal IV. Dalam laporan terbarunya, IMF memprediksi bahwa pertumbuhan lapangan kerja di AS akan melambat dan diperkirakan akan jatuh di bawah level yang kita lihat sebelum era pandemi COVID-19. Ini bukan sekadar angka statistik biasa, tapi sebuah sinyal yang cukup penting dari lembaga sekelas IMF.

Laporan ini juga menyoroti adanya "orientasi ulang sistemik" pada perekonomian AS yang sedang diupayakan oleh para pembuat kebijakan di sana. Tujuannya jelas, yaitu meningkatkan kemandirian ekonomi AS dan pada akhirnya, menaikkan standar hidup para pekerja Amerika. Apa saja wujudnya? Mulai dari upaya meningkatkan kapasitas produksi domestik, mengurangi defisit perdagangan (jadi, mengurangi ketergantungan impor), sampai meningkatkan produksi energi di dalam negeri.

Yang menarik, laporan ini juga menyinggung soal pengurangan ketergantungan pada pekerja imigran ilegal. Ini adalah isu yang cukup sensitif dan kompleks, tapi dampaknya ke pasar tenaga kerja tidak bisa diabaikan. Selain itu, ada juga upaya untuk mengurangi peran pemerintah federal dalam perekonomian.

Nah, yang menjadi fondasi dari perlambatan pertumbuhan pekerjaan ini adalah kombinasi dua faktor utama yang disebut IMF: perlambatan pertumbuhan populasi dan perubahan kebijakan ekonomi AS. Pertumbuhan populasi yang melambat artinya jumlah angkatan kerja potensial juga tidak bertambah secepat dulu. Di saat yang sama, kebijakan yang fokus pada kemandirian dan restrukturisasi ekonomi, meskipun bertujuan jangka panjang, bisa jadi menciptakan penyesuaian jangka pendek yang memengaruhi penyerapan tenaga kerja.

IMF juga memberikan proyeksi tentang inflasi inti AS, yang diukur dengan Core Personal Consumption Expenditures (PCE). Diprediksi, inflasi inti ini akan menyentuh angka 2% di awal tahun 2027. Ini merupakan target inflasi yang diinginkan oleh bank sentral AS (The Fed). Namun, jalan menuju 2% ini mungkin tidak mulus, apalagi dengan potensi perlambatan pertumbuhan pekerjaan yang bisa memengaruhi permintaan.

Dampak ke Market

Perlambatan pertumbuhan pekerjaan di negara dengan perekonomian terbesar di dunia seperti AS, tentu saja punya riak ke pasar keuangan global. Bagaimana dampaknya ke currency pairs favorit kita?

  • USD (Dolar AS): Ini yang paling jelas. Jika pertumbuhan lapangan kerja melambat, itu bisa menjadi sinyal bahwa perekonomian AS tidak sepanas yang dibayangkan. Ini bisa mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif atau bahkan memicu spekulasi penurunan suku bunga lebih cepat dari perkiraan. Simpelnya, suku bunga yang lebih rendah atau potensi penurunan suku bunga membuat Dolar AS jadi kurang menarik bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi. Akibatnya, USD berpotensi melemah terhadap mata uang utama lainnya.

  • EUR/USD: Dengan potensi pelemahan USD, pasangan mata uang ini bisa mendapatkan momentum bullish. Jika Dolar AS melemah, maka Euro (EUR) bisa menguat relatif terhadap USD. Para trader bisa mulai melirik potensi kenaikan pada pasangan ini, terutama jika data ekonomi Eurozone lainnya mendukung.

  • GBP/USD: Sama seperti EUR/USD, pelemahan USD juga bisa menjadi angin segar bagi pasangan GBP/USD. Pound Sterling (GBP) bisa menguat terhadap Dolar AS. Namun, perlu diingat bahwa sentimen terhadap Sterling juga sangat dipengaruhi oleh kondisi domestik Inggris, seperti kebijakan Bank of England (BoE) dan perkembangan ekonomi di sana.

