PHK Massal Mengintai Inggris? Data Tenaga Kerja Mengejutkan Naikkan Level Kekhawatiran!

PHK Massal Mengintai Inggris? Data Tenaga Kerja Mengejutkan Naikkan Level Kekhawatiran!

PHK Massal Mengintai Inggris? Data Tenaga Kerja Mengejutkan Naikkan Level Kekhawatiran!

Lagi-lagi, perhatian pasar tertuju pada tanah Ratu Elizabeth. Jika kemarin kita membahas inflasi yang masih bandel, hari ini data terbaru dari Inggris datang membawa kabar yang sedikit membuat bulu kuduk berdiri. Angka pengangguran tiba-tiba menunjukkan tren kenaikan yang cukup signifikan. Nah, ini bukan sekadar angka statistik biasa, melainkan sinyal penting yang bisa mengguncang pasar keuangan global, terutama yang bersinggungan dengan Sterling.

Apa yang Terjadi?

Jadi begini, Badan Statistik Nasional Inggris (ONS) baru saja merilis data ketenagakerjaan yang sedikit mengejutkan. Perkiraan tingkat pengangguran untuk individu berusia 16 tahun ke atas di Inggris pada periode Oktober-Desember 2025 tercatat sebesar 5.2%. Angka ini bukan hanya naik dari kuartal sebelumnya, tapi juga lebih tinggi dari estimasi yang diprediksi setahun lalu. Ini artinya, perekonomian Inggris tampaknya mulai menunjukkan gejalanya dengan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meningkat.

Yang menarik, kenaikan angka pengangguran ini terjadi bersamaan dengan lonjakan upah sektor publik yang terus meroket. Situasi ini menciptakan dilema yang cukup pelik bagi Bank of England (BoE). Di satu sisi, kenaikan upah yang tinggi bisa memicu inflasi lebih lanjut, membuat mereka berpikir ulang untuk menurunkan suku bunga. Di sisi lain, PHK yang mulai terjadi bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi, yang mana ini biasanya menjadi alasan bagi bank sentral untuk justru melonggarkan kebijakan moneter. Kombinasi ini sungguh menjadi tantangan berat.

Konteksnya, Inggris sudah beberapa waktu bergulat dengan inflasi yang membandel akibat berbagai faktor, mulai dari pasca-pandemi hingga gejolak geopolitik global. Kenaikan suku bunga yang agresif oleh BoE selama setahun terakhir bertujuan untuk meredam inflasi. Namun, seperti pisau bermata dua, kebijakan ketat ini seringkali berujung pada perlambatan ekonomi dan, tentu saja, kenaikan angka pengangguran. Jadi, data kali ini seolah mengkonfirmasi kekhawatiran banyak analis bahwa "landing" ekonomi Inggris mungkin akan sedikit kasar.

Secara historis, lonjakan pengangguran seringkali menjadi precursor bagi perlambatan ekonomi yang lebih dalam. Kita pernah melihat fenomena serupa di berbagai negara saat krisis ekonomi melanda, di mana PHK massal memicu efek domino pada daya beli masyarakat dan aktivitas bisnis. Pertanyaannya sekarang, apakah tren ini akan berlanjut dan seberapa dalam dampaknya?

Dampak ke Market

Nah, begitu data ini dirilis, reaksi pasar tidak butuh waktu lama. Mata uang Sterling (GBP) langsung merasakan dampaknya. Terhadap Dolar AS (USD), GBP/USD terpantau melemah karena kekhawatiran terhadap kesehatan ekonomi Inggris. Investor cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap aset-aset yang dianggap berisiko, dan mata uang negara yang ekonominya sedang goyah jelas masuk dalam kategori tersebut.

