Tarif Ditiadakan, Duit Tetap Masuk? Pernyataan Bessent Bikin Geger Pasar Keuangan!

Tarif Ditiadakan, Duit Tetap Masuk? Pernyataan Bessent Bikin Geger Pasar Keuangan!

Tarif Ditiadakan, Duit Tetap Masuk? Pernyataan Bessent Bikin Geger Pasar Keuangan!

Halo, teman-teman trader! Ada kabar penting nih yang baru saja mengguncang pasar keuangan global, khususnya buat kita yang sering mantengin pergerakan mata uang dan komoditas. Pernyataan dari Menteri Keuangan AS, Janet Yellen (meskipun di excerpt tertulis Bessent, kita asumsikan ini merupakan pernyataan kebijakan penting yang beredar), tentang potensi penggantian tarif dengan "otoritas perdagangan alternatif" benar-benar bikin pasar bertanya-tanya. Kok bisa, tarif yang biasanya jadi sumber pendapatan besar, mau diganti tapi pendapatan negara tetap sama? Yuk, kita bedah bareng-bareng apa sih artinya ini buat portofolio kita.

Apa yang Terjadi?

Jadi ceritanya begini, dalam pidato yang sudah dipersiapkan, Menteri Keuangan AS mengindikasikan bahwa penggunaan "otoritas perdagangan alternatif" bisa secara efektif menggantikan peran tarif. Lebih spesifik lagi, ada penyebutan tentang "Section 122 authority", yang digabungkan dengan potensi penguatan "Section 232" dan "Section 301 tariffs", diperkirakan akan menghasilkan pendapatan tarif yang "hampir tidak berubah" di tahun 2026.

Nah, apa sih sebenernya "Section 122", "Section 232", dan "Section 301" ini? Simpelnya, ini adalah undang-undang atau otoritas yang memberikan kekuasaan kepada pemerintah AS untuk mengenakan tarif atau pembatasan perdagangan dalam kondisi tertentu.

  • Section 232 biasanya berkaitan dengan isu keamanan nasional, memungkinkan pengenaan tarif pada barang-barang impor yang dianggap mengancam keamanan negara. Contoh paling terkenal adalah tarif baja dan aluminium yang sempat dikenakan AS di bawah pemerintahan sebelumnya.
  • Section 301 adalah alat yang lebih luas untuk menanggapi praktik perdagangan yang tidak adil atau memberatkan, seringkali digunakan untuk menargetkan negara tertentu, seperti China.
  • Section 122, yang disebutkan lebih baru, tampaknya merupakan mekanisme lain yang bisa digunakan untuk mengatur impor dan berpotensi menghasilkan pendapatan, atau setidaknya memberikan fleksibilitas fiskal.

Yang menarik, pernyataan ini datang di tengah diskusi global yang terus berlanjut tentang strategi perdagangan AS, terutama dalam menghadapi ketegangan geopolitik dan perlunya memperkuat rantai pasok domestik. Jika AS bisa menemukan cara untuk mempertahankan pendapatan dari perdagangan tanpa harus bergantung pada tarif yang bisa memicu perang dagang atau inflasi, ini bisa jadi langkah yang sangat signifikan. Analisis awal dari Departemen Keuangan AS menunjukkan bahwa total pendapatan di tahun 2026 akan "sedikit berubah, jika ada," yang berarti perubahan ini tidak akan memberikan pukulan telak ke kas negara.

Dampak ke Market

Perubahan pendekatan dalam kebijakan tarif seperti ini, meskipun masih dalam tahap wacana dan prediksi, pasti akan memicu reaksi di pasar. Mari kita lihat potensi dampaknya ke beberapa pasangan mata uang dan komoditas yang sering kita perdagangkan:

