Tarif Baru Trump Bikin Dolar AS Loyo, Aussie dan Kiwi Gigit Jari? Simak Analisis Lengkapnya!
Tarif Baru Trump Bikin Dolar AS Loyo, Aussie dan Kiwi Gigit Jari? Simak Analisis Lengkapnya!
Pagi ini, para trader di seluruh dunia mungkin sama-sama menengok chart dengan sedikit kebingungan. Berita dari Australia dan Selandia Baru yang menyebutkan mata uang mereka "bertahan kuat" (hold firm) di tengah pelemahan dolar AS, tampaknya memunculkan pertanyaan: ada apa sebenarnya? Apakah ini kesempatan emas untuk masuk pasar, atau justru sinyal bahaya yang tersembunyi? Nah, sebagai jurnalis finansial yang gemar ngobrolin market bareng Anda, mari kita bedah tuntas apa yang terjadi di balik berita singkat ini. Ini bukan sekadar cuaca ekonomi, tapi bisa jadi pengaruhi pundi-pundi Anda di forex dan komoditas!
Apa yang Terjadi?
Jadi, ceritanya begini. Di awal pekan ini, mata uang Dolar Australia (AUD) dan Dolar Selandia Baru (NZD) menunjukkan ketahanan yang cukup solid. Kok bisa? Ternyata, ini berbanding terbalik dengan kinerja Dolar AS (USD) yang justru tertekan. Akar masalahnya? Kabar angin seputar pengumuman tarif baru dari Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump.
Trump, yang memang dikenal dengan kebijakan "America First" dan gemar menggunakan tarif sebagai senjata dagang, dikabarkan mengeluarkan pengumuman soal tarif baru. Namun, di saat yang sama, Pengadilan Tertinggi Amerika Serikat (Supreme Court) justru membatalkan banyak tarif yang sebelumnya telah ia terapkan. Situasi ini menciptakan semacam kebingungan di pasar. Apakah tarif baru itu akan benar-benar diterapkan? Atau, langkah pembatalan tarif sebelumnya akan memperlambat eskalasi perang dagang?
Kebingungan inilah yang kemudian menyeret Dolar AS ke jurang pelemahan. Ketika ketidakpastian melanda, investor cenderung mencari aset yang lebih aman, atau justru menarik diri sementara dari aset berisiko. Nah, dalam kasus ini, lemahnya USD memberi ruang bagi mata uang lain, termasuk Aussie dan Kiwi, untuk bernafas lega dan menunjukkan performa yang relatif lebih baik.
Yang menarik, Dolar Australia, yang kerap dijuluki "Aussie", bahkan tercatat menguat signifikan sebesar 0.5% di hari Jumat sebelumnya. Penguatan ini menjadi bagian dari tren positif yang sudah berlangsung selama enam minggu berturut-turut. Ini menunjukkan bahwa sentimen terhadap Aussie sebenarnya sudah cukup kuat bahkan sebelum isu tarif baru ini muncul. Puncak tiga tahun yang disebutkan dalam excerpt berita kemungkinan merujuk pada level harga AUD yang sudah cukup impresif sebelum berita ini muncul.
Simpelnya, pasar sedang bereaksi terhadap dua hal: pertama, potensi ketegangan dagang yang mungkin kembali memanas akibat pengumuman tarif baru, dan kedua, keraguan atas kekuatan tarif-tarif tersebut akibat putusan pengadilan. Kedua faktor ini secara bersamaan menekan USD, memberikan ruang bagi AUD dan NZD untuk tidak ikut terpuruk.
Dampak ke Market
Lalu, bagaimana dampak dari kekacauan tarif Trump ini ke berbagai pasangan mata uang (currency pairs) yang sering kita perdagangkan?
EUR/USD: Dolar AS yang melemah biasanya berbanding lurus dengan penguatan EUR/USD. Jika USD tertekan, maka nilai Euro (EUR) secara relatif menjadi lebih kuat dibandingkan USD. Ini bisa menjadi peluang bagi trader yang memprediksi kelanjutan pelemahan USD.
GBP/USD: Sama seperti EUR/USD, pasangan ini juga cenderung akan bergerak naik jika Dolar AS melemah. Sterling (GBP) bisa saja mendapatkan angin segar, meskipun faktor internal Inggris seperti Brexit tetap menjadi penggerak utama. Namun, pelemahan USD secara umum memberikan bantalan tambahan bagi GBP.
