Tarif Trump Ditentang DPR AS, Kapan Dolar Cs Bakal Goyang?

Tarif Trump Ditentang DPR AS, Kapan Dolar Cs Bakal Goyang?

Tarif Trump Ditentang DPR AS, Kapan Dolar Cs Bakal Goyang?

Lagi-lagi, kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump soal tarif jadi sorotan tajam. Kali ini, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat, yang notabene dikuasai Partai Republik sendiri, justru ikut pasang badan menolak kenaikan tarif impor terhadap Kanada. Keputusan ini bukan sekadar adu argumen biasa antarpartai, tapi sebuah sinyal kuat yang bisa berdampak ke pasar keuangan global, termasuk nasib mata uang yang sering kita tradingkan. Nah, mari kita bedah lebih dalam apa sebenarnya yang terjadi dan bagaimana dampaknya buat kita para trader.

Apa yang Terjadi?

Begini ceritanya, Bapak/Ibu sekalian. Presiden Trump punya kebijakan luar negeri yang khas, yaitu menggunakan tarif impor sebagai alat negosiasi dan "senjata" untuk menekan negara lain agar mengikuti keinginannya. Salah satu sasaran empuknya adalah negara tetangga dekat Amerika, yaitu Kanada. Trump berargumen bahwa Kanada tidak berdagang secara adil dengan AS, sehingga ia memberlakukan tarif impor baru. Tujuannya, ya, jelas untuk memaksa Kanada melakukan penyesuaian.

Namun, apa yang terjadi kemudian cukup mengejutkan. Sebagian besar anggota DPR AS, dari kubu Demokrat maupun Republik, justru tidak sejalan dengan presidennya. Mereka menggelar voting dan mayoritas (219-211) menolak kenaikan tarif impor tersebut. Ini bukan cuma soal perbedaan pandangan politik, tapi lebih ke kekhawatiran dampak ekonomi yang ditimbulkan. Para anggota parlemen ini melihat bahwa perang dagang, sekecil apapun itu, bisa merusak hubungan dagang yang sudah terjalin lama dan akhirnya merugikan perekonomian AS sendiri.

Yang menarik dicatat, ini adalah salah satu momen langka di mana DPR yang dikuasai Partai Republik justru secara terbuka menentang agenda kebijakan luar negeri presidennya sendiri. Biasanya, partai yang berkuasa akan solid mendukung presidennya. Tapi kali ini, mereka merasa ada yang tidak beres. Mungkin mereka khawatir langkah ini akan memicu retaliasi dari Kanada, yang pada akhirnya juga akan memukul industri-industri di Amerika sendiri. Bayangkan saja, impor dari Kanada dihantam tarif, lalu Kanada membalas dengan mengenakan tarif pada produk-produk AS. Ujung-ujungnya, siapa yang rugi? Ya, kita semua.

Secara historis, Amerika Serikat memang kerap menggunakan tarif sebagai alat kebijakan. Sejak era Presiden sebelumnya, kebijakan proteksionisme ini mulai marak kembali. Namun, jarang sekali ada penolakan sekuat ini dari dalam tubuh partainya sendiri. Ini menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap dampak perang dagang sudah mulai merata, bahkan di kalangan politisi yang seharusnya menjadi pendukung setia presiden.

Dampak ke Market

Nah, pertanyaan besarnya, bagaimana ini berdampak ke pasar keuangan? Jawabannya, bisa jadi cukup signifikan, terutama untuk mata uang yang punya korelasi kuat dengan neraca perdagangan AS dan sentimen global.

Pertama, mari kita lihat USD (Dolar AS). Secara umum, ketidakpastian kebijakan dari pemerintah AS biasanya membuat Dolar cenderung melemah. Kenapa? Karena investor mulai ragu-ragu untuk menempatkan dananya di aset-aset berdenominasi Dolar AS jika ada potensi perang dagang yang memburuk. Dolar yang melemah ini bisa menjadi kabar baik buat beberapa currency pair, seperti EUR/USD dan GBP/USD. Kalau Dolar AS melemah, artinya Euro dan Poundsterling menguat terhadap Dolar. Jadi, EUR/USD bisa berpotensi naik, dan begitu pula GBP/USD.

Namun, cerita tidak berhenti di situ. Perlu dicatat bahwa penolakan DPR ini, meskipun signifikan, bisa jadi bersifat "simbolis". Artinya, belum tentu langsung mengubah kebijakan Trump. Jika Trump tetap bersikeras, maka ketegangan dagang bisa berlanjut. Dalam skenario seperti ini, Dolar AS mungkin tidak akan menguat.

