Yuan Loyo di Tengah Pandemi dan Sentimen Ekonomi Global: Apa yang Harus Diwaspadai Trader?

Yuan Loyo di Tengah Pandemi dan Sentimen Ekonomi Global: Apa yang Harus Diwaspadai Trader?

Yuan Loyo di Tengah Pandemi dan Sentimen Ekonomi Global: Apa yang Harus Diwaspadai Trader?

Pergerakan mata uang memang selalu menarik untuk diikuti, apalagi jika melibatkan salah satu ekonomi terbesar di dunia seperti Tiongkok. Nah, baru-baru ini kita melihat adanya anomali yang cukup mencolok: Yuan Tiongkok (CNY) justru tergelincir terhadap Dolar AS (USD), padahal bank sentralnya, People's Bank of China (PBOC), sudah memberikan sinyal penguatan yang paling tegas dalam tiga tahun terakhir. Kok bisa? Ternyata ada cerita di baliknya yang penting banget buat kita para trader retail Indonesia perhatikan.

Apa yang Terjadi?

Jadi begini, di hari Rabu kemarin, pasar menyaksikan Yuan Tiongkok mengalami pelemahan. Ini agak kontras, lho, karena biasanya, sinyal penguatan harian dari PBOC itu kan ibarat "restu" buat mata uangnya terbang. Tapi kali ini, sinyal yang diberikan PBOC itu adalah yang paling kuat dalam tiga tahun terakhir, menunjukkan niat untuk menjaga stabilitas Yuan. Namun, fakta di lapangan berkata lain.

Apa yang membuat Yuan "bandel"? Jawabannya ada pada data inflasi Tiongkok yang dirilis pada bulan Januari. Data tersebut menunjukkan perlambatan pada harga konsumen (CPI) dan berlanjutnya deflasi di tingkat pabrik (PPI). Simpelnya, harga barang-barang di Tiongkok secara umum stagnan atau bahkan turun. Ini mengindikasikan bahwa permintaan di dalam negeri belum pulih sepenuhnya, dan ekonomi masih membutuhkan dorongan ekstra.

Ketika permintaan lemah, ini biasanya memberikan ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter. Dalam konteks ini, ekspektasi pasar justru mengarah pada kemungkinan adanya stimulus lebih lanjut dari PBOC, bukan pengetatan. Nah, ekspektasi pelonggaran inilah yang membebani Yuan. Kenapa? Karena kebijakan moneter yang longgar (seperti menurunkan suku bunga atau menyuntikkan likuiditas) cenderung membuat mata uang suatu negara menjadi kurang menarik bagi investor asing, yang kemudian bisa mendorong pelemahan.

Ditambah lagi, Tiongkok baru saja melewati periode liburan Imlek yang panjang. Biasanya, setelah liburan, ada lonjakan konsumsi. Namun, data inflasi yang melandai ini justru mengisyaratkan bahwa pemulihan pasca-liburan mungkin tidak sekuat yang diharapkan.

Dampak ke Market

Kondisi ini tentu saja tidak hanya berdampak pada Yuan itu sendiri, tapi juga merembet ke pasar global, terutama mata uang utama.

  • EUR/USD: Pelemahannya Yuan bisa memberikan sentimen negatif secara umum terhadap aset-aset berisiko. Dolar AS sendiri cenderung mendapatkan keuntungan dari statusnya sebagai safe haven ketika ada ketidakpastian ekonomi, jadi kita mungkin melihat EUR/USD cenderung turun. Trader perlu memantau apakah sentimen risk-off global ini akan lebih dominan daripada data ekonomi Eropa sendiri.
  • GBP/USD: Mirip dengan EUR/USD, Poundsterling juga rentan terhadap sentimen risk-off yang mungkin dipicu oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi Tiongkok. Jika Dolar AS menguat secara umum, GBP/USD kemungkinan akan tertekan.
  • USD/JPY: Di sini, ada korelasi yang menarik. Jika pelemahan Yuan memang mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman, Dolar AS bisa menguat terhadap Yen Jepang. Namun, perlu diingat bahwa Jepang juga punya masalah ekonomi domestik yang unik. Yang perlu dicatat, pergerakan USD/JPY juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) dan ekspektasi suku bunga di AS.
  • XAU/USD (Emas): Emas seringkali menjadi aset lindung nilai ketika terjadi ketidakpastian ekonomi atau inflasi yang tinggi. Namun, dalam kasus ini, perlambatan inflasi di Tiongkok bisa diartikan sebagai berkurangnya tekanan inflasi global. Jika Dolar AS menguat karena status safe haven-nya, ini bisa menekan harga emas. Trader harus jeli melihat apakah sentimen 'flight to safety' ke Dolar lebih kuat atau faktor inflasi global yang mereda menjadi penentu.

