Tarif Baru Trump, Fed Musalem: Dampaknya ke Dolar dan Emas, Siap-siap Trader!

Tarif Baru Trump, Fed Musalem: Dampaknya ke Dolar dan Emas, Siap-siap Trader!

Tarif Baru Trump, Fed Musalem: Dampaknya ke Dolar dan Emas, Siap-siap Trader!

Dengar-dengar ada isu soal tarif baru dari mantan Presiden Trump yang bakal dikenakan kalau dia menang lagi. Nah, yang bikin menarik, salah satu petinggi The Fed, Michelle Bowman (salah ketik, seharusnya Musalem, tapi mari kita pakai nama yang ada di kutipan), kasih pandangan yang bikin market sedikit lega. Katanya, kalau tarif itu diterapkan dengan struktur yang "satu-satu" (one-for-one), dampaknya ke prospek ekonomi Amerika Serikat nggak akan signifikan. Tapi, ada juga sinyal lain dari petinggi The Fed yang bikin penasaran: soal pertumbuhan produktivitas yang belum kelihatan dan fokus pada inflasi PCE, bukan CPI. Belum lagi komentar soal suku bunga riil Fed yang sudah di level netral atau bahkan di bawahnya. Kombinasi sinyal ini, menurut pandangan jurnalis finansial berpengalaman, bisa punya efek berantai ke mata uang dan komoditas. Yuk, kita kupas tuntas apa artinya ini buat trading kita!

Apa yang Terjadi?

Jadi begini ceritanya. Isu tarif baru ini muncul seiring dengan potensi kembalinya Donald Trump ke kursi kepresidenan Amerika Serikat. Trump dikenal dengan kebijakan proteksionismenya, termasuk pengenaan tarif bea masuk yang tinggi terhadap barang-barang impor, terutama dari Tiongkok, saat dia menjabat dulu. Tujuannya, tentu saja, untuk melindungi industri dalam negeri dan mengurangi defisit perdagangan. Namun, kebijakan ini seringkali memicu ketegangan perdagangan global dan menciptakan ketidakpastian di pasar finansial.

Nah, dalam konteks ini, komentar dari Anggota Dewan Gubernur The Fed, Michelle Musalem (sesuai kutipan berita), jadi sorotan utama. Dia menyatakan bahwa jika tarif baru tersebut diterapkan dengan struktur "satu-satu", di mana kenaikan tarif impor pada satu barang dibarengi dengan penurunan tarif pada barang lain secara proporsional, maka dampaknya terhadap gambaran ekonomi AS secara keseluruhan akan terbatas. Analogi sederhananya, seperti menukar koper pakaian lama dengan yang baru, kalau jumlah dan beratnya sama, nggak akan bikin berat bagasi kita berubah drastis. Dengan kata lain, kebijakan ini mungkin lebih bersifat kosmetik daripada fundamental dalam mengubah jalannya ekonomi AS.

Menariknya, di tengah komentar soal tarif ini, Musalem juga melontarkan pandangan lain yang tak kalah penting. Dia mengaku belum melihat adanya lonjakan pertumbuhan produktivitas dalam data makroekonomi AS saat ini. Pertumbuhan produktivitas ini kan ibarat mesin pendorong ekonomi yang membuat produksi lebih efisien dan berpotensi meningkatkan standar hidup. Kalau ini belum terlihat, berarti tantangan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan mungkin lebih besar dari yang dibayangkan.

Selain itu, Musalem menekankan fokusnya pada data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) dibandingkan dengan CPI (Consumer Price Index). Ini penting, karena The Fed secara resmi menggunakan PCE sebagai tolok ukur utama inflasi mereka. Perbedaan antara keduanya bisa signifikan. PCE cenderung mencerminkan pengeluaran rumah tangga secara lebih luas, termasuk perubahan pola konsumsi, sementara CPI lebih fokus pada keranjang barang dan jasa yang umum dibeli konsumen. Jadi, kalau inflasi PCE bergerak berbeda dengan CPI, itu bisa mempengaruhi persepsi The Fed tentang inflasi dan akhirnya kebijakan suku bunga mereka.

