Trump Kembali Ancam Perang Dagang: Yuan Ambruk, Dolar Menguat?

Trump Kembali Ancam Perang Dagang: Yuan Ambruk, Dolar Menguat?

Trump Kembali Ancam Perang Dagang: Yuan Ambruk, Dolar Menguat?

Sebuah pernyataan dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui platform media sosialnya kembali mengguncang pasar keuangan global. Trump menegaskan bahwa sebagai Presiden, ia tidak memerlukan persetujuan Kongres untuk memberlakukan tarif baru, dan mengklaim persetujuan tersebut telah diperoleh "dalam banyak bentuk, sejak lama." Lebih lanjut, ia merujuk pada keputusan Mahkamah Agung yang ia sebut "konyol dan buruk" sebagai penguat klaimnya. Pernyataan ini sontak memicu kekhawatiran akan potensi dimulainya kembali perang dagang yang bisa berdampak signifikan pada mata uang utama dunia, mulai dari Euro hingga Yuan.

Apa yang Terjadi?

Pernyataan Donald Trump ini bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan lanjutan dari retorika kebijakan perdagangan yang telah ia usung selama masa kepresidenannya. Ingatkah kita pada tahun 2018-2019? Saat itu, Trump gencar memberlakukan tarif impor terhadap berbagai negara, terutama Tiongkok, dengan dalih memperbaiki neraca perdagangan AS yang dianggap defisit. Langkah-langkah ini tidak hanya memicu aksi balasan dari negara-negara yang ditargetkan, tetapi juga menciptakan ketidakpastian ekonomi global yang luar biasa.

Nah, kali ini, Trump tampaknya kembali menggunakan isu tarif sebagai alat politik dan ekonomi. Klaim bahwa persetujuan Kongres sudah didapatkan "sejak lama" dan diperkuat oleh Mahkamah Agung, meskipun kontroversial, menunjukkan keseriusannya untuk memegang kendali penuh atas kebijakan tarif. Ini adalah sebuah pernyataan yang kuat, yang mengisyaratkan bahwa jika ia kembali menjabat, tarif bisa menjadi senjata utamanya dalam negosiasi perdagangan internasional.

Yang perlu dicatat adalah referensi Trump terhadap keputusan Mahkamah Agung. Keputusan yang ia sebut "konyol" ini kemungkinan besar merujuk pada kasus yang membatasi kekuasaan badan eksekutif dalam memberlakukan kebijakan tanpa persetujuan legislatif. Ironisnya, Trump menggunakan keputusan tersebut untuk membenarkan klaimnya bahwa ia tidak perlu kembali ke Kongres. Ini menunjukkan manuver politik yang cerdik, atau setidaknya interpretasi yang sangat liberal terhadap hukum.

Simpelnya, Trump sedang mengirimkan sinyal bahwa ia siap menggunakan kembali strategi tarif dengan kekuatan penuh, dan tidak akan terhalang oleh birokrasi legislatif. Ini adalah pukulan yang bisa membuat para pelaku pasar kembali waspada, karena pengalaman masa lalu menunjukkan volatilitas tinggi yang bisa timbul dari perang dagang.

Dampak ke Market

Pernyataan Trump ini seperti menyalakan kembali kompor yang tadinya hampir dingin. Dampaknya bisa sangat luas, dan kita bisa melihat beberapa pergerakan signifikan pada pasangan mata uang utama:

  • USD/CNY (Yuan Tiongkok): Ini adalah pasangan yang paling jelas terancam. Jika AS benar-benar memberlakukan tarif baru terhadap barang-barang Tiongkok, maka Yuan kemungkinan besar akan tertekan. Tiongkok bisa saja membalas dengan melemahkan nilai tukar Yuan-nya untuk membuat ekspor mereka lebih kompetitif, sehingga menyeimbangkan dampak tarif AS. Kita bisa melihat pelemahan Yuan yang cukup agresif, mungkin menuju level-level yang belum pernah dilihat dalam beberapa waktu terakhir.

  • EUR/USD (Euro vs Dolar AS): Dolar AS bisa mendapatkan keuntungan dari sentimen risk-off yang mungkin timbul. Dalam ketidakpastian global seperti ini, investor cenderung beralih ke aset yang dianggap aman, dan Dolar AS seringkali menjadi salah satu pilihan utama. Namun, jika perang dagang ini meluas dan memengaruhi ekonomi Eropa secara langsung, Euro bisa saja ikut melemah. Akan ada pertarungan antara sentimen safe-haven Dolar dan potensi dampak negatif perang dagang terhadap pertumbuhan ekonomi global, termasuk Eropa.

  • GBP/USD (Poundsterling vs Dolar AS): Situasi Inggris saat ini memang kompleks dengan isu Brexit yang masih membayangi. Namun, perang dagang AS-Tiongkok bisa memperburuk sentimen pasar secara global, yang pada akhirnya akan menekan Sterling. Jika mata uang safe-haven seperti Dolar menguat, Poundsterling, yang cenderung lebih sensitif terhadap sentimen risiko, bisa mengalami pelemahan lebih lanjut.