USD/JPY: Nah, ini pasangan yang menarik. Dolar AS yang lemah biasanya berarti USD/JPY akan turun. Investor yang mencari safe haven mungkin akan beralih ke Yen Jepang (JPY) yang dianggap lebih stabil di saat ketidakpastian global. Jadi, pelemahan USD secara inheren akan menekan pasangan ini.
XAU/USD (Emas): Emas seringkali menjadi aset pelarian (safe haven) di saat ketidakpastian geopolitik dan ekonomi meningkat. Ketika Dolar AS melemah, emas yang dihargai dalam USD menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan bisa meningkat. Jadi, pelemahan USD akibat isu tarif ini bisa mendorong harga emas naik. Analogi sederhananya, saat banyak orang khawatir, mereka lebih memilih menabung di "brankas" emas daripada menaruh uang di "bank" yang sedang diragukan kekuatannya.
Secara umum, sentimen pasar menjadi sedikit "hati-hati" atau risk-off karena ketidakpastian kebijakan perdagangan. Investor mungkin akan lebih selektif dalam mengambil posisi dan memprioritaskan aset-aset yang lebih aman.
Peluang untuk Trader
Situasi seperti ini tentu saja menciptakan peluang, sekaligus risiko, bagi para trader.
Pertama, perhatikan pasangan mata uang non-USD. Dengan Dolar AS yang sedang di bawah tekanan, mata uang lain seperti AUD, NZD, EUR, dan GBP bisa menunjukkan tren penguatan yang lebih jelas. Trader bisa mencari setup buy pada pasangan seperti AUD/USD, NZD/USD, EUR/USD, atau GBP/USD jika melihat konfirmasi teknikal.
Kedua, pantau komoditas emas. Seperti yang dibahas sebelumnya, pelemahan USD seringkali beriringan dengan kenaikan harga emas. Jika Anda melihat tren naik yang stabil pada XAU/USD, ini bisa menjadi sinyal untuk mencari peluang buy. Namun, jangan lupa untuk selalu perhatikan level-level teknikal penting. Misalnya, jika emas berhasil menembus level resisten historis, ini bisa menjadi konfirmasi tren naik yang lebih kuat. Sebaliknya, jika emas gagal menembus resisten dan mulai berbalik arah, ini bisa jadi sinyal sell atau wait and see.
Yang perlu dicatat, volatilitas bisa saja meningkat tajam jika ada klarifikasi lebih lanjut dari pihak AS mengenai kebijakan tarif ini. Bisa jadi Trump tiba-tiba mengeluarkan tweet yang mengubah arah pasar dalam hitungan menit, atau Pengadilan Tertinggi memberikan putusan yang lebih tegas. Oleh karena itu, manajemen risiko adalah kunci utama. Gunakan stop loss dengan bijak dan jangan pernah meresikokan lebih dari yang Anda mampu kehilangan.
Ketiga, analisis sentimen pasar secara keseluruhan. Apakah isu tarif ini hanya akan menjadi riak sementara, atau justru awal dari perang dagang yang lebih besar? Jika eskalasi ini berlanjut, aset-aset berisiko seperti saham-saham teknologi atau mata uang negara berkembang bisa saja tertekan, sementara safe haven seperti emas dan Dolar Swiss (CHF) akan diuntungkan.
Kesimpulan
Pergerakan mata uang Australia dan Selandia Baru yang bertahan kuat di tengah pelemahan Dolar AS akibat isu tarif baru Trump, adalah pengingat bahwa pasar finansial selalu dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebijakan politik hingga keputusan pengadilan. Kebingungan di pasar terkait kebijakan tarif ini menciptakan ketidakpastian yang berdampak langsung pada nilai tukar Dolar AS.
Bagi kita para trader retail Indonesia, situasi ini membuka peluang untuk mengeksplorasi pasangan mata uang non-USD dan komoditas emas. Namun, penting untuk selalu mengombinasikan analisis fundamental dengan analisis teknikal. Perhatikan level-level kunci seperti support dan resisten, serta selalu utamakan manajemen risiko. Ingat, pasar bisa berubah secepat kilat, dan informasi yang akurat serta strategi yang matang adalah senjata terbaik kita.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.