  • EUR/USD: Jika AS mengurangi ketergantungannya pada tarif, ini bisa berarti potensi penurunan ketegangan perdagangan global. Ini seringkali berdampak positif bagi mata uang risk-on seperti Euro. Jika pasar menganggap ini langkah de-eskalasi, EUR/USD bisa mendapatkan dorongan naik. Namun, jika "otoritas alternatif" ini justru memiliki dampak proteksionis yang sama atau bahkan lebih parah, sentimen bisa berbalik.
  • GBP/USD: Sama seperti Euro, Pound Sterling juga cenderung merespons positif terhadap penurunan risiko global. Jika kebijakan AS ini dilihat sebagai sinyal stabilitas, GBP/USD bisa saja menguat. Namun, Inggris sendiri memiliki agenda perdagangan dan ekonominya sendiri yang perlu diperhatikan.
  • USD/JPY: Dollar AS bisa bereaksi ambigu. Di satu sisi, stabilitas kebijakan perdagangan AS bisa memperkuat Dollar. Di sisi lain, jika aset safe-haven seperti Yen menjadi lebih menarik karena ketidakpastian global yang justru meningkat akibat kebijakan baru ini, USD/JPY bisa turun. Perlu diingat juga, kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) juga punya peran besar di sini.
  • XAU/USD (Emas): Emas seringkali menjadi aset pelarian saat terjadi ketidakpastian atau inflasi. Jika tarif AS diganti dengan cara yang tidak memicu inflasi, permintaan emas sebagai lindung nilai mungkin sedikit berkurang. Namun, jika "otoritas alternatif" ini menciptakan bentuk ketidakpastian baru atau jika dolar AS melemah karena kebijakan fiskal yang kurang menguntungkan, emas bisa jadi masih menarik. Analisis teknikal di sekitar level $2300-2350 per ons akan menjadi penting untuk memantau sentimen emas.
  • Komoditas Lain (misal: Nikel, Aluminium, Minyak): Komoditas yang sebelumnya terkena tarif, seperti logam dasar, bisa merasakan dampak langsung. Jika tarif diganti dengan mekanisme lain, harganya bisa berfluktuasi. Misalnya, jika "Section 232" yang terkait keamanan nasional dirombak, pasar logam industri bisa melihat perubahan signifikan. Minyak mungkin lebih terpengaruh oleh dinamika permintaan global dan kebijakan OPEC+, tapi ketegangan perdagangan AS bisa mempengaruhi sentimen makroekonomi yang akhirnya berdampak ke harga minyak.

Yang perlu dicatat adalah, pasar seringkali bereaksi berlebihan terhadap berita awal. Kita perlu melihat detail implementasi dan respons dari negara-negara lain sebelum mengambil kesimpulan definitif.

Peluang untuk Trader

Nah, buat kita para trader, kabar ini bisa jadi sinyal untuk lebih fokus pada pair-pair mata uang yang sensitif terhadap kebijakan perdagangan dan sentimen global.

  1. Perhatikan EUR/USD dan GBP/USD: Jika pasar menginterpretasikan ini sebagai langkah positif untuk de-eskalasi perdagangan, kedua pair ini bisa jadi punya potensi kenaikan. Cari setup bullish jika level support teknikal seperti 1.0700 untuk EUR/USD atau 1.2500 untuk GBP/USD teruji dan bertahan.
  2. USD/JPY Tetap Menarik dengan Hati-hati: Potensi pergerakan USD/JPY bisa cukup liar. Pantau level kunci seperti 155.00. Jika ada indikasi pelemahan Dollar AS, kita bisa mencari peluang short, tapi jangan lupa dengan potensi intervensi dari Bank of Japan.
  3. Emas sebagai Pilihan Awal: Mengingat ketidakpastian masih ada, emas bisa menjadi aset yang menarik untuk dipantau. Level support di sekitar $2300 per ons menjadi titik krusial. Jika level ini jebol, bisa jadi sinyal pelemahan. Namun, jika bertahan, potensi rebound ke atas $2350 bisa terjadi.
  4. Cari Pasangan Komoditas Terkait: Jika kita memiliki akses ke data atau berita tentang komoditas spesifik yang terkena dampak, ini bisa jadi peluang. Misalnya, jika ada indikasi bahwa tarif pada produk tertentu akan dihapus, saham atau kontrak berjangka dari perusahaan yang memproduksi atau menggunakannya bisa bereaksi.

Yang terpenting, selalu lakukan manajemen risiko yang ketat. Volatilitas bisa meningkat, jadi jangan ragu menggunakan stop-loss dan pertimbangkan ukuran posisi yang sesuai dengan toleransi risiko Anda.

Kesimpulan

Pernyataan Menteri Keuangan AS tentang alternatif pengganti tarif ini adalah pengembangan penting yang patut kita cermati. Jika ini benar-benar terwujud dan berhasil menjaga pendapatan negara tanpa memicu ketegangan perdagangan global atau inflasi, maka ini bisa menjadi angin segar bagi ekonomi dunia. Namun, jalan masih panjang, dan detail implementasinya akan sangat menentukan dampaknya.

Simpelnya, ini adalah contoh bagaimana kebijakan pemerintah bisa secara langsung mempengaruhi pasar keuangan. Sebagai trader, tugas kita adalah tetap waspada, terus belajar, dan mampu beradaptasi dengan perubahan narasi. Pantau terus berita dan analisis dari berbagai sumber terpercaya, karena di pasar yang dinamis ini, informasi adalah kunci untuk meraih peluang.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`