Sentimen The Fed Mengambang: Tarik Ulur Inflasi dan Sinyal Kemenangan Tarik Tambang Suku Bunga

Sentimen The Fed Mengambang: Tarik Ulur Inflasi dan Sinyal Kemenangan Tarik Tambang Suku Bunga

Sentimen The Fed Mengambang: Tarik Ulur Inflasi dan Sinyal Kemenangan Tarik Tambang Suku Bunga

Pasar finansial global, terutama yang berinteraksi dengan Dolar AS, kembali diramaikan dengan komentar-komentar dari pejabat Federal Reserve (The Fed). Kali ini giliran Thomas B. Goolsbee, salah satu anggota FOMC, yang memberikan pandangannya, menciptakan riak-riak menarik yang perlu dicermati oleh kita para trader retail di Indonesia. Di tengah data ekonomi yang campur aduk – ada yang menggembirakan, ada pula yang masih bikin was-was – Goolsbee justru menyuarakan harapan sekaligus kewaspadaan. Nah, mari kita bedah lebih dalam apa artinya ini buat portofolio kita.

Apa yang Terjadi?

Inti dari pernyataan Goolsbee yang dilansir dari berbagai sumber, termasuk cuitan di platform X (sebelumnya Twitter), adalah perpaduan antara harapan akan meredanya dampak negatif dari tarif impor dan kekhawatiran akan inflasi yang masih tinggi, khususnya di sektor jasa.

Pertama, soal dampak tarif impor. Goolsbee berharap bahwa dampak terburuk dari kebijakan tarif yang diterapkan Amerika Serikat, terutama yang berkaitan dengan tensi perdagangan, sudah terlewati. Ini bisa diartikan sebagai sinyal positif bahwa risiko tambahan terhadap rantai pasok dan harga barang di AS mulai berkurang. Ibaratnya, badai tarif yang sempat mengguncang pasokan barang dan memicu kenaikan harga, kini diperkirakan sudah berlalu atau setidaknya kekuatannya melemah. Ini adalah kabar baik bagi konsumen dan produsen yang selama ini dibebani biaya tambahan.

Namun, harapan ini langsung dibarengi dengan kekhawatiran inflasi jasa. Goolsbee mengakui bahwa inflasi di sektor jasa masih "cukup tinggi". Sektor jasa ini mencakup banyak hal, mulai dari biaya perawatan kesehatan, transportasi, hingga hiburan. Inflasi jasa yang membandel seringkali lebih sulit untuk diturunkan dibandingkan inflasi barang. Ini karena harga jasa lebih banyak dipengaruhi oleh biaya tenaga kerja yang cenderung lebih kaku untuk turun. Jadi, meskipun barang-barang mulai stabil harganya, biaya hidup secara keseluruhan masih terasa mahal bagi masyarakat.

Terkait data Indeks Harga Konsumen (CPI), Goolsbee melihat ada "beberapa poin yang menggembirakan, dan beberapa kekhawatiran." Ini adalah pengakuan jujur bahwa data inflasi yang dirilis belum sepenuhnya konsisten. Ada komponen yang menunjukkan penurunan atau stabilisasi, namun di sisi lain, ada komponen yang masih menunjukkan tekanan harga yang signifikan. Simpelnya, The Fed sedang menimbang-nimbang, seperti mau naik timbangan tapi timbangannya agak goyang, ada berat yang turun, ada yang naik.

Menariknya, Goolsbee juga menyinggung data pasar tenaga kerja yang kuat di bulan Januari. Ia berharap ini menjadi tanda stabilitas. Pasar tenaga kerja AS memang terbukti sangat tangguh, dengan tingkat pengangguran yang rendah dan pertumbuhan gaji yang stabil, meskipun ada sedikit pendinginan. Pasar tenaga kerja yang sehat adalah fondasi ekonomi yang baik, namun jika terlalu panas, bisa memicu kenaikan upah yang kemudian mendorong inflasi. Jadi, The Fed senang pasar kerja kuat, tapi juga waspada kalau-kalau jadi terlalu kuat dan memicu inflasi lagi.

Inti dari semua ini adalah, Goolsbee menegaskan kembali narasi The Fed yang sudah kita kenal: suku bunga bisa saja turun, tapi hanya jika ada kemajuan yang nyata dalam menaklukkan inflasi. Ini adalah pengingat bahwa penurunan suku bunga bukanlah kepastian, melainkan sebuah "jika dan hanya jika." The Fed tidak mau terburu-buru menurunkan suku bunga jika inflasi kembali membandel, karena itu bisa menggagalkan upaya mereka selama ini dalam menstabilkan harga.

Dampak ke Market

Komentar Goolsbee ini punya implikasi yang cukup luas ke berbagai instrumen pasar, terutama yang sensitif terhadap kebijakan The Fed dan sentimen inflasi.

Untuk pasangan mata uang EUR/USD, pernyataan ini cenderung memberikan sedikit dorongan positif. Jika The Fed menunjukkan keraguan untuk segera menurunkan suku bunga karena inflasi yang masih tinggi, ini bisa menahan penguatan Dolar AS. Hal ini memberikan ruang bagi Euro untuk sedikit menguat, terutama jika data ekonomi Eropa menunjukkan perbaikan. Namun, EUR/USD tetap akan sangat dipengaruhi oleh keputusan suku bunga European Central Bank (ECB) yang juga sedang berjuang melawan inflasi.

