Tentu, mari kita bedah excerpt berita ini menjadi artikel yang komprehensif untuk para trader retail Indonesia.

Tentu, mari kita bedah excerpt berita ini menjadi artikel yang komprehensif untuk para trader retail Indonesia.

Tentu, mari kita bedah excerpt berita ini menjadi artikel yang komprehensif untuk para trader retail Indonesia.

Perang Dagang Jilid Baru: Tarik Ulur Tarif Trump, Siap-siap Pasar Kebal atau Panik?

Dengar-dengar, ada isu baru lagi nih soal tarif impor yang digulirkan Presiden Trump. Buat kita para trader, ini bukan sekadar berita politik semata. Ini adalah percikan yang bisa memicu gejolak di pasar finansial global, mulai dari mata uang sampai komoditas. Nah, jadi pertanyaan besarnya sekarang: seberapa besar pasar bakal peduli sama kebijakan Trump kali ini? Apakah kita akan melihat aksi jual panik lagi, atau pasar sudah mulai kebal dengan manuver-manuvernya? Yuk, kita bedah lebih dalam.

Apa yang Terjadi?

Dulu, tiap kali ada wacana atau kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump, pasar langsung bereaksi. Ingat kan saat perang dagang dengan China memanas? Dolar AS sempat ngamuk, pasar saham berguguran, dan emas jadi primadona. Tapi belakangan ini, kok kayaknya pasar jadi lebih "santai" ya?

Andreas Steno Larsen, seorang analis yang cukup vokal di dunia finansial, bersama rekannya Mikkel Rosenvold, mencoba mengurai benang kusut ini. Mereka membahas bagaimana agenda tarif global ala Trump ini terus bergulir, meski seringkali terdengar seperti "gertakan" semata. Latar belakangnya jelas: Trump punya pandangan bahwa tarif adalah alat ampuh untuk menekan negara lain agar membuka pasar mereka untuk produk Amerika atau mengurangi defisit perdagangan. Namun, seringkali kebijakan ini justru menimbulkan ketidakpastian, yang notabene adalah musuh utama pasar finansial.

Yang menarik, dalam obrolan mereka, tidak hanya isu tarif Trump yang jadi sorotan. Mereka juga membahas beberapa faktor fundamental lain yang sedang menghantui pasar. Pertama, meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Ini bukan isu baru, tapi eskalasinya selalu bisa memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi, yang berdampak langsung ke inflasi dan pertumbuhan ekonomi global. Kedua, data ekonomi AS terkini. Data-data ini krusial karena akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Apakah The Fed akan tetap berhati-hati dengan kenaikan suku bunga, atau justru mulai melonggarkan dompet untuk stimulus?

Terakhir, mereka juga menyinggung sebuah rasio yang mungkin terdengar unik tapi punya bobot: rasio emas terhadap Bitcoin. Kenapa ini penting? Emas secara historis dianggap sebagai aset safe haven, tempat berlindung saat ketidakpastian melanda. Sementara Bitcoin, meski masih muda, seringkali dilihat sebagai aset "digital gold" atau aset berisiko yang sensitif terhadap likuiditas. Perbandingan keduanya bisa memberikan sinyal tentang sentimen investor secara luas: apakah mereka lebih memilih aset tradisional yang aman, atau masih berani ambil risiko di aset digital.

Dampak ke Market

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang paling ditunggu-tunggu: bagaimana isu tarif Trump dan faktor-faktor lain ini bakal menggerakkan pasar?

  • EUR/USD: Seiring ketegangan tarif yang meningkat, pasar cenderung mencari aset yang lebih aman. Dolar AS bisa menguat karena dianggap sebagai safe haven, sehingga EUR/USD berpotensi bergerak turun. Namun, jika dampak tarif ini dirasakan oleh ekonomi AS sendiri, misalnya penurunan ekspor atau terganggunya rantai pasok, itu bisa menekan dolar. Sebaliknya, jika negara-negara yang ditargetkan tarifnya merespons dengan kebijakan serupa, ini bisa memicu risk-off sentiment global, yang juga bisa menguntungkan dolar.

  • GBP/USD: Pound Sterling sedang berjuang dengan isu Brexit yang belum usai. Ditambah lagi dengan ketidakpastian dari kebijakan tarif AS, GBP/USD bisa menjadi sangat fluktuatif. Jika pasar global panik karena perang dagang, GBP yang dianggap lebih rentan bisa saja tertekan lebih dalam. Namun, jika perang dagang ini justru memicu kekhawatiran terhadap Euro (misalnya Jerman sebagai eksportir besar terimbas), GBP/USD bisa saja menguat relatif terhadap EUR/USD.