Bukan hanya GBP/USD, mata uang mayor lainnya juga berpotensi terpengaruh, meskipun tidak secara langsung. Misalnya, EUR/GBP bisa saja mengalami kenaikan karena Sterling melemah terhadap Euro. Pasangan mata uang seperti USD/JPY juga bisa bergerak sesuai dengan sentimen global. Jika ketakutan akan perlambatan ekonomi Inggris memicu risk-off sentiment secara umum, maka Dolar AS yang sering dianggap sebagai safe haven bisa menguat, menekan JPY.

Menariknya lagi, kita juga perlu memantau pergerakan aset safe haven lainnya seperti emas (XAU/USD). Jika data Inggris ini menjadi pemicu kecemasan global yang lebih luas mengenai pertumbuhan ekonomi dunia, maka emas berpotensi mendapatkan dorongan positif. Logam mulia ini seringkali menjadi pilihan investor saat ketidakpastian meningkat.

Secara keseluruhan, sentimen pasar kini sedikit bergeser menjadi lebih berhati-hati. Ketakutan akan resesi di Inggris bisa memicu efek riak ke negara-negara lain, terutama jika Inggris merupakan mitra dagang utama mereka.

Peluang untuk Trader

Dengan kondisi seperti ini, tentu saja ada peluang yang bisa dicermati oleh para trader.

Pertama, GBP/USD. Karena Sterling sedang dalam tekanan, trader yang berani bisa mencoba mencari peluang short atau jual pada pasangan ini. Level teknikal penting yang perlu diperhatikan adalah support terdekat di sekitar angka 1.2500. Jika support ini jebol, potensi penurunan lebih lanjut bisa terbuka lebar. Namun, perlu diingat, setiap kenaikan kecil bisa menjadi peluang jual kembali jika tren pelemahan masih kuat.

Kedua, EUR/GBP. Seiring dengan melemahnya GBP, EUR/GBP berpotensi bergerak naik. Trader bisa mencari posisi long atau beli pada pasangan ini, terutama jika GBP terus tertekan oleh data ekonomi negatif. Level resistance kunci di sekitar 0.8550 perlu dicermati.

Ketiga, XAU/USD (Emas). Jika sentimen risk-off semakin menguat, emas bisa menjadi aset yang menarik untuk dibeli. Perhatikan level support di kisaran 1980-2000 USD per ons. Jika level ini bertahan atau bahkan terlampaui ke atas, potensi kenaikan harga emas bisa jadi nyata.

Yang perlu dicatat adalah volatilitas pasar kemungkinan akan meningkat. Keputusan kebijakan moneter Bank of England ke depan akan sangat krusial. Data inflasi selanjutnya akan menjadi penentu apakah BoE akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi untuk melawan inflasi, atau mulai mempertimbangkan pelonggaran untuk menyelamatkan ekonomi dari resesi.

Selalu ingat untuk melakukan manajemen risiko yang ketat. Gunakan stop-loss untuk membatasi kerugian potensial dan jangan pernah meresikokan lebih dari yang Anda mampu untuk kehilangan.

Kesimpulan

Data pengangguran Inggris yang menunjukkan kenaikan ini adalah pengingat keras bahwa jalan pemulihan ekonomi tidak selalu mulus. Lonjakan upah sektor publik di tengah mulai tingginya angka PHK menciptakan skenario yang kompleks bagi otoritas moneter. Bank of England kini menghadapi dilema yang tidak mudah: menekan inflasi dengan risiko memperlambat ekonomi lebih jauh, atau melonggarkan kebijakan demi mencegah resesi, namun berisiko membiarkan inflasi terus membakar.

Ke depan, para pelaku pasar akan sangat menantikan data-data ekonomi Inggris selanjutnya, terutama yang berkaitan dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Keputusan suku bunga dari Bank of England akan menjadi momen krusial yang dapat memicu pergerakan signifikan pada mata uang Sterling dan aset terkait lainnya. Bagi kita, para trader, ini saatnya untuk tetap waspada, mengamati dengan cermat, dan menyiapkan strategi yang adaptif terhadap setiap perubahan sentimen pasar yang mungkin terjadi.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`