Siap-siap Kaget! Fed Masih Punya Amunisi 75 Bps Lagi, Pasar Ucapkan "OMG!"

Siap-siap Kaget! Fed Masih Punya Amunisi 75 Bps Lagi, Pasar Ucapkan "OMG!"

Siap-siap Kaget! Fed Masih Punya Amunisi 75 Bps Lagi, Pasar Ucapkan "OMG!"

Para trader forex dan komoditas di Indonesia, mari kita tarik napas sejenak dan perhatikan baik-baik. Baru saja, kabar dari salah satu petinggi The Fed, Mary Daly, bikin jantung pasar berdebar kencang. Pernyataannya yang bilang kalau The Fed masih punya "kira-kira 75 basis points lagi" untuk mencapai suku bunga netral, langsung jadi buah bibir. Ini bukan sekadar angka, ini adalah sinyal kuat yang bisa mengubah arah pergerakan aset-aset kesayangan kita. Kenapa? Karena ini membuka kemungkinan kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari yang sebelumnya diprediksi banyak orang.

Apa yang Terjadi?

Jadi, begini ceritanya. Di tengah berbagai spekulasi mengenai laju kenaikan suku bunga The Fed, seorang pejabat penting dari bank sentral Amerika Serikat, yaitu Presiden Federal Reserve San Francisco, Mary Daly, memberikan pandangan yang cukup gamblang. Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan bahwa saat ini The Fed diperkirakan masih perlu menaikkan suku bunga acuan sebanyak kurang lebih 75 basis points (bps) lagi untuk mencapai level yang dianggap "netral". Apa sih maksudnya "netral" ini?

Simpelnya, suku bunga netral itu adalah titik di mana suku bunga tidak lagi mendorong atau menahan ekonomi. Jadi, kalau suku bunga di bawah netral, itu ibarat pedal gas diinjak lebih dalam, ekonominya akan dipacu. Sebaliknya, kalau di atas netral, itu seperti ngerem, ekonomi akan diperlambat. Nah, pernyataan Daly ini menyiratkan bahwa The Fed masih melihat ada ruang untuk menginjak pedal rem, atau dengan kata lain, menaikkan suku bunga lagi untuk mendinginkan ekonomi yang dinilai masih terlalu panas.

Lebih lanjut, Daly juga menyinggung soal kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Ia berkomentar bahwa "tidak ada rekrutmen, tidak ada PHK (no hiring, no firing) membuat ekonomi sedikit rentan." Pernyataan ini menarik. Di satu sisi, pasar tenaga kerja yang ketat, di mana tidak banyak orang dipecat dan banyak perusahaan masih merekrut, biasanya dianggap positif. Namun, Daly melihatnya sebagai tanda kerentanan. Kenapa? Mungkin karena pasar tenaga kerja yang terlalu panas bisa memicu inflasi yang lebih tinggi. Jika perusahaan terus-menerus kesulitan mencari karyawan, mereka mungkin akan terpaksa menaikkan gaji untuk menarik tenaga kerja baru, dan kenaikan biaya tenaga kerja ini bisa diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga yang lebih mahal. Ini adalah siklus yang ingin dicegah oleh The Fed melalui kenaikan suku bunga.

Kontekstualisasinya begini: Amerika Serikat, seperti banyak negara lain di dunia, sedang berjuang melawan inflasi yang tinggi. The Fed telah berulang kali menaikkan suku bunga sejak awal tahun lalu untuk mendinginkan ekonomi dan mengendalikan harga. Namun, seiring dengan kenaikan suku bunga, ada kekhawatiran bahwa The Fed bisa mendorong ekonomi ke jurang resesi jika kenaikannya terlalu agresif. Pernyataan Daly ini menjadi penting karena ia memberikan gambaran langsung dari salah satu pembuat kebijakan The Fed tentang seberapa jauh lagi mereka siap melangkah. Angka 75 bps ini perlu dicatat karena sebelumnya, ekspektasi pasar sudah mulai bergeser ke arah kenaikan yang lebih kecil.

Dampak ke Market

Sekarang, mari kita bedah dampaknya ke berbagai aset yang kita pantau setiap hari.

Dolar AS (USD): Kabar ini jelas menjadi angin segar bagi USD. Jika The Fed masih perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut, itu artinya imbal hasil obligasi AS, terutama surat utang pemerintah (US Treasury), akan cenderung naik. Imbal hasil yang lebih tinggi membuat aset berbasis USD lebih menarik bagi investor global yang mencari keuntungan dari bunga. Akibatnya, permintaan terhadap USD bisa meningkat, mendorong penguatan mata uang ini. Pasangan seperti EUR/USD dan GBP/USD bisa saja melanjutkan tren penurunannya jika dolar AS terus menguat.