GBP/USD juga akan bereaksi serupa. Kenaikan suku bunga The Fed yang tertunda karena inflasi bisa menahan pelemahan Poundsterling. Namun, Poundsterling juga sangat dipengaruhi oleh sentimen domestik Inggris, termasuk data inflasi dan kebijakan Bank of England. Jika data inflasi Inggris juga masih membandel, maka penguatan GBP/USD akan terbatas.

Untuk pasangan mata uang yang melibatkan Dolar AS, seperti USD/JPY, komentarnya cukup krusial. Jika The Fed terlihat lebih hawkish (cenderung menahan suku bunga tinggi lebih lama) karena inflasi, ini bisa mendukung penguatan USD/JPY. Bank of Japan (BoJ) sendiri masih sangat hati-hati dalam normalisasi kebijakan moneternya. Namun, jika sentimen pasar berubah dan investor mulai mencari aset yang lebih aman, ini bisa memberikan tekanan pada USD/JPY meskipun The Fed tetap hawkish.

Tak ketinggalan, aset safe haven seperti XAU/USD (Emas). Emas biasanya bersinar ketika suku bunga riil rendah (suku bunga nominal dikurangi inflasi) dan ada ketidakpastian ekonomi. Jika komentar Goolsbee mengindikasikan The Fed akan menahan suku bunga lebih lama, ini bisa menjadi faktor penahan kenaikan Emas. Namun, emas juga mendapatkan dorongan dari ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi penurunan suku bunga di masa depan. Jadi, Emas bisa bergerak dua arah, tergantung mana sentimen yang lebih dominan. Jika kekhawatiran inflasi The Fed lebih kuat daripada ekspektasi perlambatan ekonomi, emas mungkin akan kesulitan naik signifikan.

Secara umum, sentimen pasar akan cenderung berhati-hati (cautious). Trader akan terus memantau data ekonomi dan komentar pejabat The Fed untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga. Ekspektasi penurunan suku bunga yang sempat menguat kini mulai terkoreksi, membuat volatilitas di pasar semakin tinggi.

Peluang untuk Trader

Dalam kondisi pasar yang seperti ini, dibutuhkan kejelian ekstra untuk menangkap peluang.

Pertama, perhatikan pasangan mata uang yang sensitif terhadap perbedaan suku bunga. EUR/USD dan GBP/USD bisa menjadi pilihan. Jika data inflasi AS yang akan datang menunjukkan tanda-tanda pendinginan yang lebih jelas, ini bisa membuka peluang beli (long) pada pasangan-pasangan ini. Sebaliknya, jika data inflasi kembali mengejutkan dengan kenaikan, sell (short) mungkin bisa dipertimbangkan. Perlu diingat, level teknikal kunci seperti level support dan resistance akan sangat membantu dalam menentukan titik masuk dan keluar yang tepat.

Kedua, perhatikan USD/JPY. Jika The Fed tetap pada pendiriannya untuk menahan suku bunga lebih lama, sementara Bank of Japan masih ragu-ragu, ini bisa memberikan potensi kenaikan pada USD/JPY. Namun, selalu waspada terhadap intervensi verbal atau aktual dari otoritas Jepang jika pelemahan Yen terlalu drastis. Level teknikal seperti area 150-152 untuk USD/JPY bisa menjadi area menarik untuk diamati, baik untuk potensi pantulan maupun breakout.

Ketiga, untuk XAU/USD (Emas), ketidakpastian seputar inflasi dan kebijakan The Fed menciptakan pergerakan yang bisa fluktuatif. Jika pasar mulai lebih khawatir tentang perlambatan ekonomi global daripada inflasi, emas mungkin akan menemukan pijakan untuk naik. Trader bisa mencari setup bullish di area support teknikal jika ada indikasi pembalikan tren. Sebaliknya, jika sentimen hawkish The Fed mendominasi, emas bisa saja mengalami koreksi lebih lanjut.

Yang perlu dicatat, setiap keputusan trading harus selalu dibarengi dengan manajemen risiko yang baik. Pasang stop loss yang ketat, karena sentimen pasar bisa berubah dengan cepat seiring munculnya berita baru. Jangan pernah mengambil risiko lebih dari yang Anda siap untuk kehilangan.

Kesimpulan

Pernyataan Goolsbee ini mengingatkan kita bahwa perang melawan inflasi belum sepenuhnya dimenangkan oleh The Fed. Meskipun ada beberapa kabar baik, terutama dari pasar tenaga kerja dan harapan meredanya dampak tarif, inflasi jasa yang membandel dan data CPI yang bercampur aduk membuat bank sentral AS ini harus tetap waspada.

Jadi, kita sebagai trader harus siap dengan skenario The Fed yang mungkin menunda penurunan suku bunga lebih lama dari yang diperkirakan banyak orang. Ini berarti volatilitas pasar kemungkinan akan tetap tinggi, dan pergerakan Dolar AS akan terus menjadi fokus utama.

Ke depan, fokus utama pasar akan tetap pada data inflasi, data pasar tenaga kerja, dan tentu saja, pidato-pidato dari pejabat The Fed lainnya. Kuncinya adalah tetap terinformasi, bersabar, dan selalu disiplin dalam menjalankan strategi trading yang telah Anda tetapkan. Jangan terbawa euforia atau kepanikan, tapi jadikan setiap informasi sebagai bahan analisis untuk membuat keputusan yang cerdas.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`