  • USD/JPY (Yen Jepang): Yen Jepang juga merupakan mata uang safe-haven. Dalam skenario ini, Yen bisa menguat bersama Dolar AS, meskipun mungkin tidak sekuat Dolar. Namun, jika dampak perang dagang ini menyebabkan perlambatan ekonomi global yang signifikan, permintaan terhadap aset berisiko akan semakin berkurang, dan hal ini bisa mendukung penguatan Yen. Perlu dicatat bahwa Jepang sendiri memiliki hubungan dagang yang erat dengan kedua negara adidaya ini, jadi dampaknya tidak sesederhana mengamati yen menguat saja.

  • XAU/USD (Emas): Emas, sebagai aset safe-haven klasik, seringkali bersinar terang ketika ketidakpastian global meningkat. Pernyataan Trump ini adalah "makanan" bagi para pembeli emas. Jika perang dagang benar-benar terjadi, kita bisa melihat lonjakan harga emas karena investor mencari tempat berlindung yang aman dari gejolak pasar mata uang dan saham. Level resistance emas yang penting akan menjadi target pantauan ketat.

Hubungan dengan kondisi ekonomi global saat ini adalah kunci. Ekonomi global masih dalam fase pemulihan yang rapuh pasca pandemi COVID-19, dengan inflasi yang masih menjadi perhatian di banyak negara dan suku bunga acuan yang masih tinggi. Perang dagang baru ini bisa menjadi "pukulan telak" yang memperlambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan inflasi (karena biaya impor naik), dan memicu volatilitas di pasar modal. Hal ini tentu akan membuat bank sentral di seluruh dunia semakin pusing dalam menentukan kebijakan moneter mereka.

Peluang untuk Trader

Nah, bagi kita para trader, situasi seperti ini memang menegangkan, tapi juga penuh peluang.

Pertama, perhatikan pasangan USD/CNY. Jika Anda melihat tren pelemahan Yuan yang berlanjut, ada potensi untuk mengambil posisi short (jual) terhadap Yuan. Namun, ini adalah pair yang cukup volatile dan dipengaruhi oleh kebijakan langsung dari kedua negara. Perlu kehati-hatian ekstra dan manajemen risiko yang ketat.

Kedua, emas (XAU/USD). Jika sentimen risk-off benar-benar menguasai pasar, emas bisa menjadi aset yang menarik untuk dibeli. Perhatikan level-level teknikal penting seperti area support di $1800 atau resistance di $2000. Jika harga emas menembus level resistance dengan volume yang kuat, ini bisa menjadi sinyal beli yang bagus. Sebaliknya, jika pasar justru merespons dengan optimisme yang tak terduga, emas bisa terkoreksi.

Ketiga, mata uang safe-haven lainnya seperti Yen Jepang (USD/JPY). Pergerakan USD/JPY bisa menjadi indikator sentimen pasar global. Jika pasangan ini turun (Yen menguat), itu menandakan kekhawatiran yang meningkat. Anda bisa mencari peluang short pada pair ini jika yakin Yen akan terus menguat. Namun, seperti yang disebutkan sebelumnya, Yen punya dinamikanya sendiri yang perlu diperhatikan.

Yang perlu dicatat adalah bahwa sentimen pasar bisa berubah dengan cepat. Pernyataan dari Trump bisa jadi hanya retorika, atau bisa jadi langkah awal dari kebijakan yang lebih agresif. Penting untuk terus memantau berita dan data ekonomi terbaru, serta jangan lupa untuk selalu menerapkan manajemen risiko. Stop loss yang ketat dan ukuran posisi yang sesuai dengan toleransi risiko Anda adalah kunci utama untuk bertahan di pasar yang bergejolak ini.

Kesimpulan

Pernyataan Donald Trump mengenai kekuasaannya atas tarif baru ini adalah sebuah pengingat bahwa isu perdagangan internasional masih menjadi salah satu faktor paling berpengaruh di pasar keuangan global. Pengalaman pahit perang dagang di masa lalu masih membekas, dan ancaman serupa bisa memicu kembali ketidakpastian dan volatilitas.

Kita perlu bersiap untuk kemungkinan adanya pergeseran aset dari mata uang yang berisiko ke aset yang lebih aman, seperti Dolar AS dan Emas. Pergerakan di pasar mata uang Tiongkok dan Amerika Serikat akan menjadi perhatian utama, diikuti oleh mata uang utama lainnya yang terkait erat dengan perdagangan global.

Yang terpenting bagi kita para trader adalah tetap waspada, terus belajar, dan yang paling utama, menjaga kedisiplinan dalam setiap transaksi. Pasar finansial selalu menawarkan peluang, namun hanya bagi mereka yang mampu mengelola risiko dengan baik dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kondisi.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`