Tarif Ilegal Diputus Mahkamah Agung: Guncangan Terhadap Dolar dan Emas?

Tarif Ilegal Diputus Mahkamah Agung: Guncangan Terhadap Dolar dan Emas?

Tarif Ilegal Diputus Mahkamah Agung: Guncangan Terhadap Dolar dan Emas?

Jumat lalu, pasar finansial global seperti dikejutkan oleh sebuah keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang mungkin tidak banyak disadari dampaknya oleh trader retail di Indonesia. Namun, keputusan ini punya potensi besar mengoyak sedikit ketenangan yang sempat kita rasakan belakangan. Singkatnya, pengenaan tarif impor oleh Presiden AS dinyatakan ilegal. Nah, apa artinya ini buat portofolio trading kita? Mari kita bedah bersama.

Apa yang Terjadi?

Jadi begini ceritanya, pada hari Jumat lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat merilis keputusan yang sudah ditunggu-tunggu banyak pihak. Intinya, keputusan pengenaan tarif impor oleh Presiden, yang ternyata menggunakan undang-undang lama bernama International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) tahun 1977, dinyatakan ilegal. Keputusan ini muncul setelah Presiden menggelar konferensi pers dan mengeluarkan proklamasi untuk memberlakukan tarif umum sebesar 10% untuk barang-barang impor, dengan menggunakan dasar hukum yang kini diputuskan cacat.

Konteksnya, penggunaan IEEPA ini sebenarnya bukan hal baru untuk memberlakukan sanksi atau pembatasan perdagangan. Namun, kali ini, Mahkamah Agung melihat ada penggunaan yang melampaui batas kewenangan yang diatur dalam undang-undang tersebut. Bayangkan saja, undang-undang tahun 1977 itu dibuat di era yang sangat berbeda dengan kondisi ekonomi dan perdagangan global saat ini. Penggunaan pasal-pasal kuno untuk kebijakan ekonomi modern, apalagi yang dampaknya sangat luas, tentu memunculkan pertanyaan tentang legalitas dan kesesuaiannya.

Keputusan ini bukan sekadar "ya" atau "tidak" sederhana. Ini adalah cerminan dari pertarungan kewenangan antara eksekutif (Presiden) dan yudikatif (Mahkamah Agung), serta implikasinya terhadap kebijakan ekonomi yang memengaruhi perdagangan internasional. Secara historis, keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan eksekutif semacam ini bisa menimbulkan ketidakpastian. Ingat, kebijakan tarif sebelumnya, seperti yang diterapkan di masa pemerintahan Trump, sudah cukup membuat pasar bergejolak. Sekarang, muncul keputusan hukum yang membatalkan salah satu instrumen kebijakan tersebut.

Yang perlu dicatat, putusan ini spesifik mengenai penggunaan IEEPA untuk memberlakukan tarif tersebut. Artinya, ini tidak serta merta melarang pemerintah AS untuk mengenakan tarif melalui jalur hukum lain yang lebih sesuai. Namun, dampaknya pada sentimen pasar dan pandangan investor terhadap stabilitas kebijakan ekonomi AS tentu patut diperhitungkan. Ini seperti ada orang yang memanjat tembok pakai tangga yang salah, lalu tangga itu patah. Dia tidak bisa naik lagi lewat situ, tapi masih ada pintu atau jalan lain.

Dampak ke Market

Nah, lalu bagaimana dampaknya buat pasar yang kita pantau tiap hari? Pertama, mata uang Dolar AS (USD). Keputusan ini bisa menjadi sentimen negatif bagi dolar. Kenapa? Kebijakan tarif yang ilegal ini bisa dianggap sebagai langkah proteksionisme yang tidak stabil. Ketika kebijakan perdagangan suatu negara dianggap tidak pasti atau bertentangan dengan hukum, investor cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap aset negara tersebut. Ini bisa membuat dolar melemah terhadap mata uang utama lainnya.

Perhatikan pair-pair seperti EUR/USD dan GBP/USD. Jika dolar melemah, secara teori, kedua pair ini berpotensi menguat. Artinya, EUR/USD bisa naik menuju level resistance yang lebih tinggi, dan GBP/USD juga demikian. Ini seperti ketika ada rumor kurang sedap tentang satu produk, orang-orang beralih ke produk lain yang dianggap lebih aman. Dalam kasus ini, mata uang lain menjadi "produk yang lebih aman" dibandingkan dolar yang sedang dalam sorotan hukum.