  • USD/JPY: Dolar Jepang (JPY) biasanya berfungsi sebagai safe haven yang kuat. Ketika ada ketidakpastian global, investor cenderung memindahkan dananya ke aset yang dianggap aman seperti yen. Jadi, jika isu tarif Trump memicu gelombang ketakutan di pasar, USD/JPY berpotensi turun. Namun, kalau sentimen pasar justru positif atau fokus bergeser ke data ekonomi AS yang kuat, dolar bisa saja mengungguli yen.

  • XAU/USD (Emas): Ini dia aset yang paling sering dikaitkan dengan ketidakpastian. Ketika ketegangan geopolitik (seperti isu Iran) atau perang dagang memuncak, permintaan terhadap emas biasanya melonjak. Analogi sederhananya, emas itu seperti "tabungan darurat" para investor. Jadi, jika isu tarif Trump membawa ketidakpastian, kita bisa melihat XAU/USD bergerak naik. Namun, perlu dicatat, jika suku bunga AS naik signifikan, ini bisa menjadi penahan kenaikan emas karena emas tidak memberikan bunga.

Selain itu, sentimen market secara keseluruhan akan sangat terpengaruh. Jika eskalasi tarif ini dianggap serius oleh pelaku pasar, kita akan melihat pergeseran dana dari aset berisiko (seperti saham dan mata uang negara berkembang) ke aset safe haven (seperti dolar, yen, dan emas). Sebaliknya, jika dianggap sebagai "kebisingan" yang akan mereda, pasar saham bisa tetap melaju kencang.

Peluang untuk Trader

Dengan segala potensi gejolak ini, tentu ada peluang yang bisa kita manfaatkan.

Pertama, perhatikan pair mata uang yang terkait langsung dengan negara-negara yang menjadi target atau sumber tarif. Jika AS menargetkan Uni Eropa, misalnya, EUR/USD akan menjadi fokus utama. Perhatikan reaksi pasar terhadap setiap pengumuman baru dari kedua belah pihak.

Kedua, pantau pergerakan emas secara ketat. Isu Iran dan perang dagang adalah "bahan bakar" potensial bagi emas. Cari setup trading yang mengindikasikan kenaikan, namun tetap waspada terhadap penolakan di level-level resistensi teknikal kunci.

Ketiga, jangan lupakan data ekonomi AS dan komentar The Fed. Ini adalah penyeimbang penting. Jika data AS terus membaik, itu bisa sedikit meredakan kekhawatiran dari perang dagang. Sebaliknya, data lemah akan memperbesar dampak negatif dari isu tarif. Perhatikan level-level support dan resistance teknikal seperti 1.1000 atau 1.1200 untuk EUR/USD, atau level di sekitar 1.2500 untuk GBP/USD. Untuk emas, level psikologis seperti $1800 per ounce akan menjadi perhatian.

Yang perlu dicatat, volatilitas kemungkinan akan meningkat. Ini bisa berarti peluang profit yang lebih besar, tapi juga risiko kerugian yang lebih tinggi. Penting sekali untuk menerapkan manajemen risiko yang ketat, menggunakan stop loss yang tepat, dan tidak terburu-buru membuka posisi. Simpelnya, jangan terbawa emosi pasar.

Kesimpulan

Jadi, apakah pasar akan peduli dengan tarif Trump kali ini? Jawabannya adalah "ya, tapi dengan catatan". Pasar sudah belajar bahwa retorika tarif Trump seringkali dibarengi dengan manuver negosiasi. Namun, eskalasi yang signifikan, terutama jika dikombinasikan dengan ketegangan geopolitik lainnya seperti di Iran, tetap bisa memicu aksi jual dan ketidakpastian.

Pergeseran ekspektasi suku bunga The Fed dan sinyal dari rasio emas-Bitcoin juga akan menjadi indikator penting untuk mengukur sentimen pasar secara keseluruhan. Sebagai trader retail, kita perlu tetap waspada, fleksibel, dan memiliki strategi yang matang. Jangan hanya terpaku pada satu berita, tapi lihat gambaran besarnya. Dengan analisis yang cermat dan manajemen risiko yang baik, kita bisa melewati badai pasar ini dengan lebih aman, bahkan mungkin meraih keuntungan.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`