Bagaimana dengan USD/JPY? Jepang, seperti Kanada, juga merupakan mitra dagang penting bagi AS. Jika tarif ini berlaku ke negara lain atau memicu eskalasi, Yen Jepang yang sering dianggap sebagai aset safe haven bisa jadi mulai dilirik investor ketika terjadi gejolak. Tapi, dalam konteks ini, penolakan DPR terhadap tarif Kanada bisa mengurangi kekhawatiran sesaat, sehingga USD/JPY mungkin tidak akan langsung turun drastis. Namun, tetap perlu dicermati bagaimana sikap Trump ke depannya.

Lalu, bagaimana dengan XAU/USD (Emas)? Emas seringkali bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS dan menjadi aset pelarian saat ketidakpastian global meningkat. Jika ketegangan dagang AS-Kanada ini mereda karena adanya penolakan dari DPR, maka permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven bisa berkurang, sehingga harga emas mungkin tidak akan mendapatkan dorongan bullish yang kuat. Sebaliknya, jika eskalasi tetap terjadi, emas bisa saja naik.

Secara umum, sentimen pasar akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana Trump merespons penolakan DPR ini. Jika ia merasa terdesak dan melunak, sentimen pasar bisa positif, Dolar menguat, dan aset-aset berisiko seperti saham bisa terdongkrak. Tapi jika ia melawan, maka kekhawatiran akan perang dagang bisa membayangi pasar kembali.

Peluang untuk Trader

Situasi seperti ini tentu membuka berbagai peluang sekaligus tantangan bagi kita para trader. Pergerakan mata uang yang volatil akibat sentimen politik dan ekonomi adalah lahan basah bagi mereka yang jeli membaca pasar.

Untuk pasangan mata uang EUR/USD dan GBP/USD, fokuslah pada pengumuman data ekonomi dari Zona Euro dan Inggris, serta bagaimana komentar dari Bank Sentral masing-masing. Jika Dolar AS terlihat melemah akibat ketidakpastian kebijakan Trump, pasangan-pasangan ini bisa menjadi kandidat untuk posisi long (beli). Tapi, jangan lupa perhatikan juga level-level teknikal penting. Misalnya, jika EUR/USD menembus resistance kunci di level 1.1200, ini bisa jadi sinyal untuk melanjutkan kenaikan. Sebaliknya, jika gagal menembus, potensi koreksi harus diwaspadai.

Pasangan USD/JPY juga menarik untuk diamati. Jika ketegangan global mereda, kita bisa melihat USD/JPY bergerak naik. Perhatikan level support krusial di area 108.50. Jika level ini bertahan, ada peluang untuk long. Namun, jika ada berita buruk yang memicu risk-off sentiment, Yen bisa menguat, dan USD/JPY bisa berbalik arah ke bawah.

Yang paling penting, selalu kelola risiko dengan baik. Volatilitas yang dipicu oleh berita seperti ini bisa sangat cepat berubah. Pasang stop-loss yang ketat dan jangan pernah mempertaruhkan terlalu banyak modal dalam satu transaksi. Gunakan rasio risk-reward yang menguntungkan.

Kesimpulan

Penolakan DPR AS terhadap tarif impor Kanada yang dikenakan oleh Presiden Trump adalah sebuah peristiwa penting yang menunjukkan adanya keretakan dalam dukungan partai terhadap kebijakan luar negeri presiden. Ini menjadi sinyal bahwa kekhawatiran terhadap dampak negatif perang dagang mulai merasuk ke tingkat pengambil kebijakan di AS sendiri.

Dampak ke pasar keuangan akan sangat bergantung pada respons Trump selanjutnya. Jika ia memilih untuk melunak, kita bisa melihat perbaikan sentimen pasar dan penguatan Dolar AS. Namun, jika ia tetap teguh pada pendiriannya, ketegangan dagang bisa meningkat, yang berpotensi melemahkan Dolar dan memicu pergerakan pada aset safe haven seperti emas dan Yen.

Bagi kita para trader, situasi ini memberikan peluang namun juga menuntut kewaspadaan tinggi. Pahami konteks berita, pantau perkembangan terbarunya, dan yang terpenting, selalu disiplin dalam mengelola risiko. Pergerakan pasar bisa sangat dinamis, jadi strategi yang fleksibel dan manajemen risiko yang baik adalah kunci kesuksesan.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`