Bagaimana dengan USD/JPY? Jika dolar melemah, USD/JPY kemungkinan besar akan turun, alias Yen menguat. Trader yang sudah terbiasa memantau korelasi, pasti tahu bahwa pelemahan dolar seringkali berbanding lurus dengan penguatan Yen, terutama di tengah kondisi ketidakpastian global.

Menariknya lagi, keputusan ini juga bisa berdampak pada komoditas emas (XAU/USD). Emas seringkali dianggap sebagai safe haven asset, atau aset pelarian di saat ketidakpastian ekonomi atau geopolitik meningkat. Jika keputusan ini menimbulkan ketidakpastian baru terhadap kebijakan ekonomi AS, atau jika investor mulai meragukan kekuatan dolar, mereka bisa kembali melirik emas sebagai tempat parkir dana yang aman. Jadi, XAU/USD berpotensi bergerak naik. Ini seperti saat ada berita buruk, orang-orang langsung cari tempat berlindung. Emas menjadi salah satu "tempat berlindung" itu.

Secara umum, sentimen pasar bisa menjadi lebih risk-off. Artinya, investor cenderung menghindari aset-aset berisiko dan mencari tempat yang lebih aman. Keputusan Mahkamah Agung ini, meskipun spesifik, bisa memicu kekhawatiran baru tentang stabilitas kebijakan AS, yang menjadi salah satu pilar utama perekonomian global.

Peluang untuk Trader

Oke, sekarang masuk ke bagian yang paling penting buat kita: peluang trading! Keputusan ini membuka beberapa potensi setup.

Pertama, fokus pada pair yang melibatkan Dolar AS. EUR/USD dan GBP/USD bisa menjadi fokus jika kita melihat pelemahan dolar berlanjut. Cari sinyal buy di pair-pair ini, terutama jika terjadi koreksi kecil yang bisa dianggap sebagai peluang masuk dengan risk-reward ratio yang baik. Level teknikal penting yang perlu diperhatikan adalah area support yang kuat di EUR/USD dan GBP/USD. Jika level-level ini berhasil ditahan, peluang kenaikan lebih lanjut akan semakin besar.

Kedua, USD/JPY. Jika dolar terus tertekan, maka setup untuk menjual USD/JPY, atau membeli JPY, bisa menjadi pilihan. Perhatikan level-level support kunci di USD/JPY. Jika tembus, ada potensi penurunan lebih lanjut. Ingat, Yen seringkali bergerak terbalik dengan dolar.

Ketiga, Emas (XAU/USD). Dengan potensi sentimen risk-off, emas bisa menjadi aset yang menarik. Cari peluang buy di XAU/USD, terutama jika terjadi pelemahan dolar yang signifikan dan kekhawatiran global meningkat. Level resistance sebelumnya yang berhasil ditembus bisa menjadi support baru, atau sebaliknya, level support yang bertahan bisa menjadi titik masuk yang menarik.

Namun, yang perlu diingat, volatilitas akan meningkat. Keputusan hukum yang berdampak pada kebijakan ekonomi seringkali memicu pergerakan harga yang tajam dan kadang sulit diprediksi. Oleh karena itu, manajemen risiko menjadi kunci utama. Gunakan stop-loss yang ketat dan jangan pernah merisikokan terlalu banyak modal pada satu transaksi. Sederhananya, jangan pasang semua telur dalam satu keranjang.

Kesimpulan

Keputusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan ilegalitas pengenaan tarif impor melalui IEEPA ini adalah sebuah peristiwa yang patut mendapat perhatian serius dari para trader. Ini bukan sekadar berita kecil, tapi sebuah dinamika hukum yang berpotensi menggoyahkan sentimen pasar terhadap Dolar AS dan aset-aset terkait.

Kita perlu bersiap untuk volatilitas yang meningkat di pasar forex, terutama pada pasangan mata uang utama yang melibatkan USD. Selain itu, emas juga berpotensi menjadi primadona kembali sebagai aset pelarian. Bagi trader retail di Indonesia, memahami akar masalah dan potensi dampaknya adalah kunci untuk mengambil keputusan yang lebih cerdas. Tetap waspada, pantau terus berita fundamental, dan yang terpenting, kelola risiko Anda dengan bijak.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`