Secara keseluruhan, berita ini menambah lapisan kompleksitas pada kondisi ekonomi global yang memang sudah penuh dengan ketidakpastian. Kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi di Tiongkok bisa menjadi pemicu sentimen risk-off, yang berarti pelaku pasar akan cenderung menghindari aset-aset berisiko dan mencari tempat berlindung yang aman seperti Dolar AS atau bahkan obligasi pemerintah negara-negara maju.

Peluang untuk Trader

Nah, sebagai trader, kita harus melihat ini sebagai peluang, tapi tentu saja dengan hati-hati.

Pertama, perhatikan pasangan mata uang yang melibatkan Dolar AS (USD). Dengan adanya sentimen risk-off dan potensi penguatan Dolar, pasangan seperti EUR/USD, GBP/USD, dan AUD/USD bisa menunjukkan tren pelemahan. Trader bisa mencari setup untuk short (jual) pada pasangan-pasangan ini, namun pastikan untuk menunggu konfirmasi teknikal dan tidak asal masuk.

Kedua, pantau USD/CNY. Meskipun artikel ini fokus pada Yuan yang melemah terhadap Dolar, perlu juga diperhatikan bagaimana hubungan USD/CNY bergerak ke depan. Jika sinyal pelonggaran kebijakan dari PBOC benar-benar terjadi, ini bisa memberikan tekanan lebih lanjut pada Yuan. Namun, PBOC juga punya alat untuk mencegah pelemahan yang terlalu drastis.

Ketiga, perhatikan level teknikal kunci. Untuk EUR/USD, perhatikan level support penting seperti di kisaran 1.0700 atau 1.0650. Jika level ini ditembus, potensi penurunan lebih lanjut akan terbuka. Untuk GBP/USD, level support di sekitar 1.2500 atau bahkan 1.2450 patut dicermati. Sementara itu, untuk USD/JPY, kita perlu lihat apakah Dolar bisa menembus level resistance penting di atas 150.

Yang perlu dicatat, selalu gunakan manajemen risiko yang ketat. Jangan pernah menaruh semua telur dalam satu keranjang. Pasang stop-loss yang jelas dan pertimbangkan ukuran posisi yang sesuai dengan toleransi risiko Anda.

Kesimpulan

Pelemahan Yuan Tiongkok di tengah panduan bank sentral yang ketat ini adalah pengingat bahwa data ekonomi riil seringkali menjadi penggerak pasar yang lebih kuat daripada sekadar narasi atau panduan verbal. Perlambatan inflasi dan kekhawatiran tentang permintaan domestik di Tiongkok ini menyoroti tantangan yang dihadapi ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Ke depannya, pasar akan terus memantau langkah-langkah kebijakan selanjutnya dari PBOC, serta data-data ekonomi Tiongkok lainnya. Jika Tiongkok berhasil mendorong kembali permintaan domestiknya, ini bisa menjadi katalis positif bagi pasar global. Namun, jika tren perlambatan ini berlanjut, sentimen risk-off bisa semakin menguat, memberikan keuntungan bagi aset-aset safe haven seperti Dolar AS. Jadi, tetaplah waspada dan fleksibel dalam strategi trading Anda.


Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi trading.

WhatsApp
`