Terakhir, tapi tak kalah krusial, Musalem juga menyebutkan bahwa suku bunga riil The Fed saat ini berada di level yang sama dengan atau bahkan di bawah tingkat suku bunga netral. Suku bunga netral adalah tingkat suku bunga hipotetis yang diperkirakan tidak akan mempercepat atau memperlambat ekonomi. Jika suku bunga riil sudah di level ini, itu berarti kebijakan moneter The Fed sudah tidak lagi ketat untuk mengendalikan inflasi, atau bahkan mulai bersifat akomodatif untuk mendukung pertumbuhan. Ini adalah sinyal penting bagi pasar yang selama ini was-was dengan kebijakan pengetatan moneter.

Dampak ke Market

Nah, gabungan sinyal dari The Fed Musalem ini punya potensi menciptakan gelombang di pasar keuangan, terutama di pasar mata uang dan komoditas.

Pertama, soal Dolar AS (USD). Pernyataan bahwa tarif baru Trump tidak akan berdampak signifikan jika strukturnya proporsional bisa sedikit menenangkan pasar yang sempat khawatir akan eskalasi perang dagang. Ini cenderung membuat Dolar AS tidak tertekan terlalu dalam. Namun, ada nuansa. Jika pasar melihat bahwa "risiko perang dagang" telah berkurang, itu bisa mengurangi permintaan terhadap aset safe-haven seperti USD, terutama jika sentimen risiko global membaik.

Namun, perhatian para trader harus terbagi ke sinyal lain. Jika Fed Musalem menekankan inflasi PCE dan suku bunga riil sudah di level netral, ini bisa mengindikasikan The Fed mungkin akan lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga lagi, atau bahkan bersiap untuk menurunkan jika kondisi ekonomi memungkinkan. Suku bunga yang lebih rendah atau potensi penurunan suku bunga biasanya kurang menarik bagi Dolar AS, karena mengurangi daya tarik aset berdenominasi USD bagi investor asing yang mencari imbal hasil lebih tinggi. Jadi, Dolar AS bisa bergerak dua arah: sedikit terangkat oleh meredanya ketegangan tarif, tapi tertekan oleh ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar.

Untuk EUR/USD, jika Dolar AS melemah, pasangan ini berpotensi menguat. Pelaku pasar akan membandingkan prospek ekonomi dan kebijakan moneter zona Euro dengan AS. Jika Bank Sentral Eropa (ECB) terlihat lebih hawkish atau ada perbaikan data di Eropa, ini bisa menambah kekuatan EUR terhadap USD.

Kemudian untuk GBP/USD, nasibnya akan mirip dengan EUR/USD, namun juga dipengaruhi oleh perkembangan domestik Inggris. Jika Dolar AS melemah, GBP/USD bisa naik, namun volatilitas internal Inggris tetap menjadi faktor penting.

Lalu, USD/JPY. Pasangan ini seringkali mencerminkan selisih suku bunga antara AS dan Jepang, serta sentimen risiko global. Jika The Fed cenderung lebih longgar dan Bank of Japan (BoJ) masih mempertahankan kebijakan ultra-longgarnya, ini bisa menekan USD/JPY. Namun, jika ada sentimen risiko yang meningkat dan investor mencari aset safe-haven, JPY bisa menguat terhadap USD.

Yang paling menarik, mungkin adalah pergerakan XAU/USD (Emas). Emas seringkali dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Jika isu tarif Trump ini dianggap mereda, permintaan terhadap emas sebagai safe-haven bisa berkurang. Namun, jika pasar justru mulai mencemaskan ketidakpastian politik AS atau potensi perlambatan ekonomi akibat kurangnya pertumbuhan produktivitas, emas bisa kembali menguat. Selain itu, jika The Fed benar-benar mulai mengisyaratkan pelonggaran kebijakan moneter (karena suku bunga riil sudah di level netral), ini biasanya menjadi sentimen bullish untuk emas, karena menurunkan biaya peluang memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil.