  • USD/JPY: Dolar AS yang melemah terhadap Yen Jepang (JPY) bisa membuat pasangan USD/JPY turun. Hal ini bisa terjadi jika pasar melihat The Fed akan lebih dovish (melunak kebijakan moneternya) sementara Bank of Japan (BoJ) masih mempertahankan kebijakan yang sangat longgar atau bahkan perlahan mulai normalisasi. Perlu dicatat bahwa USD/JPY sangat sensitif terhadap perbedaan suku bunga antara AS dan Jepang.

  • XAU/USD (Emas): Dolar AS yang melemah seringkali berkorelasi positif dengan harga Emas. Emas dianggap sebagai aset safe haven dan pelindung nilai terhadap inflasi. Ketika Dolar AS melemah, nilai Emas yang terdenominasi Dolar AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaannya. Selain itu, jika pasar cemas akan perlambatan ekonomi AS, Emas bisa menjadi pilihan investasi yang menarik. Jadi, potensi kenaikan pada XAU/USD patut diperhatikan.

Yang perlu dicatat, hubungan antar aset ini tidak selalu linear dan bisa dipengaruhi oleh banyak faktor lain. Kebijakan moneter bank sentral lain, data ekonomi dari negara-negara G7, dan peristiwa geopolitik juga akan ikut bermain.

Peluang untuk Trader

Berita dari IMF ini membuka beberapa pintu peluang bagi kita sebagai trader, tapi tentu saja dengan kewaspadaan tinggi.

  • Perhatikan EUR/USD dan GBP/USD: Pasangan-pasangan ini bisa menjadi kandidat utama jika kita melihat USD mulai menunjukkan pelemahan yang berkelanjutan. Cari setup buy pada pasangan ini, namun selalu perhatikan level teknikal penting. Di EUR/USD, area support di sekitar 1.0700 dan resistance di 1.0850 bisa menjadi patokan. Untuk GBP/USD, support di 1.2500 dan resistance di 1.2700 mungkin menarik untuk diamati.

  • Emas (XAU/USD): Jika kekhawatiran perlambatan ekonomi AS makin menguat, Emas bisa menjadi aset yang sangat menarik untuk dibeli. Level support penting di sekitar $2300 per ons dan resistance di $2400 bisa menjadi titik acuan untuk strategi trading Anda. Perhatikan juga bagaimana pergerakan Dolar AS mempengaruhi harga emas.

  • USD/JPY: Pasangan ini mungkin perlu diperhatikan dari sisi yang berbeda. Jika pasar mulai percaya bahwa The Fed akan segera memangkas suku bunga, sementara BoJ masih enggan, ada potensi pelemahan lebih lanjut pada USD/JPY. Namun, jika The Fed tetap hawkish atau ada kejutan dari BoJ, ceritanya bisa berbeda. Tingkat psikologis 150 dan 155 bisa menjadi area penting untuk diperhatikan.

  • Manajemen Risiko Tetap Kunci: Ingat, semua prediksi ini adalah potensi. Pasar selalu dinamis. Gunakan stop-loss yang ketat dan jangan pernah meresikokan lebih dari yang bisa Anda toleransi dalam satu transaksi. Jangan FOMO (Fear Of Missing Out) dan pastikan setiap keputusan trading Anda didasarkan pada analisis yang matang, baik fundamental maupun teknikal.

Kesimpulan

Laporan IMF ini menandakan adanya pergeseran penting dalam narasi ekonomi AS. Perlambatan pertumbuhan lapangan kerja, yang dipicu oleh faktor demografis dan kebijakan ekonomi, bisa menjadi angin sakal bagi Dolar AS. Ini bukan berarti Dolar AS akan runtuh seketika, tapi potensi pelemahannya cukup signifikan.

Bagi kita sebagai trader, ini adalah momen untuk lebih cermat membaca pergerakan pasar, khususnya pada pasangan mata uang yang berlawanan dengan Dolar AS dan pada komoditas seperti Emas. Tentu saja, kita perlu terus memantau data ekonomi AS selanjutnya, pernyataan dari The Fed, serta perkembangan global lainnya yang bisa memengaruhi sentimen pasar. Tetaplah belajar, tetaplah waspada, dan semoga cuan selalu menyertai trading Anda!


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`