Euro (EUR) dan Pound Sterling (GBP): Sebaliknya, mata uang seperti Euro dan Pound Sterling bisa menghadapi tekanan. Kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif dibandingkan dengan Bank Sentral Eropa (ECB) atau Bank of England (BoE) bisa membuat perbedaan imbal hasil semakin lebar. Investor akan cenderung memindahkan dananya ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, yaitu yang berdenominasi USD. Jadi, kita perlu waspada terhadap potensi pelemahan lebih lanjut pada EUR/USD dan GBP/USD.

Yen Jepang (JPY): Untuk USD/JPY, situasinya sedikit berbeda. Bank of Japan (BoJ) masih memegang teguh kebijakan suku bunga super rendahnya. Jika The Fed terus menaikkan suku bunga, perbedaan suku bunga antara AS dan Jepang akan semakin melebar. Ini secara teori akan mendorong USD/JPY naik. Namun, kadang-kadang, kekuatan USD secara umum juga bisa menjadi faktor dominan. Yang perlu dicatat, jika ada indikasi perlambatan ekonomi global yang signifikan akibat kenaikan suku bunga agresif, ini bisa memicu pergerakan safe-haven ke JPY, meskipun dalam skenario ini, USD yang menguat tampaknya lebih mungkin terjadi.

Emas (XAU/USD): Emas, sebagai aset safe-haven dan juga sebagai lindung nilai terhadap inflasi, punya hubungan yang rumit dengan kenaikan suku bunga. Di satu sisi, suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan bunga seperti emas. Ini bisa menekan harga emas. Namun, di sisi lain, jika kenaikan suku bunga ini sampai memicu kekhawatiran resesi ekonomi global yang lebih besar, emas sebagai safe-haven bisa saja mendapatkan dorongan permintaan. Sentimen pasar akan jadi penentu utama di sini.

Peluang untuk Trader

Nah, dengan adanya sinyal dari Daly ini, apa saja yang bisa kita perhatikan sebagai trader?

Pertama, perhatikan pasangan mata uang mayor yang berhadapan dengan USD. Pasangan seperti EUR/USD, GBP/USD, AUD/USD, dan NZD/USD berpotensi bergerak lebih volatil. Jika dolar AS terus menunjukkan penguatan, mencari peluang untuk sell (jual) pada pasangan-pasangan ini bisa menjadi strategi yang patut dipertimbangkan. Tentu, dengan manajemen risiko yang ketat ya.

Kedua, pantau pergerakan imbal hasil obligasi AS. Jika imbal hasil Treasury terus naik seiring dengan ekspektasi kenaikan suku bunga, ini bisa menjadi konfirmasi bahwa sentimen penguatan USD akan berlanjut. Level-level kunci pada imbal hasil ini bisa menjadi indikator tambahan untuk pergerakan forex.

Ketiga, untuk komoditas seperti emas (XAU/USD), ini menjadi area yang perlu dianalisis dengan lebih hati-hati. Jika narasi utamanya adalah inflasi yang terus ditekan oleh The Fed dan potensi perlambatan ekonomi, emas mungkin akan mengalami tekanan. Namun, jika pasar mulai mencemaskan resesi dan ketidakpastian ekonomi global, emas bisa menjadi pilihan safe-haven yang menarik. Perlu dicatat, level teknikal seperti support di kisaran $1800-1850 atau resistance di $1950-2000 perlu diperhatikan untuk melihat respons harga emas terhadap berita ini.

Keempat, yang paling penting adalah jangan pernah lupa manajemen risiko. Pergerakan pasar yang dipicu oleh berita kebijakan moneter bank sentral bisa sangat cepat dan tajam. Pasang stop loss yang sesuai, jangan memaksakan posisi jika Anda tidak yakin, dan selalu perhitungkan ukuran lot agar kerugian bisa terkendali.

Kesimpulan

Jadi, pernyataan Mary Daly ini adalah pengingat penting bahwa The Fed belum selesai "memadamkan api inflasi". Angka 75 bps yang ia sebutkan, meskipun masih berupa perkiraan, memberikan gambaran bahwa kebijakan pengetatan moneter mungkin akan berlanjut lebih lama atau bahkan lebih agresif dari yang sempat diharapkan beberapa pelaku pasar. Ini bisa menjadi katalisator bagi pergerakan aset-aset currency dan komoditas dalam beberapa waktu ke depan.

Kita perlu terus memantau rilis data ekonomi AS, pidato pejabat The Fed lainnya, serta bagaimana pasar mencerna informasi ini. Apakah sentimen resesi akan mendominasi, ataukah pasar akan fokus pada upaya The Fed dalam mengendalikan inflasi? Jawabannya akan sangat menentukan arah pergerakan harga. Yang perlu dicatat adalah, volatilitas adalah teman setia trader, dan berita seperti ini adalah saatnya kita ekstra fokus, menganalisis, dan bertindak dengan bijak.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`