Peluang untuk Trader

Dengan adanya informasi ini, ada beberapa area yang perlu dicermati oleh para trader:

Pertama, perhatikan EUR/USD dan GBP/USD. Sinyal The Fed yang cenderung kurang hawkish bisa menjadi katalis untuk kenaikan pada pasangan ini, terutama jika ada berita positif dari zona Euro atau Inggris. Level teknikal yang perlu diperhatikan adalah resistance di area 1.0850-1.0900 untuk EUR/USD dan 1.2700-1.2750 untuk GBP/USD sebagai area potensi breakout jika sentimen bullish menguat. Sebaliknya, jika Dolar AS kembali menguat karena sentimen risiko global, level support di 1.0780-1.0800 untuk EUR/USD dan 1.2600-1.2650 untuk GBP/USD bisa menjadi area pantulan.

Kedua, XAU/USD (Emas) layak mendapatkan perhatian khusus. Jika The Fed benar-benar memberi sinyal akhir dari siklus kenaikan suku bunga atau bahkan potensi penurunan di masa depan, ini bisa mendorong emas ke level yang lebih tinggi. Target kenaikan potensial bisa menguji area $2350-$2400 per ons. Perlu dicatat, ada level support kuat di sekitar $2280-$2300 yang jika ditembus bisa menandakan koreksi lebih dalam. Volatilitas akan menjadi kawan sekaligus lawan, jadi manajemen risiko sangat krusial di sini.

Ketiga, USD/JPY perlu dicermati hubungannya dengan selisih suku bunga dan sentimen risiko. Jika ada perkembangan yang menunjukkan BoJ akan segera mengubah kebijakan moneternya yang sangat longgar, ini bisa menjadi game changer. Namun, untuk saat ini, jika The Fed condong ke arah pelonggaran, ini berpotensi menekan USD/JPY. Level support penting di 150.00 perlu dipantau. Jika tembus, potensi penurunan lebih lanjut bisa terjadi.

Yang perlu dicatat adalah bahwa pasar seringkali bereaksi terhadap ekspektasi. Jadi, bukan hanya apa yang dikatakan oleh petinggi The Fed, tapi bagaimana pasar menginterpretasikannya dan mengantisipasi langkah The Fed selanjutnya. Pernyataan mengenai pertumbuhan produktivitas yang rendah bisa menjadi kekhawatiran jangka panjang yang membebani Dolar AS.

Kesimpulan

Jadi, dari pernyataan Anggota Dewan Gubernur The Fed, Michelle Musalem, kita mendapatkan beberapa "kepingan puzzle" yang penting. Isu tarif baru Trump yang tampaknya tidak akan jadi ancaman besar jika diterapkan secara proporsional, memberikan sedikit kelegaan. Namun, di balik itu, ada sinyal yang lebih halus namun berpotensi berdampak jangka panjang.

Kurangnya data pertumbuhan produktivitas dan fokus pada inflasi PCE, ditambah dengan suku bunga riil The Fed yang sudah di level netral atau bahkan di bawahnya, semuanya mengarah pada kemungkinan The Fed akan lebih berhati-hati dalam kebijakan moneter mereka. Ini bisa berarti akhir dari era kenaikan suku bunga yang agresif dan bahkan potensi pembalikan arah menuju pelonggaran di masa mendatang.

Bagi kita para trader, ini adalah saatnya untuk tetap waspada dan strategis. Pergerakan Dolar AS bisa menjadi dua arah, namun sinyal dari The Fed cenderung menciptakan peluang di pasangan mata uang seperti EUR/USD dan GBP/USD, serta komoditas emas. Penting untuk selalu memantau berita ekonomi global, data inflasi, dan tentu saja, pernyataan-pernyataan dari para pembuat kebijakan The Fed. Jangan lupa, manajemen risiko adalah kunci utama dalam setiap pergerakan pasar yang dinamis ini.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`